
"Ayolah...Rara. Kau coba sedikit saja minuman ini" Anggie menyodorkan gelas kearah Rara.
Rara menggeleng dan menjauhkan gelas minuman itu dari hadapannya.
Anggie mendorong lagi gelas minuman itu kearah Rara.
Anggie semakin bersemangat menggoda Rara dibawah kesadarannya yang telah diracuni oleh alkohol. Bagi wanita itu penolakan Rara terasa lucu baginya.
Kembali Rara menjauhkan gelas minuman itu dari hadapannya.
Nico tersenyum penuh kelicikan melihat dua wanita yang sedang saling mendorong dan menolak minuman.
Nico membisikkan sesuatu ditelinga Rara.
"Benarkah? Benarkah tuan akan membebaskan Rara dari hukuman?" Rara menatap Nico sedikit ragu.
Nico meng-anggukan kepalanya.
"Hukuman apa?" Anggie menimpali percakapan antara Nico dan Rara.
"Hukuman karena dia hampir membuatku menjadi pria yang tak berguna diatas muka bumi ini" Nico menatap tajam kearah Rara yang menundukkan kepalanya.
Rara meraih gelas dihadapannya dan meneguk isi gelas itu sampai tuntas.
Anggie, Leon dan Nico menatap dengan ekspresi yang berbeda.
Anggie bersorak kegirangan.
__ADS_1
Leon menatap dengan wajah datar dan dinginnya.
Sementara Nico menampakkan seringai tipis dibibirnya.
Rara menutup buka kelopak matanya dan menjulurkan sedikit lidahnya, setelah tahu rasa minuman itu sangat pahit dan asing dilidahnya.
Anggie meraih kembali minuman alkohol itu. Secara bersamaan tangan Nico dan Leon mencoba meraih botol didalam genggaman tangan wanita itu.
"Anggie cukup! Kau sudah terlalu banyak minum" Nico meraih gelas dari tangan wanita itu.
"Kau tau Nico. Cinta seorang Anggie Ferdinand ditolak oleh seorang robot" Racau Anggie. Dengan bola mata yang berkaca-kaca dibawah sinar yang temaram.
Nico menoleh kearah Leon. Nico tau siapa yang dimaksudkan oleh Anggie.
"Karena dia berlagak seperti pahlawan, demi nama keluarganya. Demi menjaga perasaanmu." Anggie menunjuk- nunjuk kearah Nico.
Rara tidak mengerti apa yang ucapkan Anggie. Kepalanya semakin bertambah pusing mendengar racauan wanita yang sedang mabuk itu.
"Leon. Aku serahkan Anggie padamu" kata Nico. Tampa menoleh kearah asistennya itu.
Nico melirik kearah Rara yang menyenderkan kepalanya dan terus memijat keningnya.
Sebelum meninggalkan club malam itu. Nico terlebih dahulu menghubungi supir mansion.
Dia tidak mungkin mengendarai mobil dalam kondisi setengah mabuk. Walaupun kesadarannya masih belum hilang.
"Waw..." Jerit Rara. Merasakan badannya melayang diudara.
__ADS_1
"Turunkan Rara tuan. Kepala Rara bertambah pusing"
Nico meng-angkat tubuh Rara seperti memikul karung beras.
"Kau itu merepotkan ku saja" Nico, menepuk bokong Rara. Meninggalkan club.
Sesampainya dimobil, Nico menghempaskan tubuh Rara dikursi penumpang bagian belakang.
"Jalan Pak..." titah Nico kepada supir mansion.
Didalam mobil Nico mengingat kembali apa yang diracaukan oleh Anggie. Ternyata selama ini pria yang dicintai Anggie tak lain adalah asisten pribadinya sendiri. Demi cintanya kepada Leon, wanita itu dulu pernah menolak dirinya.
Nico tersenyum kecut.
Nico menjauhkan kepala Rara yang bersender dipundaknya. "Kau itu mengganggu ketenanganku saja" gumam Nico.
Sesaat kemudian kepala Rara kembali menyender dipundaknya. Nico mendorong lebih kencang kepala gadis itu.
Dug
Terdengar bunyi kepala Rara yang terbentur jendela mobil disampingnya.
Tapi gadis itu hanya mengusap-usap kepalanya dengan mata yang masih terpejam.
Nico menatap Rara dengan tatapan yang sulit dimengerti.
Pelan-pelan Nico meraih kepala gadis itu dan merebahkan dipundaknya.
__ADS_1
...✍️Bersambung ........