
"Ra__Rara. Meluncur ke Verde Two, Ra" Winda menghampiri Rara dengan langkah tergesa-gesa dan seloyang Pizza berukuran besar siap antar ditangannya.
"Gile lu, masih terima orderan? Bentar lagi tutup ini?" Rara melirik jam dipergelangan tangannya.
"Iss...deket, Ra. Paling lima belas menitan dari sini. Lagian ni orang ngotot banget. Kayak yang lagi ngidam gitu. Apa lu mau nanggung kalau entar anaknya ileran?" Winda menoyor kepala Rara.
"Gak ada sopan-sopannya lu ama temen" Rara menyambar seloyang Pizza ditangan sahabatnya itu dan pastinya tak lupa menoyor balik kepala Winda.
Dimas menggelengkan kepala melihat tingkah kedua pegawainya itu.
"Ra__kamu abis itu bisa langsung pulang. Gak usah balik ke Cafe lagi" Pak Bos Dimas mengintruksi.
"Siap!" Rara meletakkan tangan dikeningnya.
"Delivery Home Pizza" seru Rara ramah dari balik pintu apartemen yang belum juga kunjung dibuka penghuninya.
"Hmm...lama banget sih" gumam Rara sambil mengetuk-ngetuk bagian bawah kotak Pizza dengan jarinya.
"Gue coba bel lagi, deh"
Ting ...tong....
Sekali lagi Rara menekan tombol bel.
"Aah...." pekik Rara.
Tiba-tiba tangan seseorang menarik paksa lengannya dari balik pintu.
__ADS_1
Dihadapannya kini berdiri seorang pria berwajah paduan Asia dan Eropa.
Pria blasteran itu menopang satu tangannya dipintu mengunci tubuh mungil Rara.
"Oh my God. Bau sekali dia" gerutu Rara dalam hati sambil memalingkan sedikit wajahnya.
"Delevery home Pizza, Om" suara gugup serak bergelombang Rara mengulangi kalimatnya.
"Temani aku minum" pinta pria itu. Menatap lurus wajah Rara yang begitu dekat dengannya.
"Tapi saya tidak biasa minum om" jawab Rara.
"Om...Ini pesanan anda. Saya_" Belum sempat Rara meneruskan kalimatnya. Mulutnya sudah dibungkamkan dengan c*uman mendadak.
Umpph... Rara mencoba dengan sekuat tenaga mendorong tubuh pria itu.
BRAAAK
Membuat Rara jatuh terhimpit dibawah tubuh pria itu.
"Tuan, apa yang anda lakukan?" ujar Leon. Memapah tuan mudanya menuju kearah sofa.
"Maaf, nona. tuan Nico sedang mabuk. Apakah nona baik-baik saja?" tanya Leon dengan nada sedikit cemas.
Menilik Rara dari atas sampai bawah.
"A_aku" seketika itu juga Leon menutup kedua kupingnya. Karena Rara menangis dengan keras, meratapi ciuman pertamanya yang telah diambil paksa.
__ADS_1
"Stop.Berisik!" bentak Nico.
"Nona__mari kita bicarakan masalah ini secara baik-baik" bujuk Leon. Dengan menampakkan sedikit senyum tipis dibibirnya.
Dengan bahasa tubuhnya Leon mempersilahkan Rara untuk duduk disofa.
Dihadapannya kini tampak Nico sesekali masih memijat batang hidung mancungnya.
"Ini cek senilai Lima Puluh Juta. Sebagai permintaan maaf atas perlakuan tidak sopan tuan Nico terhadap nona" ucap Leon tampa sungkan. Meletak selembar cek diatas meja.
"Kalian_!" Rara menghembuskan nafas kasar.
"Kalian pikir tindakan pelecehan ini bisa dibayar hanya pakai uang. Enak sekali kalian orang kaya. Aku akan mengajukan tuntutan. Aku akan membawa perkara ini keranah hukum!" ucap Rara tegas. Lalu berdiri melangkah menuju pintu apartemen itu.
Diliriknya sekilas pria yang bernama Nico.
"Bahkan dia sedikitpun tidak meminta maaf padaku" batin Rara kesal. Meneruskan langkahnya.
"Leon. Kau urus semuanya" ucap Nico dengan suara beratnya.
Berajak menuju bedroom.
"Nona...Besok datanglah ke alamat ini" ucapan Leon. Menghentikan langkah Rara. Pria itu mendekat, memberikan secarik kartu nama padanya.
"Maksudnya?" tanya Rara.
Membalikkan badan, menatap sang asisten yang bernama Leon dan mengamati tulisan diatas kartu nama itu.
__ADS_1
"Berhentilah menjadi Pengantar Pizza. Bekerjalah untuk Perusahaan Tuan Nico Donzalles" balas Leon datar.
...✍️Bersambung ......