
Hawk segera mengambil laptop. Setelah Kalr keluar dari ruangan kerjanya.
Pria itu tersenyum sinis menyaksikan kembali rekaman hasil wawancara Nico bersama BBN Tv.
"Ternyata kita menyukai gadis yang sama," gumam Hawk. Menarik tipis sudut bibirnya. Ia kembali mengingat ucapan Nico beberapa Minggu yang lalu. "Kau harus menjauhinya" saat itu ia tidak mengerti apa maksud dari ancaman pria itu.
"Pantas saja aku sulit menemukannya" gumam Hawk, lagi. Menutup kasar laptopnya. Melipat kedua tangan dibelakang kepala dan menyandarkan tubuhnya dikursi. Sekarang ia tau dimana keberadaan Rara saat ini.
Keesokan harinya.
Setelah Rara selesai menemani Nico sarapan pagi. Pria itu mengatakan akan mengajaknya kesuatu tempat. Rara hanya meng-angguk pelan saat itu.
Dan disinilah mereka sekarang berada, didalam mobil mewah milik Nico. Yang ditunggangi oleh Leon, membelah jalan raya pagi itu. Baik Nico maupun Rara sama-sama enggan buka suara.
Rara mengerutkan keningnya, setelah ia tau kemana arah tujuan mobil itu.
"Untuk apa kau mengajak Rara kemari?" tanyanya. Tampa menoleh kearah Nico yang duduk disampingnya. Setelah mobil itu berhenti disisi jalan gerbang makam.
"Turunlah..." kata Nico. Pelan. Membuka pintu mobil disampingnya.
__ADS_1
"Rara akan turun, tapi katakan dulu mengapa kau mengajakku kemari"
"Seenaknya saja. Menarikku kesana, menarikku kesini. Semua perintahnya harus aku patuhi" rutuk Rara dalam hati. Masih kekeh duduk didalam mobil.
"Aku ingin meminta ijin pada ayahmu" jawab Nico. Dengan wajah datar. Tidak seperti biasanya pria itu akan emosi bila Rara menyangkalnya.
Mau tidak mau Rara turun dari mobil dan mengikuti langkah Nico, sampai kepusara Babe Benny.
Rara merendahkan badannya didepan makam Babenya, bungkam seribu bahasa. Hanya air matanya yang berlahan turun kepipi yang dapat menceritakan apa yang sedang gadis itu alami. "Babe..." panggil Rara lirih dalam hati.
Nico yang juga berjongkok disamping Rara, hanya bisa melirik sekilas kearah gadis itu. Tangannya ingin sekali menghapus jejak air mata gadisnya itu, tapi hatinya terlalu angkuh untuk melakukannya.
Leon menyodorkan kantung berisi beberapa kuntum bunga dan sebotol air kepada Nico.
Tidak lama Nico dan Rara berada dipusara babe Benny. Setelah Nico mengutaran maksud kedatangannya dan menaburkan kelopak-kelopak beberapa macam bunga serta menyirami makam. Merekapun beranjak meninggalkan tempat itu.
"Bagaimana Leon. Sudah kau urus semuanya?" tanya Nico. Setelah mereka kembali kedalam mobil yang mulai bergerak menjauh dari makam.
"Sesuai permintaan tuan" balas Leon. Datar. Menatap lurus kedepan jalan raya, dibalik kursi kemudinya.
__ADS_1
"Ada yang ingin kau undang?" tanya Nico. Menoleh kearah Rara yang duduk disampingnya. Mengurai kebisuan diantara mereka.
"Hanya, Winda dan Mamahnya" jawab Rara. Dengan singkat.
"emm" Nicopun membalas dengan super singkat.
Tidak terasa mobil itu kini, telah sampai kembali masuk kedalam halaman luas mansion Donzalles.
Rara lebih dulu keluar dari dalam mobil. Masuk melangkah begitu saja mendahului Nico kedalam mansion, menuju kamar tamu yang ia tempati.
Nico hanya menatap bayangan punggung gadis itu dengan raut wajah datar.
"Beberapa hari ini, kau bisa mencariku disini" kata Nico. Kepada asistennya itu, sebelum iapun melangkah masuk kedalam mansion. Menuju keruangan kerjanya.
"Masuk" perintah Nico. Ketika mendengar suara ketukan dipintu ruangan kerjanya.
"Tuan ini pesanan yang anda minta" kata Sam. Kepala pelayan dimansion itu. Meletakkan beberapa paperbag diatas sebuah meja didalam ruangan itu.
...✍️Bersambung ......
__ADS_1