
Dari kejauhan tampak Bhumi telah berdiri didepan pintu utama gedung Donz.Drc.
"Bhumi..." kata Rara dalam hati.
Rara menghentikan mobil tepat didepan gedung.
Membukakan pintu mobil untuk Nico, sambil mencuri pandang kearah Bhumi dan Nico yang kini saling melangkah dari arah yang berlawanan.
"Boleh saya pinjam Rara sebentar?" pinta Bhumi yang kini berhadap-hadapan dengan pemilik gedung.
Nico hanya menatap lurus arah lawan bicaranya dengan aura dingin dan datar lalu, melangkah masuk kedalam gedung.
"Mau apa lagi?" bisik Rara kepada Bhumi. Setelah memastikan Nico tidak kelihatan, masuk kedalam lift.
"Kita ngobrol ditempat biasa" ajak Bhumi tersenyum tipis.
Rara menimbang sejenak ajakan pria itu. Meng-anggukan kepala dan menyamai langkah Bhumi menuju taman samping gedung .
Tempat biasanya mereka ngobrol dan ketemu.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" kata Bhumi. Setelah mereka berdua duduk dikursi yang ada ditaman.
"Boleh" jawab Rara singkat.
"Apa kau sering mengunjungi club dan minum-minum?" tanya Bhumi lagi.
Rara menoleh kearah Bhumi dengan kerut dikeningnya.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Mamahku bilang beliau pernah melihatmu, keluar dari club dalam keadaan mabuk" kata Bhumi.
__ADS_1
"Rara pernah sekali keclub dan__iya saat itu aku mabuk. Tapi, Rara bukan peminum. Terserah kamu mau percaya atau tidak" Rara menghela nafasnya.
Mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu. Saat berada diclub bersama Nico, Leon dan Anggie.
"Aku percaya sama kamu, Ra" sahut Bhumi.
"Bagaimana kalau kita back street, aja" Bhumi menoleh kearah Rara. Yang duduk disampingnya.
"Apa? Back street, emang Rara maling" kelakar Rara.
"Bhum, kita masih bisa tetap berteman. Selamanya" kata Rara lagi, menatap Bhumi dengan wajah serius.
"Selamanya?" Bhumi mengulangi perkataan gadisnya itu.
"hmm. Sampai kamu punya anak dan cucu" balas Rara.
"Kita berteman selamanya" Rara mengulurkan jari kelingkingnya kearah Bhumi.
"Boleh aku peluk kamu sekali ini saja" pinta Bhumi dengan wajah memelas.
Rara meng-anggukkan kepala dan merentangkan tangannya.
"Kamu makin dewasa dan bijaksana" kata Bhumi setelah mengurai pelukan mereka.
"Bila tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan Rara kembali bekerja" pamit Rara kepada Bhumi.
"Hmm" angguk Bhumi.
Rara melangkah menuju gedung dengan seutas senyum dibibirnya.
Bhumi menatap punggung Rara dengan perasaan haru.
__ADS_1
Rara tidak langsung naik kelantai, dimana letak ruangan kerja Nico.
Gadis itu memilih menuju ketempat biasa bila ia ingin sendiri.
"Aa" teriak Rara.
Meluapkan benak beban hatinya, diatas menara gedung itu.
"Kurang keras!" tiba-tiba seseorang diujung sana berteriak.
Rara menoleh kekiri dan kekanan mencari sumber suara.
Pria itu melompat turun dari safe line gedung, melangkah mendekat kearah Rara.
"Hawk Ferdinand" kata pria itu mengulurkan tangannya.
Detik kemudian pria itu menarik kembali tangannya. "It's ok" katanya tersenyum kecut.
Rara menilik wajah tampan campuran cultur dihadapannya. Tiba-tiba ia teringat dengan Anggie, wanita itu juga menggunakan nama belakang yang sama dengan pria yang mengaku bernama Hawk Ferdinand.
"Apa hubunganmu dengan keluarga Ferdinand?" tanya Rara.
"Aku sibungsu dari keluarga Ferdinand" kata Hawk, sambil tersenyum.
"Adik Kak Anggie?" tanya Rara lagi, masih menatap kearah Hawk. Mencari-cari kemiripan diantara mereka.
"Yup.You're right" Hawk mengedipkan sebelah matanya.
Drrtt
Rara mengambil ponsel dari saku celananya yang bergetar.
__ADS_1
...✍️Bersambung ......