My Love Supir

My Love Supir
Sc. 11


__ADS_3

Sekali lagi Nico bertepuk tangan memuji Anggie setelah berada diruangannya.


"Persentasimu itu tadi sungguh luar biasa" menatap wanita cantik yang duduk dihadapannya dengan kagum.


"Kau ini terlalu berlebihan" balas Anggie.


"Jadi kau memutuskan kembali ke Jakarta, untuk meneruskan perusahaan Daddymu?" tanya Nico.


"Sepertinya begitu" Anggie menjawab dengan senyum.


"Aku berharap bisa bekerja sama dengan perusahaan besar sepertimu. Karena itu aku ingin mengajakmu untuk makan siang hari ini, bila kau tidak berkeberatan" kata Anggie.


"Apa kau sedang menyogokku?" seloroh Nico sambil tertawa.


"Menurutmu?" balas Anggie dengan senyum menggoda.


"Anda berhasil menyogokku nona " balas Nico. Dan mereka berduapun tertawa.


Setelah hampir seminggu Rara tidak masuk kerja sejak kecelakaan hari itu, pagi ini ia sudah siap kembali untuk bekerja sebagai supir dari seorang Nico Donzalles.


"Masuk" perintah Nico setelah mendengar suara asistennya itu. Matanya tetap fokus pada layar laptop dihadapannya.


Setelah beberapa menit...


"Kenapa kau masih berdiri disitu?" tanya Nico, tampa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Dimana ada beberapa foto hasil bidikan anak buahnya saat Rara beberapa kali keluar dengan Bhumi.

__ADS_1


"Tuan belum menyuruhku untuk duduk" jawab Rara.


"Ck.." Nico berdecak. Ia mengingat kembali kejadian pertama kali gadis itu datang menginjakkan kaki diruangannya.


"Kau datang kemari untuk mulai kerja kembali atau untuk mengundurkan diri" Nico menutup laptopnya.


"Mengapa tuan berkata seperti itu padaku? Tentu saja untuk kembali bekerja sebagai supir tuan. Tuan, tau sendiri bukan Rara habis mendapat kecelakaan" jawab Rara.


"Kecelakaan atau sedang berlibur? Lagian mana aku tau kau habis mengalami kecelakaan, karena kau tidak mengabariku" kata Nico.


"Mengapa mulutmu itu pedas sekalian tuan" rutuk Rara hanya dalam hati.


Leon yang menyaksikan pembicaraan itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Itu karena ponsel lamaku rusak tuan" bela Rara.


"Apa aku mengganggu pembicaraan kalian" Anggie menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


"Masuklah..." perintah Nico.


"Sekarang kau buatkan kopi untuk kami bertiga" titah Nico kepada Rara. Lalu berjalan kearah sofa diruangan kerjanya, dimana Anggie duduk disana.


"Aku teh saja" sela Leon.


"Baik tuan" Rara keluar dari ruangan Nico menuju pantry.

__ADS_1


"Dia itu mengapa semakin menyebalkan. Tidak ada rasa empati sedikitpun pada karyawannya, yang sedang mendapatkan musibah" gerutu Rara. Sambil mengaduk minuman untuk Nico, Leon dan juga Anggie.


Menit kemudian Rara telah masuk kembali keruang kerja Nico dengan napan berisi dua cangkir kopi dan satu cangkir teh beserta cemilannya.


Rara meletakkan minuman itu diatas meja, meninggalkan Nico, Leon dan Anggie yang tengah santai bercakap-cakap.


Nico meraih cangkir kopi diatas meja dan menyeruputnya. Tiba-tiba pria itu menyemburkan kembali air kopi dari mulutnya.


"Kenapa rasanya asin sekali"


Leon dan Anggie kompak saling memandang. Lalu mencicipi minuman mereka masing-masing.


"Punyaku tidak" kata Anggie


"Tehku manisnya pas" sambung Leon lagi.


"Ra_ra..." pekik Nico penuh kegeraman.


"Apakah mereka selalu seperti ini? Hmm, maksudku antara Nico dan supirnya itu?" Anggie menahan senyumnya bertanya pada Leon.


"Sesekali" balas Leon datar.


"Oh...so sweet" Anggie tertawa lepas, tak mampu lagi menahan rasa geli yang menjalari hatinya. Baru kali ini ia melihat muka Nico memerah menahan amarah karena ulah seorang supir.


Rara buru-buru mengambil langkah seribu, meninggalkan kantor Nico.

__ADS_1


Didalam lift Rara tertawa lepas, karena hanya ada dirinya didalam lift itu. Ia sudah dapat membayangkan betapa marahnya pria itu karena telah dipermainkan olehnya.


...✍️Bersambung ......


__ADS_2