
"Loh...akhhh" Amanda berteriak saat menyadari zero di sampingnya.
Zero hanya tersenyum melihat tingkah aneh Amanda.
Sedangkan Amanda yang tadi berteriak mulai menagis.
"lebih baik aku pura-pura gila siapa tau aku bakal di tendang keluar dari penjara ini." Amanda bermonolong dalam hati.
Zero yang melihat Amanda menagis di buat-buat hanya bisa megidik heran. Bagaimana bisa Amanda menyimpulkan dia bisa menipu zero yang sedari dua hari lalu selalu mendengar tangisannya bukankah suara tangisan yang dibuat-buat terdengar berbeda.
"Auww..."ucap zero memegang perutnya sambil meperlihatkan muka kesakitan. Amada yang melihat kejadian itu hanya bisa melongo lupa akan akting menangis nya.
"Hey kamu tolong aku...sakit dadaku kambuh..." Zero terduduk di lantai masih meperlihatkan muka kesakitan nya.
"Loh...kalo kamu sakit dada kenapa kamu memegangi perut?" Amanda mengerutkan keningnya namun tidak curiga dengan zero.
"kenapa otak mantan gadis ini jadi lancar saat di waktu yang tidak menguntungkan ku!" batin zero masih mepertahankan aktingnya.
__ADS_1
"Hey apa kamu mau membunuhku? Cepat tolong aku!" Bentak zero dia khawatir melihat Amanda curiga.
"Oh...iya iya.."Amanda berjalan mendekat dan berjongkok didepan zero.
"Aku harus apa?" Tanya Amanda yang memperlihatkan raut cemasnya zero melentangkan kedua tangannya dan di balas pelukan oleh Amanda.
"Hey!apa yang kau lakukan?" Zero mendorong pelan tubuh amanda.
"Aku memelukmu karena kamu merentangkan tanganmu meminta pelukkan sebelum kamu matikan?" Zero menatap Amanda tajam karena pertanyaan Amanda dengan polosnya karena terlalu terbawa oleh drama-drama yang dia tonton di mana setiap sakit dada berakhir mati.
"Kau mendoakan ku cepat mati?" Tanya zero tetap mepertahankan tatapan tajamnya.
"Oh kamu mau kabur? Aku punya saran untukmu." Zero menyeringai menatap Amanda si otak loading an.
"Iya saran mu apa?" Mata Amanda berbinar mendengar bahwa ada yang ingin membatu dia kabur dari orang yang memberi dia ide kabur.
"Di luar tidak anda penjaga kamu keluar dari pintu saja...terus carilah tangga untuk turun beberapa lantai setelah itu kamu akan menemukan pintu besar berwarna coklat dan itu adalah jalan keluar." Zero memberi tahu depan pintu masion nya tanpa memberi tau ada apa di luar masion itu.
__ADS_1
"Oh trima kasih..."Amanda lalu dengan semangat berdiri lalu berlari ke arah pintu. Tapi saat dia keluar dia kembali masuk dan menodong zero dengan pertanyaan.
"Tunggu...kamu siapa?bukankah kamu sakit dada?dan kenapa kamu mau membatuku?" Zero melihat Amanda dengan tatapan bingung bagaimana ada wanita se lemot dia saat berpikir.
"Ak_" ucapan zero terpotong oleh Amanda seperti layang-layang yang terputus dari benangnya.
"Ah sudahlah kau tidak perlu jawab dan sekali lagi aku berterima kasih aku akan cepat kabur sebelum lelaki gila itu datang." Ucap Amanda lalu hilang di telan pintu.
Zero hanya bisa menahan tawanya membayangkan bagaimana raut wajah gadis itu saat tau dialah lelaki gila itu.
Zero mengikuti langkah Amanda tetapi dia pergi ke lantai bawah mengunakan lift.
"akirnya aku bisa kabur...aku akan mencari Ara dan melaporkan pria jahat itu ke polisi." batin Amanda yang sedang menuruni tangga matanya berbina seraya melihat pintu yang di maksud lelaki tadi.
Amanda tanpa ragu berlari mendekati pintu dia tidak merasa curiga dengan keadaan sekitar yang sangat sepi bahkan beberapa penjaga yang melihatnya berlari hanya diam saja.
Mata berbinar Amanda seakan redup saat membuka pintu itu bagaimana tidak saat dia membuka pintu dia langsung menatap tembok. Dia berlari ke luar dan ternyata bangunan itu terdapat tembok yang berdiri kokoh mengelilingi masion itu dengan penjagaan kawat berduri di bagian atasnya bahkan tidak ada cela untuk seekor anakkan kucing masuk.
__ADS_1
"Hey apa ini tempat apa ini?bagaimana orang-orang di sini bisa keluar dan masuk." Amanda mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Tentu saja menggunakan helikopter bodoh." Seseorang menjitak kepala Amanda yang suka meloading.