My Love Supir

My Love Supir
Sc. 3


__ADS_3

Sudah dua hari ini Rara keluar masuk beberapa perusahaan, Restoran dan Cafe.


Tetapi selalu saja gadis itu mendapat jawaban yang sama.


Belum ada lowongan.


Padahal ia melamar untuk jenis pekerjaan buruh kasar. Bagaimanapun Rara sadar ia hanya berbekal ijazah Tamatan Sekolah Menengah Atas.


Siang itu Rara menghentikan motornya dipinggir taman Ibu kota.


Gadis itu mengeluarkan bekal makan siangnya yang telah ia siapkan dari kosts-an demi menghemat pengeluarannya.


Selesai mengisi gembel-gembel dalam perutnya. Rara berbaring beralaskan rumput menatap jauh langit Jakarta yang tampak sedikit mendung hari itu.


"Apa kabar nona..." sapa Leon.


"Eh...Pak Leon" balas Rara kaget. Menegakkan tubuhnya. "Sejak kapan pak Leon ada disini?" tanya Rara heran.


"Baru saja nona" dusta Leon.


Padahal sudah dua hari ini ia ditugaskan untuk memata-matai gadis itu.


Demi memastikan tiap Perusahaan, Restoran dan Cafe yang didatangi gadis itu untuk menolak lamarannya.


"Tawaran untuk nona bekerja pada tuan Nico masih berlaku bila nona setuju" ucap Leon To the poin.


"Baiklah...nanti coba Rara pikirkan lagi" balas Rara malas. Memalingkan wajahnya.


Sungguhnya ia tidak bisa membayangkan harus bekerja pada orang yang telah mengambil paksa ciuman pertamanya dengan cara yang keji.


Yang seharusnya menjadi ciuman paling berkesan dalam hidupnya.

__ADS_1


"Tuan Nico akan menggaji nona Delapan Juta rupiah setiap bulannya" bujuk Leon kembali.


"Delapan Juta?" Rara memicingkan matanya menatap kearah Leon.


"Hmm" Leon menganggukkan kepalanya. Tersenyum didalam hati.


"Ayolah nona. Terima sajalah...Sampai kapan aku harus terus membuntuti dirimu seperti ini?"


"Kalau Rara boleh tau pekerjaan apa yang Sipemabuk itu tawarkan padaku dengan gaji yang begitu banyak?" tanya Rara curiga.


ada penekanan pada kalimat Sipemabuk yang sengaja gadis itu ucapkan.


"Bagaimana kalau kita bicarakan ini dikantor tuan Nico?" balas Leon dengan wajah datarnya.


Rara tampak tengah berpikir dengan tawaran yang asisten Nico itu janjiakan untuknya.


"Okeylah..." Rara bangkit dari duduknya menuju parkiran motor bututnya.


"Nanti motor nona akan diambil oleh pengawal tuan Nico" sambung Leon lagi.


Sementara itu diruang kerjanya Nico menyeringai penuh kemenangan menatap layar ponselnya. Setelah mendapat kabar dari Leon kalau gadis itu tengah menuju kekantornya.


Tidak memakan waktu lama kini Rara telah sampai didepan gedung Donz, Drc.


"Mari nona..." ujar Leon. Membukakan pintu mobil penumpang bagian belakang.


Didalam lift Leon sempat mencuri pandang pada Rara yang berdiri dibelakang tubuhnya.


Tampak gadis itu tidak banyak bicara semenjak didalam mobil tadi.


Ting...

__ADS_1


Suara khas pintu lift membuyarkan lamunan Rara. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu.


"Masuk" terdengar suara berat dari dalam ruangan.


"Sampai kapan kau mau berdiri disitu" tanya Nico. Menatap lurus Rara yang sejak masuk kedalam ruangannya hanya berdiri dipojokan.


"Tuan tidak mempersilahkan saya untuk duduk. Karena itu saya tetap berdiri disini" jawab Rara.


Nico menatap intens kearah Rara.


"Sekarang kamu boleh duduk. Terserah kau mau duduk dimana. Diatas meja kerjaku juga boleh" ucap Nico dengan seringai licik diwajahnya.


"Sekarang katakan padaku. Pekerjaan apa yang akan kau tawarkan padaku?" balas Rara dengan wajah tidak suka dan masih tetap berdiri disana.


"Apa kau bisa menyetir?" tanya Nico.


"Sedikit" balas Rara singkat.


"Sedikit bagaimana?" tanya Nico lagi.


"Ya... Sedikit" jawab Rara asal.


"Lalu kau itu bisanya apa!?" bentak Nico. Karena gadis itu tampak tengah meremehkankannya.


"Sial. Kenapa dia justru membentakku" gerutu Rara hanya dalam hati.


"A_aku...mau pulang" Rara membalikkan tubuhnya melangkah menuju pintu keluar diruangan itu.


"Leon. Kau urus dia" perintah Nico.


...✍️Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2