My Love Supir

My Love Supir
Sc. 53


__ADS_3

Rara menghempaskan tubuhnya diatas ranjang sembari menghentakkan kedua kakinya dispring-bed empuk itu.


tulilittulilitulilit(suara notifikasi ponsel)


Winda:


"Rara, seriusan lu besok mau nikah dengan tuan Nico?"


Rara:


"Iya. Lu pasti dapet kabar dari Pak Leon?"


Winda:


"Ho...oh. Sempet kaget sih tadi gw, pas Om Leon ngabarinya. Gw ame Mamah, pasti datang, kok. Eh, tapi lu gak ??? duluan, kan?" 🤭😬


Rara:


"Sialan lu, Win. Ya, gaklah" 😤


Winda:


"Trus...kenapa dadakan? Atau karena hutang itu ya, Ra?" (Winda belagak bloon padahal cikikikan diseberang)


Rara:


"Gak! Ya...udah pokoknya gw tunggu besok. Bye, Winda"


Rara memutuskan untuk mengakhiri chattingan mereka.

__ADS_1


"Nona..." panggil pelayan wanita dimansion itu. Mengetuk pelan pintu kamar.


Rara melempar asal ponselnya diatas ranjang, melangkah menuju pintu.


"Apa ini?" tanya Rara. Setelah berdiri didepan pintu kamar. Melihat pelayan wanita itu menyodorkan beberapa paperbag kepadanya.


"Saya tidak tau, nona. Hanya menjalankan perintah tuan Nico saja" jawab pelayan wanita itu.


"Oh..." Rara ber O ria. Setelah tau siapa pengirim semua barang itu. "Mbak, bisa bawakan Rara obat pereda sakit kepala?" tanya Rara. Saat pelayan wanita itu hendak beranjak pergi dari kamarnya.


"Nona, sakit?" tanyanya. Khawatir.


"hm. Sedikit pusing aja" balas Rara.


"Baiklah, nona"


Ia membuka dahulu salah satu paperbag yang berukuran lebih besar. "Gaun pengantin" katanya lirih. Sembari menghela nafasnya. Meletakkan gaun itu diatas ranjang, dan membuka bungkusan paperbag lainnya.


"Ra...Rara. Buka pintunya" pinta Nico. Mengetuk pintu itu, dengan sedikit keras.


"Nico?" gumam Rara. Melangkah menuju kearah pintu.


"Kamu sakit?" tanya Nico. Cemas, mencoba menggapai kening gadis itu.


"Issh" Rara menyingkirkan pelan tangan pria itu. "Rara cuma sedikit pusing aja, kok" jawabnya.


"Kita kedokter" Nico menyambar tangan Rara.


"Nico..." Rara. Menghempaskan tangannya.

__ADS_1


"Rara cuma sedikit pusing. Nanti juga kalau habis minum obat, biasanya pusingnya juga akan hilang" Menatap Nico. Dengan kerucut kecil dibibirnya.


"Beneran?"


"ehm"


"Ya, sudah. Nanti sekalian aku suruh pelayan buatkan makanan untukmu, setelah itu makan obat dan istirahat" kata Nico. Mencoba mengintip sedikit dari celah pintu kedalam kamar Rara.


"Kau suka dengan gaunnya?" tanyanya, lagi.


"Iya, suka" jawab Rara. Sekenanya. Sebab percuma juga ia berdebat dengan pria itu kalau ujung-ujungnya harus setuju dengan semua yang sudah ia tetapkan.


**


"Mah...udah kelar belum sih? Om Leon udah nungguin kita tu dari tadi?" tanya Winda. Memandang jengah kearah Mamahnya yang masih sibuk didepan cermin. "iish"


"Kamu itu bagaimana sih, Win. Nanti itu, pasti bakalan banyak tamu undangan kelas atas. Mamah harus tampil prima dong" jawabnya. Memutar badannya kekanan dan kekiri.


"Ampun ni, anak. Pelan-pelan dong, Win" protes mamah Winda. Melangkah dengan cepat, karena tangannya ditarik paksa oleh anak gadisnya.


"Om Leon sorry ,ya. Nunggunya jadi kelamaan" kata Winda. Dengan memasang senyum dibibirnya. Masuk kedalam mobil bersama sang Mamah yang terlihat kesal.


**


Nico menatap dengan sangat intens kearah gadis imut yang kini tengah turun berlahan menapaki anak tangga dengan sorot mata sesuatu. Tersenyum didalam hati. Detik kemudian, ekspresi wajah itu kembali datar. Menutupi rasa yang menjalari hatinya.


Rara terlihat sangat berbeda dengan gaun indah yang melekat ditubuhnya, walau senyum kecil gadis itu terlihat sedikit dipaksakan.


...✍️Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2