
"Apakah aku meminta pendapatmu?" Nico menatap tajam kearah Rara.
"Bukan begitu mak__" ucapan Rara menggantung saat Nico memotong kalimatnya.
"Sudah, kau jangan banyak bicara. Pindahkan saja sofa itu kesana sekarang!" tunjuk Nico kearah sudut lain didalam ruangannya itu.
"Mau tidak mau Rara hanya menurut saja. Dengan sudah payah gadis itu mendorong sofa dari tempatnya semula, memindahkan ketempat lain yang diinginkan oleh pria itu dengan nafas terengah-engah.
Sementara itu Nico hanya berdiri memperhatikan Rara. Menyilangkan kedua lengannya didada dengan seringai tipis dibibirnya.
"Tuan, mengapa kau hanya berdiri saja. Tidak bisakah kau membantuku? Bukankah kau itu laki-laki, tentu tenagamu lebih kuat dariku?" Pinta Rara dengan mengerucutkan bibirnya.
"Kau bilang kau lemah"
Nico mengingat kembali peristiwa beberapa hari yang lalu saat Rara menghujani dirinya dengan pukulan.
"Beraninya kau menyur__" kalimat Nico terhenti dan pria itu menoleh kearah pintu.
"Boleh aku masuk?" Anggie menyembulkan kepalanya dari balik pintu sambil tersenyum.
"Kau...masuklah" kata Nico.
"Dan kau, teruskan pekerjaanmu!" Nico menatap tajam kearah Rara.
Anggie membulatkan matanya, setelah masuk kedalam ruangan kerja Nico.
"Ya...ampun. Ruanganmu berantakan sekali" Anggie melihat kearah Rara yang sedang meneruskan pekerjaannya mendorong sofa.
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Aku hanya merubah sedikit suasana diruangan ini" balas Nico santai, duduk dikursi kebesarannya.
"Mau apa lagi kau datang kemari?" kata Nico dengan nada sedikit tidak senang menatap kearah Anggie. Karena wanita itu telah mengganggu keasyikannya mengerjai Rara.
"Aku hanya ingin menghantarkan ini" Anggie meletakkan kartu undangan dengan desain yang elegan diatas meja kerja Nico.
Nico meraih kartu itu dan melihatnya.
"Aku akan datang" kata Nico tersenyum kearah Anggie.
"Hei, kau. Buatkan kami minuman" perintah Nico kepada Rara.
Dan Anggiepun menepuk pundak Nico. Menurutnya Nico terlalu keras kepada supirnya itu.
"Baik, tuan" kata Rara.
Saat gadis itu akan melangkah, kakinya tersandung lipatan karpet yang terhimpit oleh sofa.
"Aw.." jerit Rara. Meletakkan tangannya dikening yang terbentur kemeja sofa.
Secara spontan, Anggie melangkah dengan tergesa-gesa menghampiri Rara.
"Nico, kening Rara terluka. Tolong kau ambilkan kotak P3K" pekik Anggie.
"Leon. Kau bawa kemari kotak P3K!" perintah tegas Nico melalui sambungan telepon diatas meja kerjanya.
__ADS_1
Leon masuk kedalam ruangan kontor Nico dengan kotak P3K ditangannya. Pria itu sempat mengerutkan keningnya melihat ruangan kerja Nico yang tampak sedikit berantakan dan mendapati Rara yang terluka.
"Cepat Leon" pinta Anggie. Leon mengulurkan kotak P3K kepada Anggie. Dengan telaten wanita itu mengobati luka dikening Rara.
"Untung tidak membentur ujung meja. Kalau tidak lukamu pasti dalam" Anggie melirik Rara sekilas.
Baik Nico maupun Leon hanya diam memperhatikan interaksi antara dua wanita itu dan tangan Anggie yang cekatan mengobati luka dikening Rara.
"Sakit, ya..." Anggie meniup-niup kening Rara pelan.
Saat Rara meringis sakit, tampa sadar Nicopun ikut meringis.
"Sudah selesai" Anggie menepuk-nepuk telapak tangannya.
"Terima kasih, nona Anggie" Rara menundukkan kepalanya.
"Sama-sama" balas Anggie.
"Berapa umurmu?" tanya Anggie kepada Rara.
"Dua puluh satu tahun, nona" jawab Rara.
"Usia kita tidak terpaut jauh. Mulai besok usiaku bertambah, menjadi Dua puluh tujuh tahun" Anggiepun terkekeh. Mengingat usianya yang semakin tua. "Kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan nona. Panggil saja aku Kak_ Anggie" kata Anggie dengan mimik wajah yang lucu.
"Baiklah nona...eh, maksud Rara Kak Anggie" balas Rara tersenyum kecil.
"Oh, ya...besok kau juga harus datang kepesta Ulang Tahunku. Aku mengundangmu secara khusus" Anggiepun berdiri.
__ADS_1
...✍️Bersambung ......