
"Stop!" sentak Rara. Menahan langkah Nico dengan Lima jari telapak tangannya. "Rara akan makan" katanya lagi. Dengan tersungut-sungut.
"Good girl" kata Nico. Dengan seringai tipis dibibirnya. Kembali duduk disofa.
Rara meraih piring berisi makan malamnya diatas nakas dan mulai menyantapnya. "Apa kau akan tetap disitu?" tanya Rara. Melirik sesaat kearah Nico.
"Hem. Aku harus memastikan makanan itu habis kau makan" jawab Nico. Terus memandangi Rara. Yang sedang menyuap demi suapan kedalam mulutnya.
Eeggr
Rara bersendawa dengan santainya, setelah menyelesaikan makan malamnya. Meneguk sisa air mineral yang tinggal setengah gelas sampai tuntas. Ia sengaja melakukan itu agar Nico ifiil kepadanya.
"Cih...kau itu jorok sekali" Nico memandang Rara dengan geli.
"Sekarang Rara sudah selesai makan, keluar gih" kata Rara. Dengan raut wajah datar, melihat kearah Nico yang masih duduk disofa didalam kamarnya.
Ehem
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu" kata Nico. Menatap intens kearah Rara.
"Ya, udah ngomong aja"
"Mengenai lusa. Apa kau sudah siap untuk menikah?"
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku menolaknya?" balas Rara.
"Tidak bisa! Jaminan hutang itu adalah dirimu!" kata Nico. Dengan tegas.
Rara menghela kasar nafasnya. "Kenapa kau bersikeras untuk menikah denganku?"
"Karena kau itu bodoh"
"Kau itu lucu sekali," Rara tertawa sumbang. "Sungguh alasan yang tidak masuk akal, atau diam-diam kau menyukaiku?" Rara menyipitkan matanya kearah Nico.
"Cih...Kau itu terlalu percaya diri sekali! Mana mungkin aku menyukai gadis sepertimu, apalagi kau itukan cuma supirku" kata Nico. Mencibir, memalingkan wajahnya kearah sudut lain didalam kamar itu.
Berdiri dari sofa, melangkah menuju kearah pintu kamar. Meninggalkan Rara yang sedang meninju dan menendang angin dengan keras, dibelakang bayangan tubuhnya.
"Kalau begitu untuk apa kau bicarakan lagi denganku!!" geram Rara dalam hati.
"Kau yakin?" tanya Hawk, kepada Kalr.
Setelah mendapatkan informasi mengenai Rara. Dari orang kepercayaannya itu, diruangan kerjanya.
"Sembilan puluh delapan persen yaqin, bos" jawab pria bertubuh tegap bertato itu.
"Kau, ini. Mengapa hanya Sembilan puluh delapan persen?" Hawk balik bertanya. Dengan sedikit kerutan dikeningnya.
__ADS_1
"Karena tidak boleh percaya sepenuhnya kepada manusia, bos. Seratus persen percaya hanya untuk Tuhan" jawab Kalr. Dengan wajah datar.
"Ck. Kau ini..." kata Hawk. Mencibirkan bibirnya kearah pria bertubuh tegap dihadapannya.
"Saya juga mau melaporkan masalah yang lain, bos" kata Kalr, lagi. Menatap wajah tampan tuan mudanya yang biasa ceria itu.
"em. Katakanlah" balas Hawk. Menyenderkan punggungnya dikursi dan mengangkat ke-dua kakinya keatas meja.
"Bos tau, Selamet. Supir tuan besar yang baru pulang dari Amerika itu?" tanya Kalr.
"Ya...supir Dadku itu, bukan?"
"Ya...betul, bos. Sombong sekali dia sekarang bos. Tidak mau menoleh lagi kalau saya panggil Selamet" keluh Kalr. Dengan wajah kesal.
"Kenapa begitu? Memangnya dia mau dipanggil dengan sebutan apa?" tanya Hawk. Menatap lurus kearah Kalr.
"Congratulation, bos"
"hahaha...kau itu" Hawk menggelengkan kepala.
"Nah...begitu dong, bos" kata Kalr. Dengan raut wajah senang, berhasil membuat tuan mudanya tertawa kecil dengan lolucon murahannya. Karena sudah beberapa hari ini pria itu terlihat bermuram durja.
"Get out. Go...go" Hawk mengibaskan tangannya. Tersenyum tipis.
__ADS_1
"Siap, bosqu" Kalr menundukkan kepala sedikit kearah Hawk. Melangkah menuju pintu keluar ruangan kerja pria itu.
...✍️Bersambung ......