My Love Supir

My Love Supir
Sc. 42


__ADS_3

Rara menutup pintu ruangan Nico dengan kasar.


"Kau lihat...semakin berani saja dia padaku" kata Nico menatap kearah Leon yang kini hanya tinggal asistennya itu saja, yang ada didalam ruangan itu.


"Hei. Leon kau cari mati, ya!" bentak Nico.


Karena asistennya itu hanya diam saja dengan senyum kecil dibibirnya.


"Hei...Leon. Kau minta dipecat ya!" pekik Nico, lagi.


Melihat Leon keluar begitu saja dari ruangannya bahkan sama sekali tidak menggubris perkataannya.


Nico meraih ponsel diatas meja kerjanya, mencari nomer kontak supirnya itu.


Berkali-kali ia menghubungi Rara tapi gadis itu selalu mereject panggilannya.


"Awas kau!" geram Nico menatap tajam kearah layar ponselnya.


Beberapa hari semenjak kejadian itu.


Rara merasa ada yang selalu membuntutinya saat berada diluar rumah.


"Ra, gw udah nyampek ni? Lu ada dimana?" tanya Winda. Menempelkan ponsel ditelinganya dengan bola mata yang terus bergerak mencari sosok seorang Rara didepan pintu masuk sebuah Mall.


"Gw, udah deket. Lu tunggu aja disamping pohon palem" balas Rara.


Winda menoleh kekanan dan kekiri. Lalu gadis itu nyengir kuda.


"Kok, lu tau?" tanya Winda. Sambil terus memanjangkan lehernya mencari keberadaan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Karena gw sekarang sedang menuju kearah lu" jawab Rara.


"Sekarang lu udah bisa matiin ponselnya" lanjut Rara. Berdiri didepan sahabatnya itu.


"Oh my God" Winda membelalakkan matanya.


Melihat penampilan Rara.


"ssstt...jangan sampai ada yang curiga" Rara lekas menggandeng sahabatnya itu memasuki area Mall.


Dan sekarang ke-dua sahabat kental itu menempati kursi pojokan yang ada dicafe didalam Mall itu.


"Gw kayaknya mau resign aja deh, Win" Rara membuka percakapan mereka.


"Loh...Kok? Ada masalah?" tanya Winda mengerutkan keningnya.


"Jadi ini alasannya lu, minta kita ketemuan disini?" tanya Winda, lagi. Setelah menyimak apa yang Rara tuturkan.


"Hem. Gw gak enak kalau sampai Pak Dimas curiga, kalau kita ngobrol dicafe Kemang" jelas Rara.


"lu, kenapa Win?" tanya Rara.


Begitu melihat perubahan raut wajah sahabatnya itu.


"A_anu, Ra. Gw ngerasa ada yang merhatiin kita, deh" bisik Winda.


"Udah...kura-kura dalam perahu aja" balas Rara. Menyeruput minumannya diatas meja.


"Palingan juga orang-orangnya tuan Nico. Bener-bener gw gak bisa kabur dari dia kalau masih di Jakarta" gumam Rara didalam hati.

__ADS_1


"Trus sekarang rencana lu mau bagaimana?" tanya Winda, menatap lurus wajah Rara.


"Entahlah...gw belum tau" Rara menghela nafasnya.


"lu, offkan hari ini?" tanya Rara, lagi.


Winda meng-anggukan kepalanya.


"Kita muter-muter ampek teler nyuk" Rara mengulum senyumnya menatap kearah Winda.


"Siapa takut" balas Winda.


Dan mereka ber-duapun tertawa.


Setelah kedua sahabat itu lelah seharian jalan-jalan di Mall, saling berbagi cerita dan tertawa bersama.


Rara mengantarkan Winda sampai kerumah.


Gadis itu diam-diam khawatir sesuatu menimpa Winda disebabkan oleh dirinya.


"Beneran gak mau masuk dulu?" tawar Winda.


"Gak, deh. Udah sore banget. Salam aja sama Mamah" Rarapun mulai menyalakan mesin motor bututnya.


"Ya, udah. Lu ati-ati dijalan" Winda menutup pintu pagar dan melambaikan tangannya.


Hampir seminggu ini juga Nico terlihat tidak konsentrasi pada pekerjaannya. Walau pria itu selalu mendapat kabar tentang Rara, dari orang suruhannya untuk mengumtiti gadis itu.


...✍️Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2