
Semua tamu tampak sibuk berbicara dan berbicang-bincang dipesta Ulang Tahun Anggie yang meriah malam itu.
Rara melangkahkan kakinya menuju taman yang terdapat kolam renang disamping mansion Ferdinand.
"Hei. Cantik boleh aku temani" kata seorang pria yang sudah tampak hampir separuh baya. Yang sudah berdiri disamping Rara.
Rara kanget dan menjauh selangkah dari pria itu.
"Jangan takut. Om gak menggigit kok" kata pria itu mengedipkan sebelah matanya yang dihalangi oleh kaca mata. Mendekat kearah tubuh Rara.
"Kamu gemesin banget, kalau pura-pura takut begitu" kata pria itu lagi semakin berani menggoda Rara.
"Mau kemana" pria itu menarik tangan Rara, saat Rara ingin pergi meninggalkannya.
"Om...lepasin Rara" Rara menatap pria itu tajam.
"Om...lepasin gak" bentak Rara lagi, karena pria paruh baya berkaca mata itu semakin kencang menahan tangannya.
"Lepas gadis itu" bentak Leon.
"Pak Leon..." kata Rara.
Melihat Rara mengenali Leon. Pria separuh baya itu, melepaskan tangannya dari Rara dan pergi melangkah dengan terburu-buru meninggalkan Rara dan Leon.
"Nona Rara mengapa disini sendiri?" Leon menarik tangan Rara untuk masuk kembali kedalam.
"Aku tidak kenal siapa-siapa disini, pak" kata Rara. Menarik tangannya dari genggaman tangan Leon.
Tampak Nico berjalan kearah Rara dan Leon. Lalu Nico menarik paksa tangan Rara meninggalkan pesta itu.
__ADS_1
Leon menghela nafasnya, menatap punggung Nico dan Rara yang kian menjauh.
"Masuk!" Nico mendorong tubuh Rara masuk kedalam mobil mewahnya.
Lalu pria itu duduk dijok kemudi.
"Aw...sakit, tuan. Lepasin gak?" Rara memukul-mukul tangan Nico yang menjewernya.
Rara mengusap-usap daun telinganya. "Rara salah apa lagi" kata Rara dengan mata berkaca-kaca.
"Kau tidak tau apa salahmu?" hardik Nico.
Rara meng-gelengkan kepalanya pelan.
"Kau datang bersama siapa dipesta ini?" tanya Nico menatap intens kearah Rara.
"Dengan tuan" jawab Rara.
"Tuan yang meninggalkan Rara sendiri" jawab Rara menundukkan kepalanya.
Nico menghela nafasnya dengan kasar. Lalu melajukan mobilnya.
Rara yang merasa sangat lelah seharian ini. Membuat gadis itu tertidur.
Sesekali Nico melihat kearah Rara yang sedang tertidur lalu fokus kembali melihat kedepan jalan raya.
Sesampainya didepan gang sempit kosts-an Rara. Nico tidak langsung membangun gadis itu. Perlahan ia mendekatkan wajahnya kewajah Rara yang sedang tertidur.
"mmm" Rara merenggangkan otot-otot tubuhnya.
__ADS_1
Membuat Nico secepatnya menjauhi gadis itu.
Rara membuka matanya perlahan "Sudah sampai? Maaf Rara tertidur" Rara menatap kearah Nico.
"Hem. Masuk dan istirahatlah" kata Nico membukakan sentral lock pintu mobil itu.
Keesokan harinya...
Rara tengah membersihkan mobil Nico dihalaman mansion Donzalles. Gadis itu tersenyum melihat Nico datang menghampiri.
"Selamat pagi, tuan" sapa Rara.
"Pagi. Bagaimana tidurmu, nyenyak?" tanya Nico. Tersenyum tipis.
"Tuan Nico pagi-pagi sudah kesambet" batin Rara.
"Hei. Aku bertanya padamu" bentak Nico.
Rara mengerdipkan matanya. "Nyenyak, Alhamdulillah tuan" Rara membukan pintu mobil bagian belakang.
"Sudah siuman kembali" gumam Rara dalam hati. Terkekeh masuk kedalam mobil dan duduk dikursi kemudi.
"aw..." Rara menipiskan tangan Nico dari kupingnya.
"Mengapa tuan senang sekali menarik kupingku?" Rara menoleh kebelakang dengan raut wajah kesal.
Nico tak mengacuhkan pertanyaan Rara.
"Cepat jalan. Aku ada rapat penting pagi ini" Nico mengeluarkan ponsel dari balik jasnya.
__ADS_1
Rara mendengus kesal.
...🍀Bersambung......