
Setelah turun dari helikopter.
Sepanjang langkah Nico dan Rara menuju lift, mereka terlihat akur sedang mengobrol.
"Lebih seru mana dengan permainan didufan?" goda Nico. Mengerlingkan matanya kearah Rara. Memasukkan kedua tangan disaku celana.
Rara tertawa kecil mengingat kembali, kejadian beberapa bulan yang lalu. Saat dirinya baru bekerja sebagai supir. Kala itu Nico menyuruhnya untuk mencari tempat yang menyenangkan.
"Tuan Nico memang The Real Sultan" jawab Rara. Menoleh kearah Nico, saat ia melangkah masuk kedalam lift.
Sesaat mereka telah berada didalam lift dan lift itu sempat bergerak turun beberapa lantai.
Drek
Tiba-tiba lift itu berhenti bergerak.
Nico dan Rara saling menoleh.
Detik berikutnya lampu didalam lift itupun ikut padam.
"Tuan Nico..." panggil Rara, lirih. Meraba-raba disekitarnya.
"Aku disini" Nico mengambil ponsel dari saku celana dan menyalakan senter.
Dibawah cahaya lampu senter dari ponsel Nico. Tampak Rara memeluk tubuh Nico dari arah samping dengan wajah ketakutan. Jemarinya meremas kuat kemeja pria itu.
"Ternyata kau takut gelap?" ledek Nico.
"Tuan, apa kau pernah menonton adegan film, disaat lift berhenti lalu meluncur bebas jatuh kebawah?" tanya Rara. Menengadahkan wajahnya.
Pletak
Rara mengusap pelan kepalanya yang dijitak Nico. "Sakit tuan"
__ADS_1
"Itu hukuman karena kau sudah bicara sembarangan" kata Nico, kesal.
"Lepasin" pinta Nico.
"Gak mau" tolak Rara.
"Lepas_in" Nico mencoba mengurai tangan Rara yang melingkar ditubuhnya.
"Gak mau" Rara tetep kekeh. Semakin kencang memeluk pria itu.
"Kau yang memaksaku"
Nico menyeringai tipis, mendorong, menghimpit tubuh Rara kearah dinding didalam lift.
"Tuan Nico. Kau mau apa?!" tanya Rara bertambah ketakutan.
"Menurutmu...?" Nico menatap kearah bibir tipis milik Rara seraya memiringkan wajahnya.
Haup
"emm" Nico membungkamkan jeritan gadis itu dengan tangannya.
"Tuan__Nona Rara" sapa Leon, datar. Berdiri diluar lift dengan pintu yang telah terbuka.
"Kenapa kau lama sekali?!" Semprot Nico kepada Leon. Merapikan pakaiannya.
"Maaf tuan" kata Leon.
"Dan kalian..." Nico menunjuk kearah dua orang tenaga teknisi yang juga berdiri disana. "Anggap kalian tidak pernah melihatnya!" ancam Nico.
Kedua orang tenaga teknisi itu, secara bersamaan meng-anggukan kepalanya dengan rasa takut.
"Nona Rara apakah anda baik-baik saja?" tanya Leon. Menatap kearah Rara yang masih berada didalam lift.
__ADS_1
"Eh...iya, Pak" jawab Rara malu menundukkan kepalanya.
"Selamet...selamet" Rara mengelus dadanya.
Kemudian Leon menyusul langkah tuannya itu.
Didalam ruangannya, Nico tampak tengah tersenyum-senyum sendiri. Mengingat kejadian selama Lima Belas Menit terperangkap bersama supirnya itu didalam lift. "Hampir saja" gumamnya.
Ehem
"Tuan. Orang-orang dari BBN TV sejak dari tadi sudah menunggu anda" kata Leon.
"Suruh mereka masuk dan siapkan pakaianku" perintah Nico.
"Permisi tuan..." kata salah seorang crew dari BBN TV berdiri didepan pintu ruangan itu.
"Masuklah" kata Nico.
Ketiga orang crew BBN TV dan seorang penata rias profisional melangkah masuk kedalam ruangan kantor Nico.
"Maaf. Membuat kalian lama menunggu" kata Nico, menatap ke-empat orang yang ada didalam ruangannya.
Sementara ke-empat orang itu hanya saling berpandang-pandangan.
Karena tidak biasanya seorang Nico Donzalles akan bersikap ramah.
Selama ini. Pria yang masuk dalam jajaran Pengusaha Muda nomer Dua, tersukses dan terkaya di Indonesia itu, terkenal Arogan dan menutup diri dari Media.
Suatu kehormatan bila pria itu kini meminta maaf, apalagi kepada para pemburu berita.
"Tidak masalah tuan. Kami sangat maklum, orang seperti anda pastilah sangat sibuk" kata seorang wanita dari ke-tiga crew BBN TV tersebut sambil tersenyum.
...✍️Bersambung .......
__ADS_1