
Leon mengambil Tablet diatas meja, dengan wajah non-ekspresinya mengusap permukaan layar tablet tersebut. Anggie terlihat sangat serius menatap kearah asisten Nico itu. "Untuk Minggu ini dan satu Minggu kedepan jadwal anda padat, tuan" jelas Leon.
Nico merasa ada yang tidak beres dengan uraian asistennya itu. Namun pria itu tetap diam mendengarkan.
"Cukup" bentak Anggie.
"Lupakan saja soal liburan" Anggie menatap asisten Nico dengan raut wajah kesal. Karena baru rencana awal sudah gagal.
Lalu wanita itu bangkit dari sofa menuju arah pintu.
"Anggie" panggil Nico. "Biar Leon mengantarkanmu sampai kebawah"
"Tidak perlu!" Ucap Anggie. Tampa membalikkan badannya.
Setelah Anggie tidak ada lagi didalam ruangan itu.
Nico menggerak-gerakan jarinya meminta agar Leon menyerahkan tablet itu padanya. "Mengapa kau lakukan itu?" tanya Nico. Setelah pria itu melihat apa saja yang tertulis disana.
"Tuan, aku hanya ingin anda lebih fokus pada pekerjaan dan perusahaan ini. Jangan sampai, anda membuang-buang waktu untuk hal yang tidak penting" kata Leon dingin.
Nico melempar tablet itu kearah sofa "Julukan Anggie untukmu sudah tepat" kata Nico.
"Sebaiknya anda lebih fokus dengan masalah nona Rara, tuan" kata Leon lagi.
"Rara? Apa hubungannya aku dengan gadis itu?" Kata Nico sengit.
__ADS_1
"Anda masih ingat apa yang anda lakukan pada nona Rara, tuan. Bagaimana bila suatu saat, nona Rara melaporkan anda dengan pasal pelecehan dan perbuatan tidak menyenangkan?" kata Leon.
"Leon. Kalau sampai hal itu terjadi kau yang harus bertanggung jawab" Nico menunjuk kearah Leon.
"Saya mengerti tuan" Leon membungkukkan badannya.
Nico mengibas-ngibaskan tangannya, memberi isyarat agar asistennya itu keluar dari ruangannya. Tiba-tiba saja kepalanya menjadi sangat pening.
Rara mendorong motornya memasuki gerbang kosts-an. Saat ia ingin menutup kembali gerbang itu.
"Selamat sore nona Rara. Apa kita bisa bicara sebentar" ucap Leon.
"Pak Leon" Rara mengerutkan keningnya, karena terkejut atas kedatangan asisten Nico sore hari itu kekosts-anya.
"Eh, iya...selamat sore. Ada perlu apa ya, pak." Rara menyebarkan pandangannya, mencari sosok lain yang biasanya selalu bersama Leon.
Rara mengikut saja saat Leon mengajaknya untuk masuk kedalam mobil.
"Betulkah nona berniat untuk berhenti bekerja dengan tuan Nico?" tanya Leon, to the poin setelah mereka berada didalam mobil.
"ehm" Rara meng-angguk lemah.
"Anda tau siapa tuan Nico?" tanya Leon dengan penuh penekanan.
Rara meng-anggukan kepalanya sesaat kemudian meng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tuan Nico adalah orang yang sangat berpengaruh dan berkuasa disini, bahkan di Asia. Karena itu, saya tidak bisa menjamin atas keselamatan keluarga dan juga orang-orang terdekat nona" Leon menatap Rara intens dengan aura dinginnya.
"Apa dia sedang menakut-nakutiku" batin Rara.
"Maksud pak Leon?"
"Tuan Nico bisa melakukan apapun bila dia tidak suka dan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang diinginkannya" Leon berkata dengan sangat tegas.
"Cih. Arogan sekali" umpat Rara tapi hanya didalam hati.
"Jadi bagaiman nona. Apakah anda masih tetap ingin mengundurkan diri?"
"Sampaikan kepada tuan Nico Donzalles. Mutiara Puspita tidak takut, ti_tik" Tampa pamit, Rarapun keluar dari mobil dan sedikit berlari kembali kekosts-an.
Leon menatap punggung Rara "Menarik" gumamnya.
Winda datang menghampiri Rara dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
"Winda apa yang terjadi?" tanya Rara, mengguncang pundak sahabatnya itu.
Namun Winda tidak menjawab pertanyaan Rara, Winda terus saja menangis.
"Winda...Winda...Winda..." racau Rara.
"akh..."
__ADS_1
Rara terbangun dari tidurnya.
...✍️Bersambung ......