My Love Supir

My Love Supir
Sc. 45


__ADS_3

Malam itu setelah selesai mengemasi semua pakaiannya. Rara tertegun, duduk dipinggir ranjang menatap kearah koper miliknya.


"Apakah keputusanku ini sudah tepat?" gumam Rara. Menelungkupkan kedua tangan kewajahnya.


Sementara itu Winda dirumahnya. Baru saja mendapat kabar dari Leon. Padahal baru beberapa jam yang lalu pria itu datang kerumah.


Awalnya Winda sempat terkejut mendapatkan perintah secepat ini. Kalau Leon mengatakan rencana mereka harus dimulai besok pagi.


Mau tidak mau Winda hanya menurut saja, sesuai dengan janjinya kepada pria itu.


"Mah. Winda berangkat, ya" Winda mencium punggung tangan mamahnya.


"Sebentar..." Mamah Winda mengambil tissue yang terletak diatas meja, mengelap eyeliner dan lipstik diwajah Winda.


"Mah__" Winda menjauhkan wajahnya dari tangan wanita paruh baya itu. "Kok dihapus?"


Mamah Winda menarik tangan Winda menuju cermin yang ada diruang tengah itu.


"Coba kamu lihat. Apa wajah seperti ini mencerminkan kalau kamu lagi kesulitan?"


Winda nyengir kuda. "Ya...sudah sini. Biar Winda yang lap sendiri" Winda mengambil tissue dari tangan mamahnya.


"Nah...natural begitukan lebih meyakinkan" kata Mamah Winda dengan senyum kecil dibibirnya.


"Yang bagus actingnya" goda Mamah Winda. Mengantarkan anak gadisnya sampai keluar pintu rumah.


Winda menarik nafas dengan sangat panjang dan menghembuskanya secara berlahan, sebelum membuka pintu pagar kost-an sabahatnya itu.

__ADS_1


"Ra..." Winda mengetuk pelan pintu kamar kost Rara.


"Seperti suara Winda" Rara menatap kearah jam dinding didalam kamarnya.


"Ada apa ya?" gumam Rara mengerutkan keningnya. Melangkah kearah pintu.


Cleg


"Rara..." Winda menangis pilu. Memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Win...lu kenapa?" tanya Rara. Hatinya mulai diliputi perasaan tidak enak. Lalu, mengajak Winda masuk kedalam kamarnya, setelah mengurai pelukan mereka.


"Gw baru tau ini tadi malam, Ra..." kata Winda. Dengan sesegukan. Menatap kearah Rara.


"Please Tuhan. Maafkan Winda dan Mamah" gumam Winda didalam hati.


Untuk bisnis toko kue dan catering yang selama ini menjadi penopang hidup mereka. Belakang ini usaha mamahnya tidak terlalu berjalan dengan lancar.


Sehingga pihak Bank, dalam waktu dekat ini terpaksa menyita rumah peninggalan mendiang ayahnya, yang selama ini menjadi tempat mereka berteduh.


"Empat ratus juta?" Rara membelalakkan matanya. Menatap kearah Winda.


"Iya, Ra" Winda menundukkan kepalanya. Karena ia sungguh tidak sanggup melawan tatapan mata sahabatnya itu.


"Dimana mau cari pinjaman uang sebanyak itu?" batin Rara.


Ehem

__ADS_1


Winda mendehem menetralisir tenggorokannya yang terasa sangat kering.


Setelah sepersekian menit saling diam, dengan pikiran mereka masing-masing.


"Ra_Lu. Bisa tolong gw, gak?" tanya Winda. Meremas ujung pakaiannya.


"Apa?" Rara menautkan kedua alisnya.


"Pinjam sama tuan Nico" kata Winda.


"What!" pekik Rara.


Bola mata gadis itu, seperti akan melompat dari cangkangnya.


"Gila, lu Win. Lu sendirikan tau bagaimana posisi gw saat ini. Gw baru aja berencana untuk pergi jauh-jauh dari dia" kata Rara. Dengan kasar menghela nafasnya.


"Oh...ini rupanya. Kenapa Om Leon nyuruh gw secepatnya menjalankan rencana ini?" gumam Winda dalam hati.


"Lu. Tega apa liat gw dan mamah jadi gelandangan?" Winda menatap intens kearah Rara.


Tiba-tiba saja keberaniannya muncul kembali.


"Please, Ra...." Winda menelungkupkan kedua tangan didadanya.


"Lalu jaminan kita ketuan Nico apa?" tanya Rara.


"Rumah gw! Paling tidak kemungkinan besar kalau rumah gw ditangan tuan Nico, gw dan mamah masih bisa tinggal disana" jawab Winda.

__ADS_1


...✍️Bersambung ......


__ADS_2