My Love Supir

My Love Supir
Sc. 30


__ADS_3

Rara mengukir senyum di bibirnya menyambut seorang wanita paruh baya yang masih tampak segar dan cantik diusianya, dari arah dalam ruangan rumah mewah itu, disampingnya berdiri seorang pemuda yang Rara kenal baru beberapa bulan ini.


Pemuda yang ramah dan juga bisa membuatnya terhibur dengan guyonannya.


Ia sendiri tidak pasti pada perasaannya. Apakah sekedar suka atau benar-benar jatuh hati pada Bhumi.


"Mah, ini Rara" Bhumi menoleh secara bergantian kearah Mamah dan Rara yang kini telah berdiri dari sofa.


"Rara, tante" Rara mengulurkan tangannya sambil tersenyum.


Mamah Bhumi menyambut sekilas uluran tangan gadis itu dengan wajah datar.


"Siapa nama orang tuamu dan bekerja dimana?" tanya Mamah Bhumi.


"Benny Suharja, beliau sudah Almarhum" jawab Rara.


Mamah Bhumi merespon dengan senyum tipis dibibirnya.


"Sudah berapa lama kenal Bhumi?" tanyanya lagi.


"Baru beberapa bulan ini, Tante" balas Rara.


"Bhum. Kamu itu ya...kalau cari temen mbokyo lihat-lihat dulu.


Pilih gadis dari keluarga yang baik-baik" Mamah Bhumi melirik sekilas kearah putranya.


"Mah_Mamah kok ngomongnya gitu. Rara ini gadis baik-baik" Bhumi menatap Mamahnya dengan raut wajah tidak suka.

__ADS_1


Rara mengisyarstkan dengan mata kepada Bhumi, untuk tidak bersitegang dengan Mamahnya.


"Gadis baik-baik kok yo...mabuk-mabukan dan keluar dengan banyak laki-laki" cibir Mamah Bhumi.


Rara yang tadinya hanya diam saat dihina oleh Mamah Bhumi, kali ini tidak terima atas tuduhan yang wanita paruh baya itu layangkan kepadanya.


"Tante saya tidak seperti yang anda katakan" tegas Rara.


"Lihat...Kau lihat. Dia berani bicara keras padaku" Mamah Bhumil menatap kearah putranya.


"Ayo.. Ra" Bhumi menarik lengan gadis itu.


Rara mengikut saja saat Bhumi mengajaknya keluar dari rumah.


"Bhumi...setelah kau antar gadis itu. Cepat pulang!" pekik Mamah Bhumi.


"Bhum...Rara gak apa-apa kok" kata Rara sekali lagi memberi penekanan pada pria itu.


"Nanti aku akan bicara lagi baik-baik sama Mamah" kata Bhumi kekeh.


"Bhum...kita masih bisa berteman!" Rara menatap intens kearah pria itu. Ia lelah harus bicara apa lagi pada pria yang terus ngotot untuk menyambung komunikasi antara dirinya dan Mamahnya yang sudah jelas-jelas tidak menyukainya.


"Rara masuk dulu. Gak enak kalau dilihat orang kita lama ngobrol didalam mobil" Rara keluar dari mobil Bhumi.


Walau bagaimanapun hatinya tidak terima dihina seperti itu.


Berlahan air mata itu jatuh juga dipipinya.

__ADS_1


"Seandainya aku tidak memaksanya untuk ketemu Mamah secepat ini. Maafin aku Rara" batin Bhumi, memandang bayangan punggung Rara dengan sendu.


Keesokan harinya....


Rara menatap matanya yang masih sedikit sembab didepan cermin.


"Apa aku ijin gak masuk kerja ya, hari ini?" gumam Rara.


Menimang-nimang keputusannya.


"Masuk aja, deh. Semangat Rara" pekiknya didepan cermin.


Nico mengerutkan keningnya melihat supirnya itu berpenampilan beda dari hari biasanya.


"Kau kenapa?" tanya Nico. Melihat Rara yang memakai kaca mata hitam.


"Lagi sakit mata, tuan" jawab Rara asal.


"Tuan mau duduk didepan lagi atau dibelakang" tanya Rara yang bersiap membukakan pintu untuk pria itu.


Saat Rara lengah, Nico meraih kaca mata hitam itu dari wajahnya.


Dengan gerakan cepat Rara merampas kembali kaca mata itu.


"Apa dia habis menangis?" batin Nico.


"Eh...tuan, mau kemana?" panggil Rara. Melihat Nico malah masuk kembali kedalam apartemen.

__ADS_1


...✍️Bersambung ......


__ADS_2