
Nico berjalan terlebih dahulu masuk kedalam mansion.
Para tamu undangan telah hadir dikediaman keluarga Ferdinand. Bisa dipastikan, semua tamu dari kalangan atas. Ada juga beberapa selebritis tanah air yang hadir pada malam pesta perayaan Hari Ulang Tahun Anggie itu.
Rara sempat ragu untuk melangkah masuk. Tapi gadis itu teringat akan janjinya pada Anggie untuk hadir diacara pesta perayaan hari Ulang Tahunnya.
Rara melihat Nico telah berbaur dengan tamu yang lain.
Pikirannya bimbang antara mau mendatangi Nico atau tidak. Yakin tidak ada orang yang dikenalnya diantara tamu yang hadir, Rara memilih untuk menuju jejeran prasmanan.
Memilih-milih beberapa kue kecil disana.
"Rara..." sapa seseorang dibelakang tubuhnya.
"Bhumi..." gumam Rara membalikkan badannya.
"Akhirnya ada juga yang aku kenal disini" kata Rara sangat senang.
"Kau datang pasti bersama atasanmu itu,kan?" tebak Bhumi dengan raut wajah tidak senang.
Rara meng-anggukan kepalanya.
"Tadinya aku ingin mengajakmu kepesta ini. Tapi aku ragu. Maafkan aku ya, Ra" Bhumi menatap dalam manik hitam bola mata gadis itu.
Bhumi menarik tangan Rara. "Kita ngobrol ditempat lain"
Nico mengepalkan kedua tangannya menatap Bhumi dan Rara dari kejauhan.
__ADS_1
"Nico. Makasih ya udah datang" Anggie melangkah kearah Nico. Yang terlihat tampak sangat anggun dan cantik malam itu. Lalu Anggie memeluk pria itu sesaat.
"Rara mana? Apa dia tidak datang bersamamu?" tanya Anggie. Setelah mengurai pelukan mereka.
"Ini untukmu" Nico menyerahkan sebuah kotak kepada Anggie. Mengalihkan pembicaraan mereka tentang Rara.
Anggie membuka kotak tersebut dengan mata berbinar. "Thank You" sekali lagi wanita itu memeluk tubuh Nico.
Anggie melingkarkan tangannya dilengan Nico. Melangkah menemui Daddynya.
Saat melewati tamu yang lain. Anggie menangkap sosok pria yang sangat dicintainya itu.
Tampa melepaskan tangannya yang melingkar dilengan Nico. Anggie berjalan kearah Leon.
Nico yang juga telah melihat Leon hadir dipesta itu, hanya menurut saja saat Anggie menarik lengannya mendekat kearah Leon.
"Kau tidak boleh menolak, dihari istimewaku" bisik Anggie ketelinga Leon.
Anggie melangkah dengan tersenyum lebar, Leon dengan wajah datar dan dinginnya sedangkan Nico menampakkan seringai tipis diwajahnya.
Mereka bertiga menjadi pusat perhatian tamu yang datang malam itu.
Tepuk tangan para tamu mengiringi langkah Anggie, Leon dan Nico menaiki panggung utama.
"Betapa beruntungnya Kak Anggie" gumam Rara dalam hati. Melihat mereka bertiga naik keatas podium.
"Ra_Rara. Kau dengar aku tidak?" Bhumi menyenggol bahu Rara.
__ADS_1
"Eh...kau bilang apa tadi?" Rara tersenyum kaku kearah Bhumi.
"Aku memang tidak sesukses dia Ra. Tapi aku tulus sayang sama kamu" batin Bhumi.
"Aku bilang...kau gadis tercantik malam ini" goda Bhumi.
"Makasih" Rara nekukkan kakinya sedikit membungkukkan badannya bak putri raja.
"Kau disini rupanya" kata seorang wanita paruh baya yang masih tampak cantik. Menatap sekilas kearah Rara.
"Ma...ini kenalin Rara. Temen deket Bhumi" Bhumi tersenyum.
Rara mengulurkan tangannya kearah Mamah Bhumi.
"Rara, Tante" kata Rara masih dengan menggulurkan tangannya.
"Mah.." tegur Bhumi. Mengisyaratkan menyambut uluran tangan Rara.
Rara tersenyum kecut menarik kembali tangannya.
"Maafin mamah aku, ya" bisik Bhumi.
Rara meng-anggukan kepalanya.
"Temani mamah" kata Mamah Bhumi menarik lengan anaknya.
"Aku tinggal dulu sebentar. Kau jangan kemana-mana" Bhumi menengok kebelakang menatap Rara.
__ADS_1
...✍️Bersambung ......