
"Ah maaf aku nggak sengaja..." Alasan senja yang tidak masuk akal bagi Nara namun masuk akal bagi senja.
"Mana ada gak sengaja. jelas-jelas sengaja mana ada orang masuk kamar terus tidur di kasur yang orang mata bintitan pun bisa liat kalo ada orang tidur di kasur ini." Nara berteriak pada senja.
"Aku benar-benar tidak sengaja...tadi aku berniat mengambil wadah untuk menadah air liurmu itu...aku tidak mau bantal ku menjadi pulau air liur." Ucap senja ketus.
"eh air liur mana ada! Aku cuman ngiler di kasurku sendiri tidak pernah ngiler di rumah orang lain!." batin Nara yang memang dia ngileran saat tidur. tetapi dia tipe ngiler tau tempat.
"Mana ada ngiler! Kamu aja yang kebanyakan alasan." Jawaban Nara yang tak kalah ketus.
"Sudah...sudah aku mau tanya bagaimana kamu bisa tergeletak di jalanan sepi?" Selidik senja yang dari tadi kepo dengan gadis yang dia bawa pulang itu.
"Aku di culik dan kaka_" ucapan Nara terhenti. Nara baru mengigat nasip kakaknya Amanda yang di bawa pergi pria jahat.
"...." Senja mengerutkan keningnya melihat ekspresi wajah Nara yang terkejut.
"Oh astaga kakakku di culik dan di siksa pria jahanam." Nara Melanjutkan perkataannya.
"Dan kamu baru mengigat kakakmu setelah tadi aku bertanya?" Tanya senja degan tatapan meremehkan.
Senja membatin bagaimana gadis di depan matanya ini bisa lupa kakaknya sendiri saat dalam keadaan yang darurat.
"tuan tampan tolong batu aku menemukan kakakku yang malang." Pipi senja memerah saat Nara menggenggam tanganya dan mendekatkannya ke dadanya lalu memasang muka memelas.
__ADS_1
"hai gadis!...kakak pria normal tau!?" batin senja lalu mengalihkan pandangannya senja tidak kuat melihat pemandangan indah di depan matanya.
"Baiklah aku akan mencari kakakmu." Senja menarik tanganya lalu berlalu pergi dari ruang yang orang di dalamnya mampu membuat dia berbunga-bunga.
Setelah senja pergi Nara yang berada di dalam kamar merasa hatinya tidak tenang degan keadaan Amanda yang sedang sakit dan di siksa oleh pria jahanam.
Nara memejamkan matanya dan tiba-tiba
DEG...
"Aww dadaku sesak lagi..."
Nara yang merasa sesak di dadanya mencoba meminta bantuan orang yang ada di luar namun saat beberapa langkah dari tempat tidurnya Nara terjatuh pingsan.
Di sisi lain....
Seorang pria tengah memandangi mantan gadis yang tertidur karena suntikkan pemenang. Saat bangun dari pingsan gadis itu malah histeris dan memukul orang yang mencoba menenangkannya dan para dokter memutuskan menjagal dan menyuntikkannya obat bius.
"Maaf aku tidak tau kalo kamu gadis kecil itu." Zero adalah pria itu. Dia mengusap tangan seorang wanita tentu saja Amanda gadis yang dia bawa dari gudang penyekapan ayahnya.
Zero juga yang hampir membunuh Nara saat di rumah sakit tentu untuk melindungi Amanda gadis kecil di masa kecilnya. Ini semua dia lakukan atas perintah ayahnya karena ayahnya mengijinkan amanda terus hidup tapi zero harus menghabisi Nara adik Amanda.
2 hari... Sudah dua hari keadaan Amanda masih sama saja dia masih histeris saat membuka matanya.
__ADS_1
Bagaimana dia tidak histeris saat semua hal buruk itu terjadi padanya dan Nara adiknya entah bagaimana nasibnya.
"Aku mau pulang.... Mami Ama takut...tolong... hiks hiks..." Amada merubah posisinya dari tidur menjadi posisi duduk. Dia meringkuk memeluk kakinya dia bergumam dan menagis tubuhnya pun gemetaran.
Setelah puluhan menit tangis Amanda mulai tenang. Dia mulai melihat sekeliling dia berada di kamar mewah dengan alat dan obat yang komplit tersedia.
Saat mata Amanda melihat sekeliling dia menemukan pintu besar di ruangan itu. Amada mencoba menurunkan kakinya perlahan mencabut infus di tangannya dengan kasar alhasil darahnya mengalir di tangan namun Amanda tidak perduli yang dia perdulikan hanyalah mencari jalan keluar dan melarikan diri sejauh-jauhnya.
"aku harus keluar aku tidak mau terus di kurung... Aku harus menyelamatkan Ara." batin Amanda sambil mengangkat kakinya untuk melangkah pergi.
"kurasa di balik pintu ada penjaga... Apa aku harus lewat jendela?" amanda memikirkan cara keluar dari penjaranya itu.dia takut di apa-apakan lelaki jahanam yang berbuat tak senonoh padanya dan menculiknya.
"Sial kenapa tinggi sekali?" Gumam Amanda saat berniat kabur melalui jendela tetapi jarak jendela ke tanah bermeter-meter.
"Tinggi bukan memang sengaja aku taruh kamu di sini agar tidak bisa lompat dari jendela." Ucap pria itu berbisik di telinga Amanda.
"Kau memang menjengkelkan!." Balas Amanda tanpa sadar.
"Puff" pria itu mencoba menahan tawanya saat melihat tingkah konyol Amanda.
"tunggu dulu... Tadi yang berbicara padaku siapa?" batin Amanda lalu secepat kilat melihat ke belakang namun hasilnya nihil tidak ada siapa-siapa.
"Kamu mencari siapa?" Tanya pria itu kembali.
__ADS_1
"Tadi ada yang ngomong tapi nggak keliatan." Balas Amanda yang memang otaknya hobi loading.