My Love Supir

My Love Supir
Sc. 48


__ADS_3

Rara mengulurkan lembaran cek itu kepada Winda.


"Kau berhasil mendapatkannya?" Winda bertanya. Dengan raut wajah seakan-akan terkejut. Mengambil cek yang Rara sodorkan padanya.


"mm" Angguk Rara.


"Ara...mamah dan Winda minta maaf, terpaksa melibatkanmu dalam masalah keluarga kami" Wanita paruh baya itu menatap Rara dengan sendu.


"Tante jangan bicara seperti itu. Winda dan tante sudah Rara anggap seperti keluarga sendiri" kata Rara dengan tulus.


"Oh, ya. Tante masak special hari ini. Bagaimana kalau Rara makan siang disini?" tawarnya.


"Boleh" Rara tersenyum kecil. "Tapi Rara kesini bersama asisten tuan Nico. Namanya Pak Leon, sekarang dia sedang menunggu dimobil"


"Ajak saja dia sekalian makan siang bersama kita" Mamah Winda tersenyum lebar.


Awalnya Leon menolak dengan halus tawaran makan siang itu. "Biar saja Leon. Sesekali buat dia menunggu" bisik syaiton dihatinya.


Rara menikmati masakan mamah Winda, yang memang terkenal eunak itu. Winda terlihat sedikit jengah karena tingkah mamahnya, yang tampak sibuk melayani Leon dimeja makan.


"Nak Leon harus coba yang ini," Mamah Winda menyendok dan memasukkan tumis jantung pisang kedalam piring pria itu. "Ayo...dicicipi. Pasti nagih deh" katanya sembari tersenyum.

__ADS_1


Leon melirik sekilas kearah mamah Winda, saat akan memasukkan tumis jantung pisang kedalam mulutnya.


"Gemana, enakkan?"


Leon meresapi sejenak rasa tumis jantung pisang itu setelah berbaur dengan salivanya. "Lumayan" kata Leon. Sedikit menarik sudut bibirnya.


Rara tersenyum didalam hati. Melihat bagaimana pria berwajah datar dan dingin itu menghadapi mamah Winda yang sedikit cerewet.


"ck, mamah" decak Winda. Jengah dalam hati.


"Kenapa mereka lama sekali" gumam Nico. Dengan rasa kesal. Menunggu Leon dan Rara diruangan kantornya.


Setelah menyelesaikan makan siang mereka dirumah Winda dan mamahnya. Baik Rara maupun Leon berpamitan untuk kembali kekantor.


"Tante__" Rara memeluk mamah Winda. Tampa bisa berkata apa-apa lagi.


"Terima kasih sekali lagi" bisik Mamah Winda ditelinga gadis itu.


"Mah. Winda gak enak banget sama Rara" kata Winda. Setelah sahabatnya itu tidak ada lagi disitu.


"Udah. Kamu gak usah mikirin yang macem-macem. Mamah yakin nak Leon tidak bermaksud buruk sama Rara" kata mamah Winda. Yang masih berdiri didepan pintu.

__ADS_1


-


-


Setelah berada didalam mobil. Beberapa saat setelah meninggalkan rumah Winda. Rara tergiyang-iyang kembali apa yang diucapkan Nico padanya.


"Seharusnya kau itu senang. Akan dinikahi oleh seorang Nico Donzalles. Pria tampan dan sukses. Kau sendiri yang bilang bukan, kalau aku ini The Real Sultan?"


"Ada benarnya juga, apa yang dia katakan" batin Rara, dan iapun terkekeh.


"Nona...anda baik-baik saja?" tanya Leon. Cemas, melirik dari kaca spion. "Nona Rara itu kenapa, tiba-tiba tertawa sendiri?"


"Eh...iya, pak" jawab Rara. Masih dengan tertawa.


"Kita kembali kekantor Pak Leon?" tanya Rara. Ia baru sadar kalau arah mobil itu menuju kekantor Nico.


"Tuan Nico, meminta menjemputnya dulu dikantor. Setelah itu baru kemansion nona" balas Leon.


Mobil mewah itu berlahan berhenti bergerak saat tiba didepan gedung Donz. Drc. Tampak Nico telah berdiri disana. Dengan wajah dingin dan datar.


"Kalian itu kenapa lama sekali?!" kata Nico. Dengan kesal. Setelah ia duduk dikursi penumpang bagian belakang.

__ADS_1


...✍️Bersambung ......


__ADS_2