My Love Supir

My Love Supir
Sc. 29


__ADS_3

Rara dan Bhumi melanjutkan pembicaraan mereka duduk dibalai-balai bambu yang ada disekitar makam.


"Beberapa hari ini kau sulit aku hubungi. Apa handphonemu masih ditangan Nico?" tanya Bhumi.


Rara menggeleng pelan.


"Sudah ada padaku" jawab Rara. Menatap jauh kearah barisan makam.


"Aku ingin mengajakmu kerumah. Ketemu mamah" Bhumi manatap Rara.


"Untuk apa? Bukankah mamahmu tidak menyukai aku?" Rara tertawa sumbang.


"Mamah sebenarnya baik. Hanya mungkin belum terlalu mengenalmu" bujuk Bhumi.


"Tapi bukan mengenalkan aku sebagai calon menantunya, bukan?" Canda Rara.


"Bisa ya ..bisa tidak" sahut Bhumi juga dengan becanda.


"Rara gak janji" kata Rara.


"Nanti aku hubungi kamu lagi" kata Bhumi.


Setelah percakapan itu, Bhumi mengantarkan Rara sampai kekantor.


Dan sekarang gadis itu tengah berada diatas menara gedung. Tempat yang belakangan ini menjadi tempat yang sering ia datangi.


Memandang luas hamparan langit dengan bentuk awan yang berubah-ubah bentuk.


"Apa aku harus memenuhi permintaan Bhumi ya?" Gumam Rara bimbang.


Drrtt


"Kau dimana. Kenapa lama sekali!" terdengar suara bentakan dari sebrang.

__ADS_1


"Iya... Rara sekarang otw keruangan tuan" Rara menutup ponselnya.


"Berani sekali dia menutup panggilanku" Nico menatap tajam kearah ponselnya.


"Masuk!" kata Nico.


"Tuan mau Rara siapkan mobil sekarang?" tanya Rara setelah berada didalam ruangan Nico.


"Buatkan aku kopi" perintah Nico.


"Tadi pagi kau tidak sempat membuatkan aku kopi" kata Nico lagi.


"Ish..." desis Rara dalam hati. Berlalu dari ruangan Nico menuju pantry.


Menit kemudian masuk kembali dengan secangkir kopi diatas nampan.


"Kopinya tuan" Rara meletakkan kopi itu diatas meja kerja Nico.


Pria itu hanya melihat sekilas kearah Rara kemudian sibuk kembali dengan laptop dihadapannya


"Ada yang anda butuhkan lagi tuan" kata Rara. Setelah menutar badannya melihat kearah Nico.


"Kau temani aku disini" kata Nico.


"Tapi tu__" Rara tidak meneruskan kalimatnya. Karena saat ini Nico tengah memberi tatapan membunuh kearahnya.


"Baiklah..." Rara melangkah dengan lesu diduduk disofa.


Mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Tidak boleh main hp" kata Nico yang masih tetap menatap layar laptopnya.


"iihhhs" gerutu Rara, kesal didalam hati. Memasukkan kembali ponsel kedalam saku celananya.

__ADS_1


Nico tersenyum didalam hati.


Melihat gadis itu yang kini tengah duduk terkantuk-kantuk didalam ruangannya.


Setelah beberapa jam.


Nico menutup laptop dan berdiri dari kursi kebesarannya.


"Hei. Bangun. Siapkan mobil" Nico menendang pelan kaki Rara.


"Sekarang tuan" Rara terkaget mengucek matanya.


"Besok...!" kata Nico menuju arah pintu. Menyembunyikan senyum tipis dibibirnya.


Malam ini Rara yang telah siap untuk dijemput Bhumi. Menunggu pria itu didepan gerbang kosts-annya. Sesekali gadis itu menarik pelan nafasnya.


Melihat mobil Bhumi yang tengah memasuki gang Rara segera menghampiri.


"Aku gak telatkan?" Bhumi membukakan pintu mobil dari dalam. Melihat gadis itu sedari tadi sudah menunggu.


"Gak" Rara tersenyum dan masuk kedalam mobil.


"Ngenalin sebagai teman dekatkan, bukan calon bini" kata Rara menegaskan lagi.


"Iya...bawel" Bhumi mencubit dengan gemapipi gadisnya.


"Relax, aja jangan kaku begitu dong" goda Bhumi, melihat Rara yang memperlihatkan wajah gelisahnya.


Kalau bukan atas desakan Bhumi yang terus mendesak Rara untuk menemui Mamahnya dengan alasan sekedar memperkenalkan gadis itu sebagai teman dekat, Rara sudah pasti menolaknya.


"Yuk, masuk" ajak Bhumi.


"Kamu tunggu disini. Aku panggil mamah dulu" Bhumi masuk kedalam ruangan lain dirumah yang cukup mewah itu.

__ADS_1


...✍️Bersambung ......


__ADS_2