
"Iya dia ibuku. Apakah kamu memiliki akses untuk bisa menghubungi orang tuaku?" Nara nampak berbinar dia terlihat antusias dengan senja yang tampak mengenal orang tuanya.
"Tentu saja aku mengenal Tuan Bima Dan Nyonya Rina." Senja tersenyum gembira entah mengapa dia merasa senang saat mengetahui Nara lah yang akan menjadi tunangannya.
"aku harus menelfon mama segera." batin senja sambil tersenyum manis.
"Berhentilah tersenyum kamu terlihat aneh." Ucap Nara sambil mengalihkan pandangannya sungguh dia merasa sedikit risih saat senja tersenyum seperti itu.
Setelah beberapa saat senja dan Nara menjalin komunikasi terkadang senja membuat Nara tersenyum dan terkadang membuat Nara cemberut.
Senja memutuskan mengakhiri percakapan agar Nara mengistirahatkan tubuhnya agar lekas sembuh dia juga berjanji pada Nara bahwa dia akan mengantar pulang Nara setelah masa rawatnya usai.
📞: Hallo mah.
📞: Hallo ada apa tumben telfon biasanya kalo seperti ini tercium bau-bau ingin itu atau itu.
📞: Mah senja bicara langsung ke inti aja ya. Gini mau jodohin aku sama anak dari pemimpin PutriRatu grup kan?
📞: Iyah.. ada apa? Kali ini jangan coba-coba kabur semua temenmu dah mama cuci otaknya nggak ada yang bisa bantu kamu.
📞: Senja tidak akan kabur mah bahkan kalo mama langsung nikahin senja senja no problem.
__ADS_1
📞: Iyalah kamu no problem kan yang ber problem calon mantu mami.
📞: Maksudnya?
📞: Mantu mama ilang sen...
📞: ilang?
📞: udah 3 hari dia dan adiknya ilang keluarga mereka memastikan kalo mereka diculik musuh mereka.
📞: Tapi mah_
Mama Inez menutup telfonnya sepihak tanpa perduli si penelpon di sebrang sana memang menutup telfon tanpa pamit telah menjadi bakat turun temurun dari mama Inez ke senja.
"apakah mama tau keadaan lexa? Aku berdoa agar mama tidak menagis melebihi tangisan Tante Rina yang kehilangan anaknya" senja kembali mengepalkan tanganya sambil mengeratkan rahangnya.
"Dasar Carens sialan! Akhhh" senja berteriak keras di pintu luar kamar Nara dia nampak seperti si raja hutan si singa tetapi saat membuka puntu kamar Nara senja langsung berubah sikap 190° menjadi kucing rumahan yang sering di manja nyonyanya.
"Kenapa aku gagal marah?aishhh... Gadis ini benar-benar manis." Gumam senja yang masih terdengar. Nara yang dari tadi mendengar teriakkan senja lalu sikapnya berubah 190° itu hanya bisa menahan tawa.
Senja berjalan menuju sofa tempatnya tadi menutup mata sekilas. Senja akan tidur sebentar agar lebih terlihat segar agar tidak di bilang polusi pemandangan oleh Nara.
__ADS_1
"seja itu pria yang baik dia itu boleh juga..." batin Nara yang setia menutup matanya namun menerbitkan senyum di wajahnya setelah menilai senja.
Nara dan Senja tengah menikmati perjalanan di dunia mimpi tak terasa waktu berjalan cukup lama Senja yang biasanya tidak tidur siang kini tidur siang. dia terbangun saat dokter masuk ruangan Nara untuk memeriksa keadaannya.
Cukup lama dokter memeriksa Nara Nara yang tertidur pulas tentu tidak akan bangun.
Setelah dokter itu selesai senja bertanya kepada dokter di depannya itu.
"Dokter kapan saya bisa membawa pasien pulang?"
" Kami tidak bisa memastikan kapan Pasian bisa di bawa pulang itu tergantung dengan bekas oprasinya kalo sembuh pasien bisa di bawa pulang."
"Oh baiklah dokter."
Dokter itu berlalu pergi dari hadapan senja. Dia kembali duduk di kursi di sebelah Nara memandangi wajah gadis cantik yang mungkin namanya telah mengisi full hatinya. Rasa kantuk kian menyelimuti senja dia kembali terlelap dengan posisi duduk dan kepalanya bersandar di ranjang rumah sakit itu yang di tempati Nara.
"ku harap kamu segera sembuh aku tidak sabar melanjutkan pertunangan ku denganmu tak ku sangka kamu adalah calon tunaganku kalo pun harus menikah besok aku pun setuju" batin senja sambil tersenyum sendiri kalo sampe Nara melihat dia mungkin akan mengira senja sudah gila karena berulang kali tersenyum padanya.
Bukan tidak suka kalo ada yang tersenyum padanya tetapi Nara merasa risih saja ketika orang yang baru ia temui menatapnya terus lalu tersenyum dengan alasan yang tidak jelas.
Rasa kantuk kian menyelimuti senja dia kembali terlelap dengan posisi duduk dan kepalanya bersandar di ranjang rumah sakit itu yang di tempati Nara.
__ADS_1