My Love Supir

My Love Supir
Sc. 8


__ADS_3

Akhirnya perjuangan Rara tidak sia-sia. Gadis itu berhasil membawa masuk Nico kedalam Arena Dunia Fantasi.


"Kenapa, kau membawa aku kemari?" Nico bertanya dengan kesal, setelah mereka sampai didalam arena bermain.


"Bukankah tuan katakan ingin bersenang-senang? Disinilah tempatnya" Rara melebarkan senyum dan mengedarkan pandangan.


"Apakah tuan takut ketinggian? goda Rara. "Atau...eh__tuan tidak punya penyakit jantungkan?" tanya Rara serius.


"Tentu saja aku tidak takut pada ketinggian dan perlu kau tau, aku ini sehat lahir batin" sanggah Nico dengan memasang wajah sombongnya.


"Kalau begitu mari kita bersenang-senang, tuan" Rara tersenyum, menunjuk ke arena wahana Halilintar.



"What!" Nico menelan salivanya dengan sangat susah, memandangi benda panjang itu meluncur.


"Bagaimana, siap untuk bersenang-senang?" Rara melirik pria disampingnya dengan menggerak-gerakkan alisnya.


Nico tidak menjawab pertanyaan Rara. Pria itu melangkah menuju antrian arena wahana halilintar.


"YES!" Rara menghentakkan kepalan tangannya, tersenyum lebar. Menyusul langkah Nico.


Nico dan Rara duduk berdampingan, dengan tubuh dikukung oleh penyangga besi pengaman.


"Tuan_berteriaklah bila anda ingin berteriak jangan ditahan" Rara berbisik menggoda Nico disampingnya. Nico tak bergeming.


Benda panjang itu perlahan bergerak maju. Semakin maju dan semakin laju.

__ADS_1


Ahhkk.....uuhhh....wuuww


Suara jeritan bercampur tawa dan pekikan menguap diudara. Seirama dengan gerakan, meluncur menaiki tanjakan tajam, menurun, membalik, menukik dan membanting tubuh dengan kecepatan tinggi.


Nico turun dari wahana halilintar dengan tergesa-gesa. Membungkukan tubuh, menopang tubuhnya dengan kedua tangan dilutut. Wajah putihnya kini tampak memerah.


Rara mengulurkan botol air mineral kepada Nico. Pria itu meneguknya sampai setengah.


Setelah melihat wajah Nico kembali normal dan nafas pria itu tidak tercekat lagi...


Rara kembali memulai aksinya.


"Sekarang bagaimana kalau kita mencoba yang disana?" Rara menunjuk sebuah perahu raksasa yang sedang berayun.


gleg...


"Kau ini payah sekali, tuan" Rara menggelengkan kepala lalu mengadukan bahunya ke lengan Nico, melangkah menuju wahana Kora-kora.


" S**it! Berani sekali kau meremehkan seorang Nico Donzalles" Nico mengepalkan tangan dan mengeratkan rahangnya.


Rara terus melangkah menuju wahana Kora-kora. Sudut bibirnya tertarik sedikit keatas. Saat pria itu menyusul langkahnya.



Berkali-kali Nico menolak meneruskan permainan. Berkali-kali pula Rara mengeluarkan jurus meremehkan seorang Nico.


__ADS_1


"Ini... yang terakhir!" pekik Nico ketelinga Rara.


"Oke....okeh, tuan" pekik Rara. Diantara tawa dan jeritannya.


"Emang enak gue kerjain..." pekik Rara dalam hati. Karena saat ini ia bisa bebas menertawai pria itu.


Nico meninggalkan arena wahana Tonado dengan wajah kesal. Bajunya hampir setengah basah.


"Auu...sakit, tuan" jerit Rara. Mengusap kupingnya yang dijewer oleh Nico.


"Hai kau! Bukankah seharusnya aku yang bersenang-senang" menatap Rara dengan tatapan membunuh.


"Maafkan Rara tuan" Rara menundukkan kepalanya.


"Hahaha....aku tau, kau marah tuan. Aku terlalu bersemangat dan gembira bisa mengerjaimu" Rara


"Kau...gadis bar-bar. Kau pikir aku bodoh! Aku tau, kau sedang mengerjai ku" Nico


"Ingat! Kau berhutang menyenangkan ku!" Nico menyeringai licik dan meninggalkan Rara yang masih berdiri mematung.


"Kenapa tiba-tiba perasaanku gak enak, ya" Rara bermonolog, mengusap tengkuknya.


"Eh_tuan. Kau mau kemana?" Rara mengejar langkah panjang Nico.


"Pulang!" Kalau kau mau tidur disini terserah" pekik Nico terus berjalan dengan cepat.


Rara mencibirkan bibirnya.

__ADS_1


...✍️Bersambung ......


__ADS_2