
"Ayo!" Ujar senja saat nara tak kunjung berada di punggungnya.
"Kak aku jalan aj_" belum selesai berucap perkataan Nara telah terpotong.
"Ayo Nara!" Ucap senja tegas membuat Nara menurut dan kini telah berada di gendongannya.
"Good girl" puji senja saat Nara nemplok di punggungnya.
"Cih." Nara berdecih bukan karena marah tapi untuk menutupi malunya.
Senja berjalan sambil menggendong Nara menyelusuri jalan setapak itu.
Sama sekali tidak terdengar deru nafas yang tersengal-sengal karena kelelahan ataupun mengeluh lelah senja dengan semangatnya terus berjalan.
Hingga setelah beberapa menit berjalan mereka tiba di sebuah danau yang nampak indah dengan tanaman teratai yang mengambangkan di atasnya.
"Udah bukan?" Senja menurunkan Nara dari gendongannya.
"Iya..." Nara berjalan ke depan tanpa melihat tempatnya melangkah.
Set..
Senja menarik Nara kedalam pelukannya saat Nara hampir masuk ke danau karena tidak memperhatikan jalannya.
"Kagum boleh tapi harus hati-hati" ucap senja tepat di telinga Nara sambil memeluknya dari belakang.
__ADS_1
Nara merasa pipinya panas mendorong tubuh senja untuk bisa terlepas dari pelukannya dan menjauh dari tubuh pria itu.
"Dulu di sini tempat aku dan dua sodariku bermain."senja menatap lurus ke danau.
"Kamu punya sodari?" Tanya Nara sambil mencari tempat yang nyaman untuk duduk.
"Hemm...yang satu sudah meninggal karena kecelakakan" lirih senja namun masih bisa di dengar Nara.
"Ah maaf aku tidak tau."
"Tidak apa-apa itu juga udah lama" senja menatap Nara lalu tersenyum manis sungguh manis sampai membuat Nara melamun.
"Hai! Malah ngelamun" Nara hanya menyengir kuda.
Karena sudah sore Nara dan senja memutuskan menyelesaikan cerita mereka dan kembali ke tempat semula.
Dengan perdebatan yang sengit Nara akhirnya di gendong kembali oleh senja dengan alasan berolahraga sore hari untuk membuat otot tubuh.
Sesampainya mata Nara tertuju ke meja yang telah tersusun beberapa makanan dan lampu tak lupa dengan bunga juga
"Have dinner with me tonight nara" senja menarik salah satu kursi untuk diduduki Nara.
Nara pun tersenyum dan duduk di kursi itu dan menatap senja yang tengah duduk di depannya.
__ADS_1
Akhirnya mereka memulai sesi makan tanpa berbicara berdua dengan suasana yang di buat seromantis mungkin.
Setelah selesai makan Nara membersihkan makanan yang mungkin terlewat di mukanya dengan tisu namun Nara merasa senja menatapnya terus.
"Boleh berbicara sebentar?" Tanya senja dengan jantung yang mulai berdebar.
"Boleh" ujar Nara sambil mengagukkan kepalanya.
Senja berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kursi Nara lalu berjongkok menghadap Nara sambil mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya.
Dia membuka kotak itu dan ternyata terdapat sebuah cincin berhiaskan berlian di dalamnya.
"Zennara, aku melihat banyak kelebihan padamu dan aku jatuh cinta padamu dan aku pun melihat kekuranganmu tetapi hatiku tetap memilihmu.
Dulu aku bertemu denganmu dan sekarang tuhan kembali mepertemukan kita dan di hari ini aku, Senja mengungkapkan cinta padamu.
Mengabdikan cinta yang suci padamu sampai maut menjemputku meski ada dunia setelah kematian maka aku akan mencintaimu lagi.
Jadi maukah kamu menjadi kekasihku?menjalani sisa-sisa hari menuju jenjang yang lebih serius? Aku mencintaimu dan akan selalu seperti itu."
Senja benar-benar mersa jantungnya sudah seperti drummer sungguh ini lebih menegangkan dari pada bertemu musuh bisnis batin senja saat ini.
Nara hanya bisa melongo tebakannya betul dan cara senja mengungkapkan perasaannya berbanding terbalik dengan Singgih yang melamarnya di tengah lapangan dulu.
__ADS_1