
Nara mencoba membuka matanya bola mata Nara pergi ke kanan lalu ke kiri menadakan gadis itu sedang mencari tau di mana dia berada sekarang.
"Uhh di mana aku?" Ucap Nara hendak mengusap leher belakangnya yang entah mengapa terasa nyeri.
"Loh...kok" Nara baru menyadari kalo kedua tangan dan kakinya terikat dia terduduk di sebuah kursi.
"Kak Ama! kak! bangun!" Nara menemukan Amanda juga terikat di sampingnya.
"Uhhh kepalaku..." Amanda pun mulai sadarkan diri.dia melihat ke kiri di mana asal suara yang memanggil namanya.
"Nara kok kamu di iket?" Tanya Amanda yang melihat Nara di ikat seperti di drama-drama
"Ish kakak...kamu juga di ikat!" Nara menimpali ucapan Amanda yang terdengar konyol.
Sudah jelas kalo mereka sedang di culik masih nanya batin Nara saat itu.nara sudah menebak pasti itu ulah saingan bisnis ayah atau ibunya.
"Ini.. bukankah ini perusahaan ayang dulu?" Amanda melihat sekeliling memang gedung ini tidak terlihat sama seperti dulu tetapi Amanda ingat dengan jelas gedung ini karena kejadian beberapa tahun lalu.
"Benarkah?" Saat kejadian itu Nara masih berumur 5 tahun tentu dia tidak mengingat kejadian itu.
"Ya... Beberapa taun yang lalu ada seorang wanita yang meninggal di sini." Seketika Nara merasa merinding dengan ucapan kakaknya.
"Kaka_"
__ADS_1
BRAK...
Ucapan Nara terhenti ketika menyadari pintu terbuka keras.
Nampak pria yang ia tau seumuran kakaknya tengah menghampiri kedua adik kakak itu.
"Yah 14 tahun yang lalu seorang wanita bunuh diri di sini." Ucap pria itu dingin.
"Kamu!?" Amanda sedikit merasa tidak asing dengan pria itu.
"Kamu pasti yang menculik kami cepat lepaskan! Urusanmu dengan kedua orang tua kami bukan kami!." Teriakan menggema di gedung itu karena di sana benar-benar kosong.
"Melepaskan kalian? Apakah melepaskan kalian mampu mengembalikan ibuku!?" Pria itu langsung meraih rahang Nara lalu meremasnya dengan kasar.
"Stttt" Nara merasa rahangnya terasa sakit hanya bisa meringgis.
"Oh tentu tapi setelah kita bermain-main." Lelaki itu melepas genggaman tangannya yang meremas rahang Nara.
Lelaki itu pergi ke arah amanda dia berjalan dengan muka yang terlihat mesum.
Amanda yang melihat itu bergidik ngeri melihat ekspresi menjijikkan di depannya itu.
"Hey gadis! Ada apa dengan ekspresi mu? Apa kamu merasa jijik kepadaku?" Tanya pria itu dengan tatapan mata kebencian.
__ADS_1
"Tentu saja aku merasa jijik kepada orang gila seperti kamu!" Amanda tak kalah menatap lelaki itu dengan tatapan tajam.
"Hehh kita liat apa kamu masih bisa berteriak di ayak ranjang nanti!." Seringai licik muncul di muka lelaki itu.
Saat ini hati pria itu di selimuti dendam saat melihat dua anak Dari orang yang membuat ibunya terbunuh 14 tahun lalu meningal di gedung ini.
Pria itu bernama Zero Ambarawa putra dari suci Ambarawa meski namanya suci tapi tak sesuci hatinya.
Wanita itu mencoba merebut papi Bima dari mami Rina meski mereka sudah sama-sama memiliki keluarga.
Wanita itu mencoba mendorong mami Rina yang tengah hamil anak ke 4 namun tak menyangka suci pun ikut terjatuh suci harus kehilangan nyawanya karena benturan keras di kepalanya sedangkan mami Rina harus kehilangan anaknya dan di vonis tidak dapat mengandung lagi meski papi Bima masih ingin anak lagi tapi mau apa lagi dia sangat menyayangi istrinya jadi dia tidak mengucapkan keinginannya memiliki satu anak lagi dia takut membebani fikiran istrinya.
"Kamu jauhi aku dan kakak!!!polisi pasti akan mencari kami!" Nara berteriak kepada zero yang berkata tak senonoh kepada kakaknya.
"Diam kamu bocah ingusan!" Zero mendekati meja di sebelah Amanda Mecari lakban lalu pergi mendekati Nara untuk menutup mulut Nara yang seperti kaleng lompat menurut zero.
"Emmm...emhhh" Nara tidak bisa berteriak lagi karena mulutnya sudah tertutup sempurna dengan lakban.
"Hai apa yang kamu lakukan!!!" Amanda tak terima adiknya di lakban mulutnya.
"Untuk kamu mari kita bermain." Senyum terbit di bibir zero bukan senyum meneduhkan namun senyum yang bisa membuat Amanda merinding dan gemetar tak karuhan.
"Hai jangan sentuh aku!" Amanda meronta ketika tangan kekar zero menggendong Amanda menuju ranjang yang tersedia.
__ADS_1
"Shutttt... Sayang jangan berteriak itu membuang energimu.kamu memerlukan energi yang cukup untuk bermain nanti." Zero meletakkan Amanda di atas ranjang tentu Amanda tidak dapat melawan karena kaki dan tangannya terikat.
"Siapa yang mau bermain bersama kamu!dasar pria gila!!!" Amanda masih saja berteriak namun zero tak bergeming dengan teriakan Amanda.