My Love My Twilight

My Love My Twilight
Chapter 43


__ADS_3

Zero bisa sedikit bersyukur. Bersyukur karena dia tidak berhasil membunuh Nara pada saat di rumah sakit dia sama sekali tidak pernah berfikir bahwa nantinya bila Amanda tau dia akan sangat membencinya.


Dia juga bersyukur karena bertemu dengan Amanda dengan otak yang terkadang minim penerangan. dia berfikir mungkin Amanda akan sangat membencinya karena merenggut kesuciannya tapi ini malah sebaliknya dia sama sekali tidak marah ya meski pada awalnya histeris karna syok tapi saat tau zero adalah oshi teman masa kecilnya yang berjanji akan menikah dan membina rumah tangga saat dewasa nanti dia melupakan masalah yang terjadi itu dan memutuskan saling mencintai.


Zero berjanji dia akan bertanggung jawab setelah urusan papanya selesai. Dia tidak ingin membangun rumah tangga yang berantakan karena sebuah masalah yang belum terselesaikan.


"Dia datang kesini untuk menjemput mu pulang." Zero menatap Amanda dengan tatapan sendunya. Berat rasanya bila mungkin harus berpisah dari Amanda mengingat beberapa momen yang telah di lewati bersama.


"Pulang?" Amanda tapak heran dengan Ucapan zero.


"Pulang ke rumah besar Mahadiratu bersama adikmu Nara semua orang telah cemas memikirkan nasib kalian." Ucap senja yang seakan tau sisi bodoh Amanda.


"Oh ya ampun!!! Aku lupa dengan mami papi!" Amanda terlihat kaget dia baru mengingat kalo orang tuanya pasti sangat cemas.


Ya ini semua karena bersama zero membuatnya melupakan isi dunia yang lain dan hanya berfikir dunia milik berdua dia dan zero tentunya.


Hari-harinya hanya di penuhi dengan gombalan yang di berikan zero seperti obat 3× sehari. Kayang seharian pun dilakoni Amanda karena sikap dan perbuatan zero. Sikap romantis dan manis zero tentunya yang membuat Amanda makin mengaguminya.


"Jadi bagaimana? Mau pulang atau kawin lari?" Tawar zero dengan seringai liciknya.


"Apasih!" Amanda merona karna malu.

__ADS_1


Kan di ajak kawin lari aja udah kelepek-kelepek apalagi yang lain?


"Aku akan pulang! Tapi...bagaimana de_" Amada menggantung ucapanya saat sebuah jari menempel di bibirnya.


"hadehh drama...drama..." batin senja dia memutar matanya malas ke sembarang arah.


"Nggak usah khawatir dengan aku." Zero mengelus pipi Amanda yang sangat lembut itu.


"Aku khawatir kamu mencintai yang lain saat kita terpisah." Lirih Amanda.


"Nggak akan!. tidak ada yang bisa memisahkan hati kita meski kita terpisah berpulau-pulau dan bersamudera-samudera." Zero mencoba untuk tenang meski rasa perpisahan juga menghantuinya bisa saja amandanya di guna-guna oleh pria di luar sana dan melanggar janji di masa kecil mereka.


"Berjanjilah tidak ada wanita lain di hatimu kecuali aku." Amanda mengangkat jari kelingkingnya untuk berjanji.


Ehem...ehem...


Suara ehem-egem senja menghentikan aktivitasnya romantis yang hampir terjadi di antara dua insan yang sedang di mabuk cinta.


"Saya pria lajang! Sopan kah kalian pamer!?" Sinis seja pada dua insan itu yang menatapnya seperti dia adalah pengganggu.


"Oh maaf" Amanda menunduk malu dia hampir berciuman di depan orang asing.

__ADS_1


"Jodohkan dia dengan adikmu." Zero menatap sekilas senja yang menyemburkan kopinya saat mendengar ucapannya.


"Maaf saya tadi kaget." Sahut senja sambil merapikan bajunya yang terkenal air kopi.


"Adikku? Nara ya...tidak bisa." Amanda sedikit berfikir dan mengambil keputusannya.


"Kenapa?" Tanya zero dan senja bersamaan.


"Hidup Nara adalah hidupnya aku tidak ingin menjodohkan adiku aku takut dia tidak bahagia. Lagi pula dia keliatan bahagia bersama Singgih pacarnya." Kelas Amanda kepada dua pria di samping dan di depannya itu.


Clekit...clekit...


Seakan ada yang menyentil-nyentil hati senja kini wajah senja terlihat galaw sukses membuat zero menahan tawanya melihat raut wajah bodoh pebisnis sukses di depannya.


Zero sendiri lupa dengan eskpresinya beberapa menit lalu saat harus melepas Amanda pulang.


"Tapi..." Amanda mengantungkan kalimatnya membuat zero dan senja kini menatapnya.


"Aku tidak suka singgih dia sering mengantar-jemput Nara tapi hanya di depan pintu gerbang rumah. Dia takut dengan papi dan itu membuatku merasa dia kurang gentleman."


Seketika wajah senja berubah sumringah setidaknya ada kakak dan ayah yang tidak setuju hubungan Nara dan pacarnya jadi sedikit peluang bagi dia untuk bersama Nara toh mereka hanya pacaran sebelum janur kuning melengkung senja harus udah siap-siap curi pengantinnya.

__ADS_1


"Ya sudahlah itu adalah urusan pribadi Nara biar dia yang urus kehidupannya." Amanda merasa dari tadi dia seperti mendongeng terus bicara tanpa ada yang menaggapi.


__ADS_2