
"Ada yang ingin kau katakan?Apa yang sebenarnya terjadi!" tanya Nico kepada Leon.
Setelah Hawk meninggalkan ruangannya.
"Apa kau menolak Anggie untuk kembali?" tanya Leon.
"Leon. Kau itu jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan" Nico menatap tajam kearah asistennya.
"Baiklah, akan aku ceritakan padamu. Malam itu setelah pulang dari club_" Leon mulai bercerita, manatap kearah Nico yang tengah menegakkan badannya.
"Anggie tidak aku antar pulang kemansion Ferdinand, atas permintaannya. Aku membawanya pulang kehotel. Anggie yang saat itu sedang dalam keadaan mabuk, terus-menerus menggodaku. Bagaimanpun, aku adalah laki-laki normal" tutur Leon.
"Brengsek kau Leon" maki Nico dalam hati.
"Setelah itu aku sadar sepenuhnya, bagaimana perasaanku padanya. Aku tidak dapat melakukan ITU, kepada wanita yang tidak aku cintai dan aku meninggalkan Anggie sendiri dikamar hotel" kata Leon menyudahi ceritanya dengan ekspresi datar dan dingin.
Menit-menit kemudian baik Nico maupun Leon sama-sama saling terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
Nico mengerti sekarang apa yang membuat Anggie mengambil keputusan untuk kembali ke Australia secara tiba-tiba, tampa mengabarinya.
Baik Leon maupun dirinya telah menoreh luka dihati wanita itu, dengan begitu dalam.
"Menurutmu, apa Hawk mengetahui hal ini?" tanya Nico. Menatap lurus kearah Leon. Setelah mereka sempat terdiam beberapa saat.
__ADS_1
"Aku tidak tau pasti" jawab Leon, datar.
"Kalau begitu, kau awasi Hawk" perintah Nico.
Leon meng-angguk mengerti.
"Sekarang kau suruh Rara siapkan mobil" perintah Nico lagi.
Leonpun beranjak menuju pintu ruangan itu.
"Leon" panggil Nico dengan sedikit ragu.
Leon membalikkan badannya.
"Apa kau serius saat itu, mengatakan tipe wanitamu seperti Rara?" tanya Nico.
Nico tersenyum dan meng-gelengkan kepala keluar dari ruangannya.
"Kita kemansion!" titah Nico kepada Rara, setelah ia berada didalam mobil.
Tidak memakan waktu lama kini mobil mewah itu telah memasuki halaman luas didalam mansion Donzalles.
"Kau jangan pulang dulu. Temani aku makan malam" pinta Nico kepada Rara dan masuk begitu saja kedalam mansion. Tampa perduli apakah Rara setuju atau tidak atas ajakannya.
__ADS_1
"Diktator" gumam Rara. Mencibir kearah punggung Nico yang berjalan membelakanginya.
Rara menunggu Nico duduk diruang tengah mansion. "Sepi sekali" gumam Rara. Menatap kesekeliling ruangan tengah mansion yang luas itu.
"Karena itu aku malas pulang kemari" tiba-tiba Nico muncul dan kini pria itu tengah melangkah menuju ruang tengah mansion dan duduk di sofa.
Rara tersenyum kecil menanggapi ucapan pria itu.
"Tuan. Makanan sudah siap" kata kepala pelayan mansion.
Nico mengangguk dan melangkah menuju ruang makan diikuti Rara yang mengekor dari belakang.
Hening...
Hanya terdengar suara gesekan halus garpu dan pisau dimeja makan yang berukuran besar itu.
Sesekali Nico dan Rara saling curi pandang dan saat mata mereka saling bertemu hanya saling mengulas senyum kecil dibibir keduanya.
"Bagaimana, kau suka dengan masakannya?" tanya Nico. Menyeka bibirnya dengan serbet, setelah mereka menyelesaikan makan malam.
"Enak sekali" Rara tersenyum simpul.
"Nanti kau diantar pulang oleh pelayanku" kata Nico. Meninggalkan Rara yang ada diruang makan dan naik kelantai atas yang terdapat dimansion itu.
__ADS_1
"Ya, ampun. Mengapa aku masih saja bisa bertahan bekerja untuknya" batin Rara.
...✍️Bersambung ......