
Rara menghela nafasnya. "Tuan, anda itu sangatlah kaya. Apalah, artinya uang sebanyak ini bagi anda"
"Ck. Apa kau lupa? Uang tetaplah uang!" kata Nico. Dengan nada sinis.
Leon yang telah berada didalam ruangan kantor Nico. Dengan wajah datarnya hanya menyimak perseteruan antara Nico dan Rara.
"Leon. Kau antar Rara kerumah temannya itu. Setelah itu, kau antarkan dia kemansionku" perintah Nico.
"Apa?" pekik Rara. "Kenapa Rara harus kemansion tuan Nico?" tanya Rara. Dengan kening yang berkerut.
"Karena lusa kita akan menikah" balas Nico. Dengan maksud menggoda gadis itu.
"What!" pekik Rara, lebih keras. Tiba-tiba tubuhnya seakan terasa ringan bagaikan kapas, badannya lentur bagaikan karet.
Dengan gerakan cepat Leon menangkap badan Rara yang tumbang seketika. Karena ia lebih dekat berdiri dengan gadis itu.
"Biar aku saja" Nico menyingkirkan tangan Leon dari tubuh Rara. Menggendong gadis itu, membaringkannya pelan diatas sofa.
Nico menoleh kearah Leon. "Apakah ini semua rencanamu?"
__ADS_1
Leon membalas tatapan tajam Nico, dengan senyum tipis dibibirnya.
Nico mengacungkan jari telunjuknya kearah asistennya itu. Duduk disisi sofa lain yang ada didalam ruangan kantornya.
Beberapa menit kemudian. Rara membuka pelan kelopak matanya. Menegakkan badan. Menatap kearah wajah Nico dengan mengerucutkan bibirnya.
"Ck. Kau itu, pakai acara pingsan segala" kata Nico. Menatap Rara yang telah sadar dari pingsannya. Tersenyum didalam hati.
"Hei. Kau mau kemana?" tanya Nico. Saat melihat Rara berdiri dari sofa.
"Tentu saja Rara mau kerumah Winda. Lebih cepat lebih baik untuk menyerahkan cek ini" Rara mengibaskan lembaran cek ditangannya.
Mau tidak mau saat ini Rara hanya bisa pasrah saja. Baginya yang terpeting saat ini, menyelesaikan permasalahan sabahatnya itu dulu.
Rara menumpukan dagu diatas telapak tangannya. Memandang jalan raya lewat jendela disamping mobil itu.
"Kalau sudah begini, bagaimana aku bisa menghindarinya?" gumamnya Lirih. Setelah berada didalam mobil.
Walau Rara bergumam dengan sangat pelan, tapi Leon yang berada dibalik kursi kemudinya masih bisa mendengarkan keluh kesah gadis itu.
__ADS_1
"Takdir anda berada disisi tuan Nico, nona" sahut Leon dalam hati. Memandang lurus kedepan jalan raya.
Rara yang tengah sibuk dengan pikirannya tidak menyadari kalau mobil itu telah sampai dihalaman rumah Winda.
"Nona Rara. Kita sudah sampai," Leon menoleh kearah kursi penumpang bagian belakang. "Nona..."
"Eh, iya Pak," kata Rara. Tersenyum tipis. Lalu turun dari mobil. "Pak Leon tidak ikut masuk?" tanya Rara. Melalui jendela, melihat pria itu tetap berada didalam mobil.
"Saya menunggu disini, saja nona" jawab Leon. Pastinya dengan wajah datar ciri khas pria itu.
"Ara. Ayo masuk" kata mamah Winda. Setelah membuka pintu rumahnya. "Bukannya itu nak Leon?" batinnya. Melongok kearah mobil yang terparkir didepan halaman. Leon buru-buru meletakkan jari telunjuk didepan bibirnya.
"Win...ada Rara, nih" pekik wanita paruh baya itu dari arah ruang tamu. "Tante, buatkan minum dulu, ya..." kata mamah Winda. Melangkah menuju kearah dapur. Menoleh sekali lagi kearah Rara yang duduk diruang tamu.
"stt...stt," panggil Mamah Winda. Melambaikan tangan kearah anak gadisnya, yang hendak melangkah menuju ruang tamu. "Sepertinya actingmu pagi ini, berhasil" bisiknya. Setelah anak gadisnya itu menghampirinya.
"Siapa dulu guru actingnya" balas Windapun dengan berbisik.
...✍️Bersambung ......
__ADS_1