My Love Supir

My Love Supir
Sc. 31


__ADS_3

Nico menoleh dan menggerakkan kepalanya sedikit kesamping.


Nico memberi kode perintah untuk dirinya.


Mau tidak mau Rara menyusul langkah Nico.


"Masuk..." Perintah Nico begitu sampai didepan pintu apartemennya.


"Tuan Nico itu, kenapa? Apa aku berbuat kesalahan lagi?" batin Rara.


Melihat perubahan wajah Nico yang tiba-tiba menjadi dingin dan datar.


Nico duduk disofa, menyilangkan satu kakinya menatap lurus wajah imut dihadapannya yang mengenakan kaca mata hitam didalam ruang tengah apartemen itu.


"Kenapa wajahmu tegang begitu" tanya Nico.


"Bagaimana Rara tidak gugup. Tuan Nico melihat Rara seperti itu?" Sahut Rara, mencuri pandang kearah Nico lalu kembali menunduk.


"Katakan padaku apa yang terjadi. Sehingga wajah jelekmu itu bertambah jelek" ejek Nico.


"Menyebalkan" umpat Rara, tapi hanya didalam hati.


"Kenapa kau diam. Cerita padaku?" desak Nico. Melonggarkan ikatan dasi dileher kokohnya.


"Kenapa tuan begitu ingin tau?"


Nico gugup sejenak mencari alasan yang tepat.


"Kepoh aja. Memangnya tidak boleh?" jawab Nico asal.


Rara tertawa mendengar apa yang pria itu katakan.

__ADS_1


"Sejak kapan tuan mulai menggunakan bahasa gaul?" detik kemudian Rara menghentikan tawanya. Karena Nico kini tengah menatap tajam kearahnya.


"Bhumi memperkenalkan aku pada keluarganya" kata Rara, memulai ceritanya.


"Tapi Mamahnya tidak suka padaku"


"Lalu..." Kata Nico. Menatap intens kearah gadis yang kini menundukkan kepalanya itu.


"Ya...sudah begitu saja ceritanya" Rara mengulas senyum kecil dibibirnya.


"Kau tunggu disini sebentar" perintah Nico, lalu pria itu masuk kedalam bedroom. Keluar kembali melangkah kearah ruang tengah dengan box ditangannya.


Nico menggulurkan box itu pada Rara. "Untukmu"


"Untuk Rara?" Rara mengerutkan keningnya melihat box dan Nico secara bergantian.


"hem" angguk Nico.


Dengan sedikit perasaan ragu, Rara mengambil box itu dari tangan Nico dan membukanya.


"Apa kau suka?" tanya Nico. Yang kini telah duduk disamping Rara.


"Inikan kalung bulan sabit yang__"perkataan Rara menggantung saat Nico dengan gerakan cepat menempelkan bibirnya.


Hanya ciuman sesaat, ya hanya sesaat.


Rara mengerjapkan matanya. Ia tidak menyangka dengan apa yang barusan Nico lakukan.


Nico mengusap perlahan bibir tipis milik Rara. Entah dorongan dari mana, pria itu kembali menautkan bibir mereka. Bukan ciuman seperti yang dilakukannya tadi, ciuman kali ini lebih mendalam. Walau Rara tidak membalasnya.


Rara tersentak seketika.

__ADS_1


Mendorong dada bidang milik Nico, mengurai tautan bibir mereka.


Perasaannya kini bercampur aduk. Hanya satu yang ingin ia lakukan saat ini. Menghindar dari Nico secepatnya.


Nico memungut kalung berbentuk bulan sabit yang tercecer dikarpet ruang tengah.


Terukir senyum samar dibibirnya. Lebih tepatnya seringai tipis.


"Tidak mungkin aku menyukainya"


Menatap bayangan punggung Rara yang menghilang dibalik pintu apartemen.


"Leon. Kau batalkan semua jadwalku hari ini" perintah Nico pada asistennya disebrang sana.


Sepanjang perjalanan pulang Rara terus mengumpat dan mengutuki dirinya. Yang begitu naif dan bodoh tidak mampu menolak ciuman Nico.


Bahkan sampai dua kali pria itu menciumnya.


Baik Rara maupun Nico sama-sama menutupi perasaan canggung diantara mereka.


Didalam mobil pagi itu.


Ehem


"Untuk ciuman itu...Aku hilaf dan sebaiknya kau lupakan saja" kata Nico mengurai canggung diantara mereka.


Rara tetap menatap kedepan, fokus dibalik kursi kemudinya.


"Pantas saja dia tidak mendengar ucapanku" gumam Nico.


Mencuri pandang lewat kaca spion diatas kepala Rara, yang menyumbat kupingnya dengan headset.

__ADS_1


"Aku akan melupakannya" sahut Rara dalam hati.


...✍️Bersambung ......


__ADS_2