My Love Supir

My Love Supir
Sc. 2


__ADS_3

Cahaya yang masuk dari celah tirai kamar mengganggu retina gadis itu.


"Sh-iit. Aku kesiangan" gumam Rara.


Gadis itu bergegas menarik handuk menuju kamar mandi.


Dua puluh menit kemudian....


Rara melihat pantulan badannya didalam cermin gantung kostsannya.


Rambutnya diikat satu agak keatas. Dalam balutan Kaos casual dan celana panjang jeans kebanggaannya.


Sedikit tambahan polesan lipstik bernuansa bibir. Bibir tipis itu tersenyum halus. "Perfecto" gumam Rara.


Tampak Rara menarik nafas sebelum memasuki cafe.


"Bismillah...semoga semua baik-baik saja" do'a Rara dalam hati.


Sesampainya Rara dicafe ia langsung ditarik paksa oleh Winda.


"Gawat, Ra. Gawat. Pak Dimas lagi naik spanning"


Rara menatap serius wajah dihadapannya. Belum sempat Winda menjelaskan semuanya. Terdengar namanya dipanggil oleh Pak Dimas.


"Kamu masuk keruangan saya" perintah Dimas pada Rara.


Tampak suasana diruangan itu hening sejenak.


"Maaf, pak. Saya datang terlambat hari ini" ucapan Rara memecah kebisuan dan ingin menjelaskan kenapa ia datang terlambat.


"Mulai besok kamu tidak usah lagi masuk kerja" balas Dimas.


Betapa terkejutnya Rara mendengar apa diucapkan oleh atasannya itu.


"Maksud bapak saya dipecat? Tapi kenapa pak? Apa karena saya datang terlambat hari ini?"


Seruntun pertanyaan keluar dari mulut gadis itu dengan nada bergetar.


"Saya tidak dapat menjelaskan secara rinci alasanya" jawab Dimas.


"Tapi ini tidak adil buat saya, pak. Saya harus tau kenapa bapak memecat saya secara tiba-tiba" balas Rara sengit.

__ADS_1


Dimas menatap intens kearah Rara.


"Kamu bisa mengambil gaji dan bonusmu untuk bulan ini dikasir.


Sekarang kamu boleh keluar dari ruangan saya" ujar Dimas dengan wajah datar.


Dengan berat hati Rara meninggalkan ruangan Pak Dimas. Sejujurnya ia sangat kecewa dengan sikap atasannya itu.


Karena selama ini ia mengenal Pak Dimas adalah sosok atasan yang baik dan bijaksana. Benaknya penuh dengan pertanyaan. Mengapa pemecatan ini begitu tiba-tiba tanpa ia tau dimana letak kesalahan fatal yang telah dibuatnya.


"Maafkan saya Mutiara Puspita"


Dimas menatap haru bayangan punggung gadis itu yang menghilang dibalik pintu.


Dengan langkah pelan Rara menghampiri kasir.


Winda yang begitu melihat sahabatnya itu langsung bergegas menghampiri.


Jiwa kepohnya terpanggil begitu melihat perubahan raut wajah sahabatnya itu.


"Gue dipecat, Win" keluh Rara menatap datar wajah sahabat baiknya itu.


Rara menjawab dengan anggukan kepala.


"Alasannya?" tanya Winda lagi penasaran.


Rara hanya mengangkat kedua pundaknya.


Winda mengerutkan keningnya.


"Jangan-jangan ada kaitannya dengan__" gumam Winda sangat pelan.


Walau Winda berbicara dengan sangat lirih tapi Rara masih bisa mendengarnya.


"Dengan apa?" cecar Rara.


Winda menarik Rara mencari pojokan yang aman disudut Cafe.


Belum sempat ia melanjutkan cerita tentang dugaannya.


"Winda...ini belum jam istirahat. Sebaiknya kamu kembali bekerja" perintah Dimas penuh dengan penekanan.

__ADS_1


Lalu melangkah pergi meninggalkan kedua gadis itu.


Rara dan Winda saling menatap dalam.


"Gue tunggu lu sampai kelar kerja" Rara melepaskan pandangan mereka.


Dan dijawab dengan anggukan kepala dari Winda.


Keesokan harinya...


"Bagaimana Leon?" tanya Nico. Menghempaskan tubuh dikursi kebesarannya.


"Sesuai perintah tuan" jawab Leon datar.


Kemudian membacakan serangkaian aktivitas Nico hari itu.


Sementara itu...


Didalam kamar kostnya Rara tampak berjalan mondar-mandir.


Sambil menimang-nimang secarik kartu nama ditangannya.


"Tau begini. Ceknya mending gue ambil" gerutu Rara.


"Lumayankan buat modal. Iss...ogah banget gue ketemu pemabuk itu lagi" Rara bergedik geli membayangkan wajah Nico.


"Ciuman pertamaku"


Rara menelungkupkan kedua tangannya diwajah dan menghentak-hentakkan kakinya penuh kegeraman.


Tiga hari kemudian...


"Sial. Kenapa aku jadi memikirkan dia" Nico mengusap kasar wajahnya. Keluar dari bathab.


Beberapa hari ini semenjak kejadian itu. Entah kenapa wajah Rara selalu muncul dibenaknya. Ia sangat tidak sabaran menunggu apa yang akan terjadi setelah ini.


"Ck... Keras kepala juga dia" Nico tersenyum sinis.


Membaca pesan yang baru masuk dalam ponselnya.


...✍️Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2