
Senja berjalan ke arah salah satu rak yang dia tuju tetapi senja melihat seorang perempuan sedang memilih pembalut akhirnya senja hanya pura-pura mencari barang lain saja.
Sambil menunggu si perempuan selesai memilih barangnya senja memutuskan membeli beberapa cemilan untuk prlantara penyeludupan pembalut yang dia beli.
Tengok kanan tengok kiri senja melihat keadaan sekelilingnya tampak aman senja bergegas ke rak pembalut.
Senja berpikir keras sungguh ini kali pertama dia membeli barang seperti ini.
"Oh astaga ini yang mana?" Gumam senja yang tampak mengambil lalu menaruh kembali pembalut yang dia liat.
"Selamat siang tuan." Sapa seorang karyawati mini market itu yang kebetulan lewat.
"Siang." Senja mundur beberapa langkah dia tampak malu-malu ketahuan berada di tempat semacam ini.
"Tuan pasti mau beli pembalut buat istrinya kan?" Karyawati itu tersenyum ramah.
Senja yang melihat pegawai itu tersenyum merasa malu dan harga dirinya di injak-injak pun hanya memasang muka datar dan menatap tajam pada pegawai berharap pegawai itu segera beranjak dari tempatnya berdiri.
"Tidak." Jawaban singkat dan ketus ucapan senja dia berlalu pergi dari tempat tadi meninggal kan pegawai tadi membuat pegawai perempuan itu memaki senja dalam hati.
"Apa aku harus membeli mini market ini lebih dahulu dan menyuruh mereka untuk keluar baru aku mengambil benda itu?" Gumam senja jengkel karena sejak tadi dia gagal mengambil benda itu.
Senja kembali melihat sekeliling nampak sepi dari arah kanan maupun kiri senja secepat kilat mengambil benda itu. Dia tentu gengsi bila ketahuan membeli barang seperti itu.
Saat senja berjalan ke kasir nampak beberapa antrian pembeli terpaksa senja pun ikut mengantri.
__ADS_1
Tak lama kemudian senja telah sampai di antrian paling depan dia menatap pintu keluar yang nampak ramai dan di belakangnya tampak ibu-ibu yang juga mengantri.
Senja seperti seorang yang akan menaruh racun di kopi temannya begitu lihai menutupi benda yang dia beli.
Saat pegawai kasir itu memberi kantung keresek belanjaan ke senja dia menatap ke pegawai itu dia terkejut saat tau yang menghitung belanjaannya pegawai tadi yang memergokinya.
Pegawai itu tampak tersenyum biasa karna hal yang wajar bila suami membeli keperluan istrinya namun berbeda menurut senja dia merasa di ejek oleh pegawai kasir itu.
Senja secepat mungkin pergi keluar dan berjalan menuju mobilnya dia membuka pintu mobilnya dan memberikan keresek belanjaan kepada Nara tanpa bicara sepatah kata pun.
"Kak kamu kenapa? Sudah aku bilang biar aku saja." Nara seperti tau apa yang terjadi di dalam mini market tadi.
"Ini sudah terjadi Sebaiknya kita cepat-cepat pulang sebelum kursi mobilku berubah warna." Senja masih mengingat senyuman yang dia anggap mengejek itu membuat dia marah sekaligus gengsi.
Setelah 40 menit perjalanan mobil yang di tumpangi mereka berdua telah sampai di villa milik senja selama perjalanan Nara dan senja belum bicara sejak dari mini market senja masih harus menenagkan diri dari fikiran di ejek pegawai mini market.
"Di kamar mana aku tidur?" Gumam Nara sambil melihat pintu-pintu di ruangan itu.
"Kamu tidur di samping kamarku." Senja tiba-tiba mengendong Nara.
"Ih kak Nara bisa jalan sendiri cepet turunkan Nara." Protes Nara pada senja dia langsung diam saat mendapat tatapan tajam senja.
Setelah menggendong Nara sampai kamar senja membaringkan Nara dengan hati-hati di kasur.
"Kak senja akhir-akhir ini sering melotot hati-hati loh kak takutnya mata kakak copot." Celoteh Nara sambil cemberut.
__ADS_1
"Kalo kamu nurut ya nggak." Senja duduk di pinggir ranjang Nara cukup lelah memang menggendong Nara menaiki tangga.
"Tapi aku bisa jalan sendiri yang di oprasi itu bukan kaki aku kak." Nara berceloteh sambil cemberut.
"Kalo kamu naik tangga terus bekas jahitannya lepas gimana?" Senja sedikit jengkel kalo Nara sudah mulai beraksi melawan perintahnya.
"Di jahit lagi lah." Jawaban enteng yang keluar dari mulut Nara membuat senja semangat membalas bertubi-tubi jawaban Nara.
"Emang kalo di jahit lagi terus selesai di jahit kamu naik tangga lalu sobek jahit lagi?"
"Nggak"
"Kamu mau memenuhi tubuhmu dengan benang jahit?"
"Nggak."
"Emang kamu pikir bagaimana suamimu nanti saat malam pertama melihat jahitan tebal yang di tubuhmu karena kamu ngeyel terus tubuhmu itu di jahit terus sampai berbekas."
"Namanya luka jahit tentu berbekas kak."
"Kamu pikir nantinya kalo kamu di jahit lagi bisa di jahit di butik?"
"Kakak pikir kulit aku kain."
"Kamu oprasi dan lain-lainnya gunain uang siapa? Punya aku kan jadi aku minta kamu nurut."
__ADS_1