
Sambil terus menggenggam tangan Nara senja berjalan keluar dari taman belakang rumah itu,
Nara hanya bisa mengikuti senja meski kakinya agak nyeri di bekas lukanya.
"Kita mau kemana?" Tanya Nara sambil menatap mimik wajah senja yang tampak berseri-seri.
"Jalan-jalan sambil menunggu makan malam" ujar senja dengan santainya.
"Ini masih siang! malam masih berjam-jam lamanya mending kita balik aja soalnya aku belum liat keseluruhan rumahnya tadi cuman keliling lantai satu belum ke lantai dua" ujar Nara panjang lebar tapi tanpa melepas genggaman senja maupun berhenti berjalan.
"Kamu mau liat apa? Di dalam sana masih kosong tidak ada barang-barangnya" senja memperlambat jalannya saat merasa Nara mulai ngos-ngosan
"Ya mending liat-liat ruang kosong dari pada jalan kayak gini...caper tau!" Keluh Nara sambil mengelap keringatnya gara-gara sinar matahari.
Memang disekeliling banyak pepohonan hingga membuatnya jalanan teduh tapi hawa panas matahari dengan angin yang jarang bertiup menimbulkan hawa gerah yang luar biasa apa lagi gaun yang di kenakan Nara menurutnya cukup ribet.
"Liat ruangan itu juga pakek kaki jalannya...jadi sama aja" senja berusaha menyakinkan Nara untuk terus berjalan karena di depan sana masih ada kejutan yang menanti mereka.
"Lagian di situasi panas kayak gini kita mau apa sih?" Nara masih kepo dengan rencana apa lagi yang di buat senja
__ADS_1
"Aku nggak tau kalo hari ini situasinya akan sepanas ini." Senja mulai mengedarkan pandangannya menemukan tempat teduh dan sejuk untuk rehat.
"Aku capek..." Rengek Nara sambil menghentakkan langkahnya.
"Sedikit lagi sampai" ujar senja saat sudah menemukan tempat teduh yang tidak jauh dari jarak mereka.
"Kakiku ngilu.." lirih Nara sambil menatap kakinya di ikuti senja yang langsung menatap kaki Nara.
Plak
Senja menepuk jidatnya dia lupa dengan kaki Nara yang habis terluka, dia merutuki kebodohan yang dia ciptakan yaitu dengan menyiapkan kejutan yang dimana Nara harus mengikuti pita panjang mengelilingi ruangan dan saat ini harus berjalan untuk sampai ke kejutan berikutnya.
Nara yang takut jatuh hanya mengalungkan tangannya ke leher senja tak bisa di pungkiri jantungnya berdetak tak karuan saat dalam posisi seperti ini.
Dari gendongan senja Nara bisa melihat jelas rahang senja yang tampak tegas dan tak lupa Nara melihat benjolan di leher senja yang turun naik seperti menggoda dirinya untuk menyentuhnya.
"Apa yang kamu lihat sampai seperti itu?" Tanya senja tanpa melihat Nara jujur saja dia juga deg-degan di liat Nara seperti itu.
"Lehermu..." Ucap Nara tanpa sengaja.
__ADS_1
"Ah...anu...lehermu mungkin terlalu panjang dari ukuran normal" Nara memberi alasan yang menurutnya sediri tidak masuk akal.
"Hah?" Senja mengerutkan keningnya dan mendudukkan Nara pelan-pelan di pohon teduh tadi.
"Lupakan saja" Nara memalingkan wajahnya menghindari senja bila dia tidak percaya ucapannya.
Tak ada jawaban dari senja Nara memutuskan menyadarkan punggungnya di pohon itu.
Rasa gerahnya berangsur-angsur menghilangkan angin pun mulai bertiup sepoi-sepoi membuat Nara berpikir memang tidak ada salahnya untuk menuruti senja berjalan kesini sungguh pemandangan hijau yang sangat indah.
Rasa nyaman membuat kantuk Nara mulai menyerangnya saat memejamkan matanya Nara merasa sesuatu yang padat berada di pangkuannya dengan segera dia membuka matanya.
Matanya yang semula mengantuk kini terbuka lebar saat menatap wajah senja yang tampan Tengah tertidur di pangkuannya.
Tanpa dia sadari tangannya mengelus rambut senja yang berantakan tangannya turun mengelus setiap inci wajah senja hingga berhenti di bagian bibir.
"Apasih! Sebenarnya apa yang sedang aku lakukan?" Gumam Nara dia menarik tangannya dan kembali memejamkan matanya dia tak protes dengan senja yang tidur di pangkuannya.
Tak terasa dua insan itu telah terlelap di bawah pohon rindang dengan hawa sejuk yang membuat nyaman sampai mereka tidak tau berapa lama mereka tertidur.
__ADS_1