
Tangan putih Nara meraih kertas dan bolpoin menggoreskan tinta ke kertas putih itu sambil menulis Nara merangkai kata-kata di otaknya.
..."*Cinta itu misterius bahkan ilmuan pun bingung saat pertama kali merasakannya." -Love...
..."Cinta terjadi karena terbiasa cinta berakhir saat rasa terbiasa telah bertukar posisi." -Love...
..."Cinta dan kehidupan sudah di atur jadi bagaimana itu cinta hadir kita hanya bisa menerimanya." -Love...
..."Jika bumi lingkaran dan sudut rumah itu persegi lalu disebut apa bentuk cinta itu? Berbentuk hati? Tetapi hati adalah tempat dimana semuanya berjalan tanpa kenal lelah tapi cinta ia kenal lelah." -Love...
..."Jodoh adalah cerminan diri sendiri, bukan cermin kaca yang menampilkan kecantikan ataupun karisma melainkan, cermin kehidupan berisi kebaikan dan hati yang suci." -Love*...
5 kata-kata itu adalah yang mewakili dan terlintas di benak Nara saat itu selain itu dia juga menggunakan julukan love untuk kata-katanya.
Ia menempelkan kertas itu di dinding dan mundur tiga langkah dan mengucapkan "perfect" tanda bahwa Nara puas dengan karyanya.
Telah usai dengan kegiatannya di ruangan itu Nara ingat apa tujuannya yaitu mengikuti pita panjang itu.
Dia berjalan kembali dan menemukan pita itu di depan pintu ruangan yang bernuansa coklat karena temboknya adalah bata.
Selain itu di sediakan beberapa tumpuk coklat di atas meja bahkan di atas rak. Nara hanya bisa melongo menatap tumpukan coklat di depannya.
__ADS_1
Mata Nara menangkap sebuah coklat yang di atasnya terselip sebuah surat.
^^^"coklat sangat manis sepertimu! Apa kamu suka coklat? Aku tau kamu sering ke cafe minum coklat dan kue coklat, Jadi makanlah semua coklat yang aku siapkan khusus untukmu..."^^^
Nara membaca dengan kening yang berkerut setelah beberapa detik kini gadis itu menampakkan senyumnya.
"Hahahaha...apa dia fikir aku suka coklat?...kalo boleh jujur aku tidak terlalu suka coklat...itu hanya alasan untuk bertemu penjual tampan...hahaha..." Ucap Nara sambil terus tertawa.
Nara selalu pergi ke cafe coklat untuk memesan coklat tapi bukan coklatnya yang dia cari tapi penjualannya si akang coklat yang mirip artis Korea.
Tidak hanya coklatnya yang di bikin meleleh tapi para pelanggan wanita yang akan meleleh saat dia tersenyum.
"Kalo begini mana bisa nolak rejeki.." Nara meraih wadah dan mengambil beberapa coklat yang menurutnya enak nan mencicipinya.
Dalam otaknya dia sudah mengerti perintah apa lagi yang akan dia terima.
"Apa aku di suruh melipat baju di sini?" Ucap Nara sambil celingak-celinguk mencari kertas petunjuk.
"Ah itu dia.." Nara berjalan cepat menghampiri satu gaun yang tertempel sebuah kertas dan Nara yakin itu surat perintahnya.
^^^"cobalah gaun yang ku pesan, pilih satu yang paling kamu suka"^^^
__ADS_1
Setelah selesai membaca surat Nara kini melihat-lihat semua gaun yang tersedia di ruangan itu.
"Kenapa semua gaun seperti ini? Apa jangan-jangan dia mau ajak aku kawin lari?!" Nara menghela nafas panjang sebelum menghembuskan nafasnya Nara melihat gaun yang menurutnya pas.
"Itu dia...uhukk...uhukk.." Nara tersedak saat lupa kalo dia belum bernafas.
Nara menormalkan nafasnya dan mengambil gaun pilihannya dan mengatainya di ruang ganti setelah selesai dia membolak-balikkan tubuhnya menatap baju yang sangat pas untuknya.
"Aduh... Aku kok cantik?! Aku jadi merasa bersalah dengan kaum kentang..." Ucap Nara sambil cekikikan.
Setelah selesai merapikan diri Nara melanjutkan perjalanannya. Dan kembali terjadi pita itu berhenti di ruangan yang berbeda lagi tentu isinya juga beda.
"Sekarang apa lagi?" Gumam Nara setelah itu memasuki ruangan yang berbau wangi meski di hirup dari luar.
"Waowww..." Nara terkagum-kagum melihat banyak bunga di ruangan itu.
Selama ini Singgih hanya memberikan mawar merah saja selama bertahun-tahun meski begitu itu sudah cukup membuat Nara kelimpungan baper.
Nara meraih bunga-bunga yang warna dan bentuknya menarik matanya menyesap aroma wangi khas bunga-bunga.
__ADS_1