
"Anggie, ayo kita pulang" Leon meraih pundak wanita itu.
"Aku tidak mau! Kau tidak perlu mengurusiku" bentak Anggie. Kembali merebahkan wajahnya diatas meja.
Terpaksa Leon menggendong Anggie agar wanita itu mau meninggalkan arena clubbing malam itu.
Keesokan harinya.....
Rara menggeliat diatas ranjang yang empuk dan luas itu. Membuka perlahan matanya.
"Aku dimana?" Rara menebarkan pandangannya didalam kamar luas itu.
"Aa..." jerit Rara. Begitu membuka selimut hendak turun dari ranjang. Melihat tubuhnya berbalut pakaian pria.
Rara mengingat-ingat kembali apa yang terjadi pada dirinya semalam. Dan ia terus-menerus mengutuk kebodohan dirinya.
"Seperti tidak. Menurut cerita rasa pertamanya pasti akan terasa sakit dan aneh" batin Rara.
Rara melangkah keluar dari kamar luas itu. Baru gadis itu tau dimana kini dirinya berada dan menginap semalam. Apartemen Nico.
Nico's room...
Setelah Leon membacakan serangkaian jadwal Nico untuk hari itu.
"Ada yang ingin kau jelaskan?" Nico menatap lurus dengan aura dingin yang terpancar diwajahnya kearah Leon.
"Apa saja yang ingin tuan ketahui?" balas Leon juga dengan tatapan yang dingin.
"Mengapa kau menolak Anggie?" tanya Nico.
__ADS_1
Menurut Nico alasan yang Anggie katakan dimalam itu tidak masuk akal.
"Karena dia bukan tipe wanitaku" balas Leon.
Nico tersenyum mengejek kearah Leon. "Lalu...seperti apa tipe wanitamu?"
"Mungkin seperti Nona Rara" Leon menatap datar kearah Nico.
"Kau__" Nico menatap tajam kearah Leon.
Tok...tok
Terdengar suara seseorang dari balik pintu ruangan kantor Nico.
"Masuk" perintah Nico.
Rara menghampiri meja kerja Nico, dengan langkah terburu-buru.
"Bicaralah...." Kata Nico santai menyandarkan punggung dikursi kebesarannya.
Rara melihat kearah Leon.
"Kau tidak perlu sungkan dengan asistenku. Karena diantara kami tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Bukan begitu Leon" sindir Nico.
Rara menghela kasar nafasnya.
"Apa yang terjadi dengan kita semalam?" Rara melirik sekilas kearah Leon.
"Apa yang terjadi dengan kita semalam?" Nico mengulangi pertanyaan Rara.
__ADS_1
"Kau terus-menerus memeluk tubuhku. Merengek dan meminta setelah apa yang kita lakukan" Nico menggigit bibir bawahnya.
"Tidak mungkin" jerit Rara. Menutupi kedua telinganya.
Ia tidak ingin lagi mendengar apa yang dikatakan oleh Nico.
"Kau harus bertanggung jawab" Rara melempari Nico dengan apa saja, benda yang ada diatas meja kerja pria itu.
"Leon. Kau jangan diam saja. Cepat bawa Rara keluar dari ruanganku" perintah Nico. Menghindar dari amukan supirnya itu.
"Aku tidak mau! Kau harus bertanggung jawab!" Rara meronta-ronta didalam pelukan Leon.
"Leon. Lepaskan Rara" Nico tidak suka cara asistennya itu memeluk tubuh Rara.
Tapi Leon tak bergeming.
Leon tetap mendekap tubuh Rara dari arah belakang tubuh gadis itu.
"Kau gadis bodoh. Sekarang dengarkan aku. Tidak terjadi apa-apa diantara kita. Kau ingat saat itu kau mabuk, tidak mungkin aku mencampakkan tubuhmu didepan pagar kosts-an sempitmu itu. Jadi aku putuskan untuk membawamu keapartemenku.
Kau sempat muntah-muntah, karena itu aku menyuruh pelayan wanitaku untuk mengganti pakaianmu yang sudah bau busuk itu. Setelah itu aku pulang kemansionku" jelas Nico panjang lebar. Menatap Rara.
Setelah mendengar penjelasan dari Nico, Rara terlihat lebih tenang.
"Hei. Leon! Sekarang kau bisa melepaskan Rara" bentak Nico.
Leon buru-buru melepaskan dekapannya pada tubuh gadis itu.
"Kau curi kesempatan dalam kesempitan rupanya, Leon" gerutu Nico didalam hati.
__ADS_1
"Ini semua karena ulahmu tuan" batin Leon juga didalam hati.
...✍️Bersambung ......