My Love Supir

My Love Supir
Sc. 19


__ADS_3

"Mbk saya boleh lihat yang ini" tunjuk Rara. Pada kalung yang memiliki liontin berbentuk bulan sabit.


Rara menatap Kalung Bulan Sabit yang ada ditangannya dengan terkesima.


"Bagus banget" gumam Rara pelan.


"Harganya cuma Delapan puluh juta aja, Mbk. Gak mahal. Dijamin puas deh. Ini berlian semua loh" bujuk pelayan toko itu menjelaskan.


"Busyed...Delapan puluh juta, dia bilang gak mahal?" Gumam Rara tentunya hanya didalam hati.


Rara tersenyum halus menanggapi ucapan pelayan toko tersebut.


"Ck. Lumayan juga ekspresinya. Cukup berkelas" batin Nico. Mencibirkan samar bibirnya.


Rara mengembalikan kalung itu pada pelayan toko dan menghampiri Nico.


"Bagaimana menurutmu?" Nico memperlihatkan sebuah gelang cantik yang elegan bermatakan berlian, kepada Rara.


"Biar Rara tebak. Buat Kak Anggie, ya?" Bisik Rara.


"Hem" Nico meng-anggukan kepalanya.


Rara mengangkat kedua jempol jari tangannya "Bagus, pakek banget. Dijamin kak Anggie pasti suka" Rara tersenyum.


Setelah selesai membungkus gelang bermatakan berlian itu. Nico mengajak Rara masuk kesebuah butik.


Mereka disambut dengan ramah oleh pelayan butik.


"Mas Nico. Kemana saja. Lama sekali tidak kemari?" kata Wanita yang ternyata manager butik tersebut.


Nico hanya tersenyum tipis merespon ucapan wanita itu.

__ADS_1


"Tolong carikan gaun yang bagus untuk gadis ini" Nico menarik kerah baju Rara.


"aw...tuan. Bisa robek baju Rara" Rara, memperlihatkan wajah cemberut.


"Mari nona" kata pelayan butik itu ramah.


Nico duduk disofa menyilangkan satu kakinya.


"Yang ini bagaimana?" Sekali lagi pelayan itu memperlihatkan Rara dengan gaun yang lain.


"Coba kau berputar" kata Nico. Dan Rarapun memutar tubuhnya.


"Ganti!" kata Nico.


"Bagaiman dengan yang ini?" kata pelayan butik itu lagi.


Nico mengelus-ngelus jambang halusnya.


"Terlalu terbuka" kata Nico.


"Kalau yang ini?" kata pelayan toko itu lagi.


Nico menatap Rara dengan intens.


"Lebih bagus gaun yang kedua" kata Nico. Menahan senyumnya.


"Sekalian pilihkan sepatu yang bagus untuknya"


"Baik" jawab pelayan butik itu.


Nico menatap kearah kaki Rara dengan kening yang berkerut.

__ADS_1


"Rara suka sepatu ini. Sangat nyaman" Rara berlagak lari ditempat.


"Terserah kau saja!"


Nico keluar dari butik diikuti langkah Rara.


"Kita mau kemanan lagi tuan?" kata Rara menjejeri langkah panjang Nico.


Nico membelokkan langkahnya masuk kedalam salon.


Saat Rara tengah di-make over. Nico diam-diam keluar dari salon tersebut.


"Bukan waktunya becanda, tuan" Rara celingak-celinguk mencari sosok Nico.


"Sudah" kata Nico dari balik punggung Rara. Dengan setelan Jasnya.


Baik Nico maupun Rara sama-sama menatap intens. Detik kemudian tersenyum secara bersamaan.


"Rara kira mau ditinggal" kata Rara masuk kedalam mobil.


"Kok, masih berdiri disitu" Rara menengadahkan kepalanya melihat Nico masih diluar mobil.


"Minggir...enak saja. Kau yang nyetir" kata Nico. Mendorong tubuh Rara kearah jok kemudi.


"Oh_my_ God. Rara sudah cantik begini disuruh nyetir tuan?" Rara membulatkan matanya.


Sepanjang perjalanan sambil menyetir Rara juga sibuk menutupi bagian pahanya yang terekspos, karena belahan gaunnya yang cukup tinggi. Sesekali melirik kearah Nico yang duduk disampingnya.


"Kau tenang saja. Aku tidak akan tertarik melihat pahamu yang hitam dan burik itu" Nico melirik kearah bagian paha Rara yang terbuka.


"Tutup matamu, tuan!" pekik Rara. Menjeling kearah Nico.

__ADS_1


Mobil mewah Nico memasuki halaman mansion keluarga Ferdinand yang telah dipenuhi beberapa mobil tamu undangan.


...✍️Bersambung......


__ADS_2