My Love Supir

My Love Supir
Sc. 16


__ADS_3

Rara terbangun dari tidurnya."Syukurlah ternyata aku cuma bermimpi" Rara mengusap keningnya yang sedikit berpeluh.


Gadis itu termenung memeluk guling, mengingat kembali percakapan dirinya dengan Leon sore itu.


"Apakah aku harus kembali bekerja untuk tuan Nico?" gumam Rara dengan wajah lesu. Meraih ponsel diatas nakas.


"Sudah mulai subuh. Sebaiknya aku bersiap-siap" Rara turun dari ranjang, melangkah kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Pagi itu sesampainya Nico di kantor, setelah Leon membacakan aktivitas Nico seperti biasanya. Dan melaporkan perihal pertemuan dirinya dengan Rara sore itu.


Nico didalam ruangan kantornya terlihat gelisah. Bolak-balik berpindah tempat duduk. Awalnya duduk dikursi kebesarannya kemudian beralih duduk disofa, pindah lagi duduk dikursi kebesarannya menit kemudian duduk lagi disofa yang ada didalam ruangan itu, dan itu berlangsung beberapa kali.


Membuat Leon yang ada disana hanya menggelengkan kepalanya.


"Tuan, nona Rara sedang menuju kemari" kata Leon menatap layar laptop yang tersambung ke CCTV.


Nico merapikan letak jasnya. "Show time" gumam Nico dalam hati. Dengan seringai tipis dibibirnya.


Rara menghirup oksigen sebanyak-banyaknya memenuhi rongga paru-parunya. Tampa mengetuk pintu terlebih dahulu gadis itu masuk kedalam ruangan kantor Nico.


"Tuan Nico" kata Rara dengan suara lantang, berdiri tepat didepan pintu ruangan itu.


"Hei...coba lihat siapa yang datang" Nico menatap Rara dengan senyum meremehkan.


Rara menghampiri Nico dengan langkah cepat.


Mendaratkan pukulan ketubuh pria itu.


bugg...

__ADS_1


"Kau brengsek" maki Rara.


Membuat Nico terkesima sejenak.


Langkah Leon terhenti, melihat Nico mencegahnya dengan isyarat mata.


Sejujurnya Nico cukup terkejut dengan aksi bar-bar gadis itu.


"Kau jahat, aku benci padamu"


Rara terus mendaratkan pukulan demi pukulan pada tubuh Nico.


Tapi entah mengapa pria itu tetap diam, menerima pukulan demi pukulan yang Rara layangkan kepadanya.


Setelah sisa tenaganya habis. Rara terkulai duduk diatas lantai ruangan kontor itu sambil menunduk dan terisak.


Saat gadis itu, mengelap ingus dengan punggung tangannya.


Leon menyodorkan kotak tissue kearah Rara.


"Sebenarnya apa maumu?" tanya Rara pada Nico disela-sela isak tangisnya.


"Cukup jadi supirku yang baik dan penurut" Nico meraba dadanya yang sedikit sakit.


"Berikan kunci itu padaku" Rara menengadahkan satu tangannya.


"Rara tidak jadi mengundurkan diri" kata Rara.


Nico mengambil kunci mobil itu diatas meja kerjanya. Menjinjing dan meletakkan kunci itu diatas telapak tangan Rara.

__ADS_1


Sebelum Rara meninggalkan ruangan itu.


"Jangan lupa kau cuci tanganmu" kata Nico. Bergedik geli, mengingat kembali bagaimana cara gadis itu mengelap air yang keluar dari hidungnya.


Nico merenggangkan otot-otot pundaknya. Dengan wajah sedikit meringis, mengusap pelan dada bidangnya.


"Sakit juga" gumam Nico tertawa kecil.


Beberapa hari ini sikap Rara berubah menjadi lebih patuh dan penurut. Membuat Nico merasa sangat bosan.


"Leon. Kau panggil Rara keruanganku" kata Nico melalui sambungan telepon yang ada diatas meja kerjanya.


Rara segera bergegas menuju ruangan Nico setelah mendapat perintah.


Tok...tok...


"Masuk" perintah Nico dengan tidak sabaran.


"Tuan, memanggilku?" tanya Rara.


"ehm" jawab Nico singkat.


"Aku bosan dengan dekorasi didalam ruangan ini. Coba kau bantu aku memindahkan letak sofa itu kesana, tunjuk Nico kearah sisi lain didalam ruangan kantornya.


"Tuan apa tidak sebaiknya kau menyuruh tenaga ahlinya untuk mendekor ulang ruanganmu bila kau merasa bosan" kata Rara.


"Apakah aku meminta pendapatmu?" Nico menatap tajam kearah Rara.


...✍️Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2