My Love Supir

My Love Supir
Sc. 54


__ADS_3

Rara mengerutkan sedikit keningnya, mendapati mansion itu terlihat seperti hari-hari biasanya, sepi. Ia mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Nico yang berdiri disisinya, saat melihat pria paruh baya yang kini melangkah tegas menuju kearah ruangan tengah mansion itu.


"Tuan muda, didepan pintu gerbang mansion ada beberapa wartawan" kata Sam. Kepala pelayan dimansion itu, dengan raut wajah datar.


"Sudah kuduga" batin Nico. Menarik tipis sudut bibirnya. Menoleh kearah Rara lalu meraih tangan gadisnya. Menelusuri ruangan menuju halaman belakang dimansion itu.


"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Rara. Menoleh sekilas kearah Nico yang duduk disampingnya. Saat mereka sudah berada didalam mobil yang tengah melaju itu, melewati pintu gerbang bagian belakang mansion.


"Apartemenku" jawab Nico. Dengan singkat. Melirik kearah Rara.


"Apartemen?" tanya Rara, lirih. Pada dirinya, yang merasa sedikit bingung. Mengulangi ucapan Nico.


Awalnya Rara berpikir acara pernikahan kilat mereka akan diadakan dimansion pria itu. "Kenapa diapartemenmu?"


Nico menatap intens kearah Rara. "Karena disana tempat pertama kali aku bertemu denganmu"


Rara mengulas senyum kaku, mendengar penjelasan Nico. Ia tidak mengira bahwa pria itu, akan mengingat momen pertama kali mereka bertemu denga cara yang tidak menyenangkan sama sekali. Terkhusus buat dirinya.


"Untuk sementara waktu aku ingin pernikahan kita ini disembunyikan dulu. Kau tidak berkeberatan, bukan?" tanyanya, lagi.

__ADS_1


Rara mengalihkan pandangannya keluar jendela. "Terserah kau saja" jawab Rara dalam hati.


Nico memandang Rara, yang mengalihkan wajahnya menghadap kejendela mobil dan tidak menggubris perkataannya, dengan raut wajah datar.


Sementara itu mobil Leon, yang membawa Winda dan mamahnya telah lebih dahulu sampai diapartemen Nico.


"Silahkan..." kata Leon. Membukakan pintu apartemen itu.


Mamah Winda terbengong-bengong masuk kedalam apartemen Nico. Sungguh diluar perkiraannya. "Kok sepi" batinnya. Melirik kearah Winda yang tengah mengukir senyum simpul dibibirnya.


"Acara pernikahannya Rara beneran disini, nak Leon?" Akhirnya wanita paruh baya itu bertanya juga.


"Ho...oh" balas mamah Winda. Perlahan duduk disofa diruang tengah apartemen luas itu, sembari melihat kesetiap sudut ruangan.


"GaTot. Dong ya, mah" ledek Winda. Berbisik ditelingan mamahnya.


Mamah Winda menjelingkan matanya kearah anak gadisnya itu.


"waw" jerit Winda. Tercekat. Kesakitan mengusap pinggangnya yang dicubit mamah dengan segenap kegemasannya.

__ADS_1


"Bosqu...sepertinya tuan Nico tengah mengecohkan semua orang. Anak buah saya melaporkan sekitar beberapa menit yang lalu, melihat ada beberapa mobil keluar dari halaman belakang mansion Donzalles" lapor Kalr. Kepada Hawk melalui sambungan selular.


Hawk tersenyum dengan sinis. "Kau tarik semua ada buahmu dari sana" balas Hawk.


Tidak menunggu lama setelah Leon, Winda dan Mamahnya sampai diapartemen Nico. Menyusul pula beberapa orang Petugas dari KUA yang telah hadir didalam apartemen itu.


Kemudian menyusul datangnya rombongan kecil Nico dan Rara dari mansion beserta uncle Sam.


Winda hanya diam, dengan tenang. Mengikuti jalannya proses akad nikah yang super sederhana itu. Ia yakin, baik Nico maupun Rara punya alasan tersendiri untuk semua itu.


Acara akad nikah berjalan dengan lancar sesuai rencana yang telah diatur oleh Nico. Kini pria itu telah sah, secara agama maupun catatan sipil menjadi suami Rara.


"Nanti kau akan diantar Paman Sam pulang kemansion. Aku ada rapat penting hari ini dikantor" kata Nico. Menatap gadis imut yang kini telah sah menjadi istrinya. Setelah rombongan kecil dari KUA dan juga Leon yang mengantarkan kembali Winda dan Mamahnya pulang kerumah.


"Paman. Kau selidiki siapa orang dalam yang membocorkan semua ini, dan beri dia sedikit hukuman" kata Nico, lagi. Menatap tajam dan dingin kearah Paman Sam.


"Baik tuan muda" jawab Sam. Menundukkan sedikit kepalanya.


...✍️Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2