
"aw" pekik Rara. Mengusap telinganya. Menoleh kearah Nico yang duduk disampingnya dengan wajah cemberut.
"Aku juga bertanya padamu"
"Tadi Mamahnya dan Winda menawari kami makan siang dulu" jawabnya. "Rejeki itu tidak boleh ditolak, betulkan begitu Pak Leon?" tanya Rara. Mencari pembelaan.
Leon meng-angguk pelan. Menatap lurus kedepan jalan raya.
"Ck. Kalian memang sedang sekongkol mengerjaiku"
"Aku sudah menyuruh orangku untuk mengambil pakaianmu dikost-an" kata Nico, lagi.
Awalnya ia hanya ingin menggoda gadis itu dengan mengatakan akan menikahinya segera. Melihat bagaimana reaksi Rara yang tiba-tiba pingsan pagi tadi setelah mendengar ucapannya. Membuat Nico, semakin bersemangat mempercepat rencananya. Ia menilai inilah waktu yang tepat untuk menarik gadis itu masuk sepenuhnya dibawah kendalinya.
Rara menanggapi ucapan Nico dengan mengangguk pelan. Memutar wajahnya memandang jalan raya lewat jendela disampingnya.
Rara kembali sibuk dengan isi benaknya. Ia sudah bertekad, akan menghadapi apapun yang akan terjadi dengan dirinya, nanti.
__ADS_1
"Aneh..." gumam Nico dalam hati. Mencuri pandang kearah Rara yang duduk disampingnya. Gadis itu terlihat tenang saja. Memandang keluar melalui jendela yang ada disampingnya. Bahkan Nico bisa melihat sekilas wajah manis itu melukis senyum tipis dibibirnya. Tidak seperti biasa yang selalu saja membantah dirinya.
Tidak memakan waktu lama. Mobil mewah itu kini telah masuk kedalam halaman luas mansion Donzalles.
"Ikut aku!" perintah tegas itu keluar dari mulut Nico. Begitu pria itu melangkah masuk kedalam mansion, tampa menoleh kebelakang.
Rara yang berjalan tepat dibelakang tubuh Nico, mau tidak mau hanya mengikuti saja langkah pria didepannya itu.
Tentu saja Rara sebagai seorang supir pribadi dari seorang Nico, ia pernah menginjakkan kaki kedalam mansion yang sangat luas itu. Tetapi hanya sebatas ruangan-ruangan tertentu.
Tepat didepan pintu sebuah kamar yang terletak sedikit jauh dari ruangan yang lain. Nico menghentikan langkahnya. Menekan beberapa nomer code rahasia pada alat pengunci didepan pintu.
Rara menoleh sedikit kebelakang saat Nico mengunci pintu ruangan itu. Perlahan ia melangkah masuk kedalam. "Oh...my God. Ruangan apa ini?" tanya Rara didalam hati. Menutup mulutnya dengan tangan.
Menyebarkan pandangan keseluruh sudut yang terdapat diruangan luas itu. Dengan bulu kuduk yang telah berdiri.
"Inilah adalah tempat bagi seorang penghianat!" Nico menatap tajam kearah Rara. "Aku tidak akan pandang bulu, siapapun orangnya yang berani menghianatiku, maka akan bertemuku disini"
__ADS_1
"Me_mengapa kau bawa Rara kesini?" Rara bertanya dengan gugup.
"Aku hanya memperingatkanmu. Jangan berani-berani, sekalipun menikamku dari belakang!" Nico menatap Rara dengan sangat intens. Tepat dikedua manik hitam mata gadis itu.
"Dia...Dia benar-benar gila"
"Nico. Lepaskan aku!" bentak Rara. Menghentakkan tangan pria itu dengan sangat kasar. Ketika ia berusaha kabur dari ruangan itu.
"Kau mau kemana, hah?!" sentak Nico. Mencengkeram tangan Rara lebih kencang.
"Nico. Kau membuat Rara takut" jawab Rara. Meringis kesakitan. Hingga dia telah melupakan menambahkan embel-embel tuan.
"Kenapa kau menjadi takut?" tanya Nico. Semakin mendekat kearah Rara. Yang tidak lagi memanggilnya dengan sebutan tuan.
"aw" pekik Rara. Saat Nico mendorong tubuhnya kearah kursi yang ada diruangan itu. Mengunci tubuh Rara dengan kedua tangannya.
"Mengapa kau berfikir Rara akan menghianatimu?" tanya Rara. Mendongakkan kepala. Dengan segenap kekuatan dan keberanian yang tersisa menantang tatapan tajam pria itu.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian Nico dan Rara saling mengunci tatapan mereka.
...✍️Bersambung ......