My Love Supir

My Love Supir
Sc. 5


__ADS_3

Sampai dengan detik ini Nico tidak pernah tau siapa sebenarnya pria yang dicintai wanita itu. Membuat Nico pernah mengalami patah hati dalam waktu yang cukup lama.


Tapi kini ia sudah menerima Anggie sebagai sahabat termanisnya. Hanya saja yang membuat Nico heran, sampai detik ini dia melihat Anggie masih sendiri.


"Leon, Long time no see. How are you" Anggie menatap pria berwajah datar itu.


"Kabarku baik nona" balas Leon.


"Kau masih saja betah mengawal anak nakal ini rupanya" canda Anggie. Menepuk pundak Nico.


"Hai. Jaga ucapanmu nona manis. Aku bukan anak nakal" Nico. Menggandeng lengan wanita itu menuju sofa diruang kerjanya.


Cukup lama mereka bertiga berbincang-bincang hangat siang itu.


Lalu dilanjutkan dengan makan siang di restoran sekitar kantor.


Wajah manis yang Nico perlihatkan dihadapan Anggie, kini berubah menjadi sangat menyeramkan setelah wanita itu meninggalkan restoran tadi siang.


"Leon. Kau tau dia pergi kemana?" Nico tidak habis pikir dengan supir barunya itu. Berani-beraninya dia menghilang tanpa pamit dijam kerja.


"Nona Rara pergi tanpa membawa mobil anda tuan. Akan saya selidiki kemana gadis itu pergi sebenarnya" jawab Leon.


"Kau tau apa yang harus kau lakukan" ucap Nico dingin.


"Nona Rara sudah berada di kantor tuan" Leon menatap layar laptop dihadapannya.


"Suruh dia siapkan mobil" Nico melangkah keluar dari ruangannya.


Rara membukakan pintu mobil penumpang bagian belakang begitu ia melihat Nico keluar dari badan gedung perkantoran itu.

__ADS_1


"Kita kemana tuan?" tanya Rara dengan hati-hati. Karena ia mencium bau-bau macan sedang marah.


"Pulang" jawab Nico singkat tampa melepaskan pandangannya dari ponsel digenggamannya.


Tiba-tiba.


Krraukk terdengar bunyi sesuatu.


"Apa itu bunyi berasal dari perutmu?" Nico mengerutkan keningnya.


"anu...eh..iya tuan. Tadi Rara tidak sempat makan karena sibuk banget" ups..Rara keceplosan. Menutup mulut embernya dengan tangan.


"Aduh mampus gue"


Untungnya tuan Nico tampak tidak tertarik dengan ucapan Rara barusan. "ah...syukurlah" Rara merasa lega dalam hati.


Win...gue otw nih


Rara menulis pesan singkat pada sahabatnya lalu melajukan motornya menuju cafe tempat dulu ia bekerja.


Gue tunggu didepan, ya balas Winda dilayar ponselnya.


Diam-diam Dimas mengintip dari jendela ruang kerjanya.


"Ya...ampun Rara. Gue kangen banget sama lu" Winda mengguncang pelan tubuh Rara.


Seketika itu juga ia menoyor kepala sahabatnya itu.


Rara gak mau kalah cepat. Balik menoyor kepala Winda.

__ADS_1


Dan merekapun terkekeh bersama.


Bibirnya tersenyum saat melihat Rara tampak baik-baik saja dan menyaksikan kehangatan antara Winda dan Rara.


"Tempat biasakan?" pekik Rara. Disela-sela jalan raya yang padat sore menjelang malam itu.


"Yoi" balas Winda dari balik punggung Rara.


"Hmm...baunyakan tu yang bikin laper" kekeh Winda. Yang melangkah lebih dulu masuk kedalam warung. Sementara Rara memarkirkan motornya.


"Rara. Winda. Sudah lama banget gak kewarung uda" ujar pedagang sate Padang langganan mereka.


"Iya...ni. Da" balas Winda dan Rara kompak. Mencari meja pojokan favorit mereka.


"Sa_te...Selamat makan nona-noni manis" kelakar Uda pedagang sate. Meletakkan dua piring sate padang diatas meja.


Yang direspon dengan senyuman lebar oleh Rara dan Winda "makacih uda" ucap Rara.


"Hayu cerita dong gemana rasanya kerja ditempat baru" ucap Winda tidak sabaran sambil memasukan suap demi suapan kedalam mulutnya.


Rara menunjuk kearah piring didepannya "Makan aja dulu. Entar keselek lagi" seloroh Rara.


Uhuk...uhuk...


Winda menyeruput teh hangatnya.


"Tu..kan. Apa gue bilang" Rara tersenyum kearah sahabatnya itu.


...✍️Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2