My Love My Twilight

My Love My Twilight
Chapter 50


__ADS_3

"Cih." Nara berdecih atas kebohongan senja seperti tikungan di tebing sungguh tajam. Dah bodohnya kakaknya yang percaya saja dengan dusta senja.


Suasana kembali sepi ketiga orang itu enggan memulai pembicaraan hingga Amanda mulai jengah dengan keadaan ini. Dia memutuskan kembali ke kamarnya meninggalkan dua orang yang saling bersikap cuek itu.


"Anggap saja beberapa jam lalu hanya ilusi!" Tegas Nara saat kini di ruang makan itu tinggal dirinya dan senja.


Senja menarik nafas dan membuangnya kasar. Bila semudah itu bisa melupakan hal itu bukankah suasana tidak Secanggang ini? Seakan Nara meminta senja untuk melupakan kejadian yang baru terlewat beberapa jam lalu yang membuat dirinya berjibaku melawan hasrat.tidak semudah itu Nara.


"Ya sudah. Terserah mu saja." Senja beranjak dari duduknya dia berjalan menuju tangga tapi dia menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Bersiaplah ku tunggu 1 jam lagi di ruang tamu." Senja memalingkan tubuhnya kembali berjalan di tangga mengabaikan tatapan penuh tanya Nara.


"Hei! Senja!? Bersiap untuk apa!?" Teriak Nara sambil berlari mengikuti senja tetapi langkahnya terhenti saat senja telah menutup pintu kamarnya.


"Huh! Apa-apaan dia!? Seenaknya memberi perintah yang tidak jelas maksudnya!" Gumam Nara sambil berlalu dari depan pintu kamar senja menuju kamarnya.


Nara masuk ke kamarnya eh tapi bukankah itu kamar senja? Ya sudahlah sesuka Nara saja.

__ADS_1


Dia terduduk tepi ranjang memikirkan perkataan senja tadi dengan muka serius sambil mengerutkan keningnya.


"Bersiap 1 jam ku tunggu di ruang tamu?" Nara mengucapkan kembali kata-kata senja sambil merangkainya menjadi kata yang benar dan dapat di mengerti oleh otaknya.


"Ahh!" Nara menepuk tangannya gemas dia sekarang mengerti Ucapan senja.


"Dasar! Kan bisa bilang 'bersiaplah kita akan keluar aku tunggu di ruang tamu' nah gitu kan mudah?" Nara berucap sambil menirukan intonasi saat senja berbicara tadi.


Akhirnya Nara menuju kamar mandi untuk membersihkan diri tidak memerlukan 30 menit Nara telah usai dengan ritual membersihkan dirinya.


Kini Nara tengah memilih baju untuk dia kenakan dia membolak-balik semua baju yang di lemari. Ya senja memang sudah menyiapkan baju ganti nara di dalam lemari.


Saat Nara melihat cermin wajah yang semula berbinar kini berubah kesal saat kissmark senja masih terlihat samar.


Dia memutuskan menutupi bekas laknat itu dengan alat makeup nya yang sekarang berperan seperti tongkat sihir baginya.


Nara kembali bercermin dan sekarang dia tampak tersenyum menatap puas seluruh penampilannya. Nara memutuskan keluar kamar saat dia telah siap dia tidak enak bila senja menunggunya.

__ADS_1


Sebelum membuka pintu kamarnya untuk menemui senja. Nara menarik nafasnya dalam dan menghembuskan rileks mengumpulkan semua keberanian untuk menemui senja dan menetralkan rasa malu yang mengusiknya.


"Bukankah tadi aku bersikap cuek dan marah-marah? Tapi ini kenapa aku menurutinya saat di ajak keluar?" Gumam Nara di depan pintu tersadar atas sikapnya.


"Akhhhh...kenapa sikapku plin-plan gini!? Nggak boleh di biarin! Meski aku pingin jalan-jalan aku harus menolak karena aku tidak mau perasaan plin-plan ini makin menjadi-jadi!" Gumam Nara sambil menarik gagang pintu.


Ceklek...


"Akhhh.." teriak Nara saat senja sudah berdiri tegak di depannya.


Fikiran Nara saat ini penuh pertanyaan mengapa di sini? Mau apa? Apa masih mau cuek in aku? Mau ajak kemana aku? Sejak kapan di situ?Atau dia kesini untuk membatalkan permintaan untuk keluar bersama.


Semua itu adalah tanda tanya di seluruh otaknya saat memandang sosok senja yang juga menatapnya.


"Ku kira kamu ketiduran." Ucap santai senja sambil merogoh kedua kantung di celananya membuat karismanya tiada Tara.


"Baiklah ayo." Nara berjalan mendahului senja dan setelah beberapa langkah dia tetap berjalan tapi dengan sedikit menghentakkan kakinya.

__ADS_1


"bukankah aku akan menolaknya?ishhh apa ini sejak kapan hati dan tubuh berkerja sama dan otak bermusuhan dengan hati?" gumam Nara tanpa memperdulikan orang yang di belakangnya tersenyum gemas.


"Pelan-pelan jalannya...kita nggak buru-buru kok." Senja mengulas senyum yang jarang sekali di tunjukkan selain kepada keluarga,rekan bisnis dan sekarang Nara.


__ADS_2