
"Really?" tanya Bhumi. Menoleh menatap raut diwajah Rara.
"Hm" Rara meng-angguk.
Beberapa saat mereka saling terdiam.
"Apa hanya itu yang ingin kau katakan? Rara harus segera kembali bekerja" Rara bangkit dari kursi.
Melihat sikap Rara yang enggan meneruskan percakapan mereka Bhumi meng-anggukan kepalanya.
"Rara masuk dulu. Lain waktu kita ngobrol-ngobrol lagi" Rara tersenyum, berlari kecil meninggalkan Bhumi yang menatap bayangan pungung gadisnya dengan sendu.
Rara mendorong pintu ruangan kantor Nico dengan perlahan-lahan. "Ufh" gadis itu menarik nafas lega. Mendapati ruangan itu masih sepi.
Hampir dua jam lebih, Nico berada diruang rapat. Pria itu tidak sabaran untuk memberikan hukuman pada Rara yang telah melanggar ucapannya. Beraninya gadis itu diam-diam menemui Bhumi.
Begitu masuk keruanganya dilihatnya Rara tengah tertidur duduk disofa.
Nico menampakkan senyum jahil diwajahnya.
Nico mundur perlahan mendekati pintu.
Clek
Pria itu mengunci pintu ruangannya.
__ADS_1
Nico berjingkat-jingkat melangkah menuju sofa.
Diamatinya wajah Rara dari jarak yang sangat dekat, semakin dekat dan semakin dekat. Hingga hidung mereka hampir saling bersentuhan.
Rara membuka matanya.
Bhuk
Reflek kakinya menedang bagian bawah tubuh Nico.
"Aww...aww" Nico membungkuk memegangi area pangkal pahanya.
"Tuan. Maaf...Rara gak sengaja" Rara menutup mulut dengan telapak tangannya. Setelah sadar apa yang barusan ia lakukan.
"Ka_u" ucap Nico terbata-bata. Mencengkeram dibawah sana yang masih terasa sakit dan nyilu.
"Mending Rara kabur aja dulu, deh" Rara berlari kearah pintu ruangan kantor Nico.
"Dia itu kenapa?" tanya Anggie pada Leon. Melihat Rara yang berlari menuju lift dilantai itu.
Tadinya, begitu selesai rapat. Anggie menyusul Nico keruangannya tapi saat tiba didepan pintu. Ternyata pintu ruangan kantor Nico dalam keadaan terkunci.
Akhirnya Anggie menemui asisten Nico diruangannya.
Leon menjawab dengan menaikan kedua pundaknya.
__ADS_1
"Ish...kau itu pelit sekali bicara" Anggie mengerucutkan bibirnya. Masuk kedalam ruangan kantor Nico diikuti oleh langkah Leon.
Nico masih meringis dengan wajah sedikit memerah menahan sakit dan nyilu diarea pangkal pahanya.
Anggie menatap heran kearah Nico, begitu wanita itu masuk kedalam ruangan kantor pria itu "Are you okay"
Nico melingkarkan ibu jari dan telunjuknya, menjawab pertanyaaan Anggie. Menuju kursi kebesarannya.
Leon sipemilik wajah dingin dan datar menampakkan senyum tipis dibibirnya.
Nico memberikan tatapan membunuh kearah asistennya itu.
"Aku lihat tadi, Rara keluar dari lantai ini dengan terburu-buru. Sekarang Nico seperti yang lagi menahan sakit diarea sensitifnya. Apa sebenarnya yang terjadi diantara mereka" batin Anggie curiga.
Wanita itu mulai, menghubung- hubungkan kejadian saat dirinya mendapati ruangan kantor Nico yang terkunci.
Anggie menipiskan pikirannya yang sedang mengira-gira apa yang terjadi antara Nico dan Rara. Dan mengutarakan maksudnya untuk mengajak Nico dan Leon merayakan keberhasilan dirinya bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan sebesar perusahaan Donz.
"Bagaimana kalau kita rayakan awal kerjasama ini?" Anggie menatap Nico dan Leon secara bergantian.
"Ayolah, Nico" Rayu Anggie dengan raut wajah memohon. Melihat pria itu tidak terlalu tertarik dengan ajakannya.
Rasa iba dan tidak enak hati sudah dua kali menolak ajakan Anngie. Nicopun meng-anggukan kepalanya.
"Yes!" Anggie menjerit girang didalam hati.
__ADS_1
"Sampai ketemu ditempat biasa" Anggie melangkahkan kaki dengan senyum dibibir sensualnya meninggalkan ruangan kantor Nico siang itu.
...✍️Bersambung......