My Love My Twilight

My Love My Twilight
Chapter 30


__ADS_3

"Apa kamu sudah lama berkerja menjadi pelayan." Nara mencoba memecah kecanggungan ini.


"Saya baru berkerja 2 Minggu yang lalu nona." Jawaban singkat Sekar membuat suasana menjadi kembali sepi dan canggung.


"Di mana ayah dan ibumu." Nara masih mencoba memecah belenggu canggung yang menjebak dua manusia di ruangan itu.


"Mereka sudah meninggal." Sekar hanya bisa minta maaf pada ayah dan ibunya karena telah berbohong.


"Oh maaf aku tidak tau." Nara menyesali pertanyaannya.


"Ah tidak apa-apa."


Kecanggungan seakan melekat pada dua orang itu. Dua orang yang memang tidak terlalu handal memulai percakapan dengan orang yang baru di temui.


2 jam ruangan itu terdengar sunyi tanpa suara Nara yang takut bertanya memutuskan kembali diam. Sekar yang juga takut pun enggan bicara.


Hingga dokter masuk ke ruangan Nara dan memeriksa keadaannya dia menyuruh Nara agar beristirahat dan jangan bergerak sembarangan karena bekas oprasinya Belem terlalu membaik.


1 minggu setelahnya...


Saat ini dokter telah memperbolehkan Nara pulang tentu saja pulang ke villa senja. Senja memang tau orang tua Nara sangat mudah bagi senja mengantar Nara pulang tetapi ia enggan berpisah dari Nara.


"Akhirnya kita pulang." Nara merentangkan tangannya menghirup udara segar di luar rumah sakit.


"Kak boleh nggak kakak anterin Nara pulang ke rumah orang tua Nara?" Pertanyaan Nara sukses membuat senja terkejut.

__ADS_1


Nara memang sudah beberapa hari ini memanggil senja dengan sebutan kakak karena kalo dia memanggilnya senja itu terdengar tidak sopan.


"Emm...boleh tapi nggak sekarang." Senja bicara sambil membukakan pintu mobil untuk Nara.


"Kenapa?" Nara mengerutkan keningnya menatap curiga ke senja.


"Kan kakak udah bilang Kalo orang tuamu tau kamu sakit mungkin mereka sedih jadi kamu mau mereka sedih?" Ucapan Senja mampu membuat Nara sejenak berpikir.


"Baiklah kalok aku sembuh kakak tolong anterin aku ya." Nara tersenyum lebar memamerkan deretan giginya pada senja.


Senja hanya mengangguk menangapi Nara dia pun melajukan mobilnya perlahan takut kalo ada jalan bergeronjal lalu Nara bergerak sembarangan dan membuat luka operasinya terbuka.


Sudah beberapa hari ini senja mengambil cuti dan tentu saja semua pekerjaannya di limpahkan ke sang sekertaris.dia sama sekali tidak perduli kalo EL memaki dan ngomel padanya apalagi yang dilakukan senja terjadi sekali saja harusnya EL bisa mengeri keadaannya itulah yang ada di benak senja. Keadaan yang menimpa senja tentu saja keadaan dimana senja harus rajin-rajin PDKT pada Nara memperjuangkan hak atas cintanya.


"Kak boleh mampir di depan toko sebentar?" Nara yang duduk di samping senja pun menoleh ke arah lawan bicaranya.


"Beli sesuatu." Nara kembali menatap ke jendela menatap mobil di sampingnya yang bergota-ganti dan melaju cepat bukan mereka ugal-ugalan tapi senja yang menyetir perlahan.


"Beli apa biar aku aja yang belikan"


"Nggak usah!." Nara menatap ke arah senja memasang muka malu-malu dia enggan mengatakan barang apa yang hendak ia beli.


"Kamu abis operasi nggak boleh lama-lama berdiri." Senja tetap kekeuh ingin membelikan barang yang di inginkan Nara.


"Kamu bakal malu kalo beli itu." Gumam Nara lirih namun masih bisa di dengar senja.

__ADS_1


"Malu kenapa cuman Bali barang aja." Senja menghentikan mobilnya di sebuah parkiran mini market.


"Biar aku aja yang beli kak." Nara memegang lengan senja sambil menampakkan raut wajah memelas.


"Nggak." Senja membuka pintu mobilnya lalu bertanya barang apa yang ingin di beli Nara.


"Apa?" Tanya senja singkat padat dan gak jelas.


"Apa apanya?" Nara pun yang di todongkan pertanyaan singkat itu pun keheranan.


"Barang apa yang mau kamu beli." Senja menjabarkan pertanyaannya.


"Biar aku aja kak." Muka Nara langsung terlihat panik dan tidak tenang.


"Nara! Sudahlah biar aku yang beli." Senja menatap tajam ke Nara.


Nara yang menciut karena tatapan intimidasi dari senja hanya bisa mendengus kesal dan menyebutkan barang yang hendak dia beli dengan gelagat malu-malu.


"Beli pembalut." Nara memalingkan pandangannya karena malu.


"Oh oke." Senja menutup pintu mobilnya dan berjalan menuju mini market.


Senja tadi sedang tidak fokus pikirannya kosong saat Nara berbicara. Dia hanya menangkap perkataan Nara tanpa berpikir tentang benda tersebut.


"tadi dia mau beli pembalut...eh tunggu apa tadi yang mau dia beli?" bola mata senja membulat sempurna saat menyadari benda apa yang akan dia beli.

__ADS_1


"astaga" Sanja berteriak dalam diam dan memaki kebodohan otaknya itu.


__ADS_2