My Love Supir

My Love Supir
Sc. 4


__ADS_3

"Nona...Rara. Saya harap anda bisa mempertimbangkan lagi tawaran pekerjaan yang diberikan tuan Nico kepada anda" jelas Leon.


Saat mereka berada didalam lift gedung perusahaan itu. Rara kembali mengingat percakapannya dengan asisten Nico hari itu.


Beberapa hari kemudian...


Mau tidak mau akhirnya Rara memutuskan untuk menerima pekerjaan sebagai supir diperusahaan Nico.


"Bagaimana nona. Anda sudah siap" tanya Leon. Yang duduk di jok sebelah kemudi.


Rara menjawab dengan senyuman kecil dan anggukan kepala.


Sepanjang hari ini gadis itu menjalani tes menyetir dibawah pengawasan langsung asisten Nico.


Sudah dua hari ini Rara menjali pekerjaan barunya sebagai supir pribadi dari seorang Nico Donzalles.


"Selamat pagi tuan" ucap Rara begitu sampai diapartemen pria itu.


"em" jawab Nico singkat. Melemparkan kunci mobil kearah Rara.


Dengan sigap Rara menangkap kunci tersebut "Sabar...Ra. Sabar..." gumam Rara hanya didalam hati.


Nico's Room


Nico masuk kedalam ruangan kerjanya dengan wajah kesal. Bagaimana pria itu tidak kesal. Supir barunya itu menyetir dengan sangat lamban. Untung saja ia tidak ada pertemuan penting hari ini.


"Leon. Kau panggil gadis itu kemari" perintah Nico.

__ADS_1


"Gadis? Gadis mana yang tuan maksudkan?" tanya Leon menautkan alisnya.


Karena diperusahaan itu tentu saja banyak gadis-gadis.


"Supir...supir. Supir baru yang kau bilang mahir menyetir itu" sindir Nico.


"Oh...nona Rara. Siap tuan" Leon menutupi senyum dibalik telapak tangannya. Meninggalkan ruangan Nico.


"Tuan Nico memanggil saya?" tanya Rara setelah ia berada diruang kerja Nico.


Nico menatap tajam kearah Rara. Membuat gadis itu menundukkan kepala.


"Apa kau sedang mempermainkan aku?" ujar Nico.


"Mempermainkan tuan? Rara tidak mengerti?" jawab Rara.


"Bukankah tuan pernah mengingatkan. Kalau tuan tidak suka dengan kecepatan tinggi dan Rara harus hati-hati karena bila mobil mewah tuan itu lecet sedikit saja, maka gajiku akan dipotong" tutur Rara. Mengerucutkan bibirnya.


Saat ini ingin rasanya Nico mengacak-acak wajah mungil dihadapan.


"Sudah...kau bisa keluar dari ruanganku sekarang" Nico mengibaskan telapak tangannya. "dan buatkan kopi untukku"


"uhf...baru beberapa hari aku bekerja untuknya sudah bikin kesel. Apalagi berbulan-bulan" umpat Rara dalam hati. Melangkah menuju pintu diruangan itu.


"Apa katamu" bentak Nico.


"Eh...Rara tidak bicara apa-apa tuan" Rara membalikkan tubuhnya seraya tersenyum masam dan buru-buru keluar dari ruangan Nico.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Rara masuk kembali keruangan Nico dengan secangkir kopi ditangannya.


"Kopinya tuan" Rara meletakkan cangkir kopi itu diatas meja kerja Nico.


"Kau tunggu disini" Nico meraih kopi dari atas meja dan menyeruputnya. "hmm...lumayan"


Hampir saja cangkir kopi itu melompat dari tangan pria itu. Saat terdengar suara seseorang begitu femiliar di telinganya.


"Surprise!" pekik seorang wanita cantik dan tampak berkelas memasuki ruangan itu.


"Anggie" Nico menatap intens wanita yang tengah berjalan kearahnya.


"Boleh aku memelukmu" Anggie merentangkan kedua tangannya.


"Of course" Nico memeluk hangat wanita yang pernah sangat ia cintai itu. Namun sayangnya cinta wanita itu bukan untuk dirinya.


"Apa kau tidak betah tinggal Perth" tanya Nico setelah mengurai pelukan mereka.


Anggie hanya tersenyum misteri menjawab pertanyaan Nico.


Rara yang masih berada diruangan itu seakan ikut larut merasakan kerinduan mereka. Yang satu tampan dan yang satu cantik sekali, begitu tampak serasi itu.


"Kenapa kau masih disini?" sentak Nico. Menatap tajam kearah Rara. Membuat garis senyum manis dibibir gadis itu pudar seketika.


"A_aku. Maaf tuan" Rara buru-buru meninggalkan ruangan kerja Nico.


...✍️Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2