My Love Supir

My Love Supir
Sc. 13


__ADS_3

Selesai bertemu klaen sore itu. Secara tidak sengaja saat Nico ingin mengambil sesuatu dari saku jasnya terdengar bunyi benda terjatuh dilantai.


Tring...


"Kunci apa ini" gumam Nico memungut benda kecil itu dilantai.


"*****! Rara..." Dengan gerakan cepat Nico masuk kedalam mobil dan menjalankannya. Pria itu baru ingat memberikan hukuman membersihkan kamar mandi pada gadis itu dan sekarang masih terkurung didalam kamar mandi ruangan kantornya.


Sesampainya didepan gedung Nico melangkah dengan sangat tergesa-gesa, manaiki lift khusus digedung itu, menuju ruangannya.


Begitu sampai disana Nico langsung membuka pintu kamar mandi diruangan itu.


Tampak Rara yang tengah duduk dengan mata terpejam, diatas clouset kamar mandi.


"Rara..." Nico menyentuh pelan pundak gadis itu.


Rara membuka matanya perlahan.


"Tuan, becandamu tidak lucu" Lalu ia mencoba untuk berdiri.


Karena badannya terasa sangat lemas dan lapar membuat gadis itu kehilangan keseimbangan pada pijakan kakinya, hingga wajahnya jatuh masuk kedalam dada bidang milik Nico.


Jarak mereka yang begitu dekat membuat Niko gugup seketika. Pria itu belum pernah merasakan begitu dekat dengan supirnya itu.


Membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Hingga Rara bisa mendengarkan dengan jelas saat wajahnya menyentuh dada bidang milik pria itu.

__ADS_1


Nico membantu Rara berjalan keluar dari kamar mandi dan mendudukkan gadis itu disofa.


"Rara lapar" keluh Rara mengerucutkan bibirnya.


"Kau__" Nico menatap Rara dengan gemas. Ingin Rasanya ia menjewer kuping gadis itu lagi. Yang diingatnya cuma makan saja. Tapi diurungkannya, mengingat gadis itu kini memang terlihat sangat lemas.


"Kita makan diluar. Kau masih kuat untuk berjalankan?" Nico menyembunyikan senyumnya.


Rara mengangguk pelan.


Nico memarkirkan mobilnya didepan sebuah rumah makan yang tak jauh dari kantornya.


Rara menatap menu dihadapannya dengan tidak sabaran.


"Tuan, beneran gak mau makan?" tanya Rara. Matanya lebih fokus mengambil beraneka ragam lauk- pauk dan memasukkan kedalam piringnya.


"Kalau tuan mau pulang, pulang saja" Rara memasukkan suap demi suapan kedalam mulutnya.


"What! Kau mengusirku?" Nico memicingkan matanya menatap Rara yang masih terus melahap makanannya. Lalu pria itu berdiri dari kursi hendak meninggalkan Rara.


"Tuan..." tahan Rara. Mendongakkan kepalanya.


"Semuanya tuan yang bayarkan?" tanya Rara menatap pria yang kini berdiri disebrangnya.


Nico mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompetnya dan meletakkan uang tersebut dengan kasar diatas meja. Meninggalkan Rara yang hanya melongo saja.

__ADS_1


"Kenapa dia jadi marah" gumam Rara. Tapi kemudian ia meneruskan lagi makannya.


Rara berdiri dipinggir jalan raya malam itu. Menunggu taksi yang lewat. Karena motornya masih berada diparkiran kantor tentunya.


Tin..tin...


Sebuah mobil mewah yang sangat ia kenal berhenti tepat didepannya.


"Masuk!" Perintah pria itu.


Didalam perjalanan baik Nico maupun Rara kompak membisu.


Mereka sibuk dengan isi pikirannya masing-masing.


Sesekali memalingkan wajah mereka karena berserobok saling mencuri pandang.


Nico mengantarkan Rara sampai kekosts-an gadis itu.


Mobil mewah itu berhenti tepat didepan mulut gang.


"Kalau kau berulah lagi. Akan ku hukum lebih berat" Ancam Nico, melirik sekilas kearah Rara yang duduk dijok depan disampingnya.


"Iss...kupikir dia mau minta maaf" batin Rara kesal. Keluar dari mobil dan menutup pintu itu dengan kasar.


Lalu menyembulkan wajahnya dari balik jendela "Aku berhenti!" pekiknya.

__ADS_1


...✍️Bersambung ......


__ADS_2