My Love Supir

My Love Supir
Sc. 44


__ADS_3

Winda menutup buka kelopak matanya.


"Om cari siapa ya?" tanya Winda. Dengan kening yang berkerut.


Mengikut lengan mamahnya, yang terus memandangi pria itu.


"Saya Leon, nona. Asistennya tuan Nico" kata Leon. Dengan wajah datarnya.


"Oh..." Winda ber O ria.


Setelah tau siapa pria tampan yang sore hari itu datang kerumahnya.


Sejujurnya gadis itu juga belum pernah bertemu langsung dengan pria yang bernama Nico.


Selama ini ia hanya mendengar tentang pria itu melalui cerita Rara sahabat baiknya.


"Kamu, kenal?" bisik Mamah Winda. Mencolek lengan anak gadisnya, yang hanya menoleh sekilas kearah dirinya.


"Bisa kita bicara didalam, nona?" pinta Leon.


"Eh...iya. Silahkan masuk om_siapa tadi?" tanya Winda. Menyingkirkan tubuhnya yang menghalangi pintu masuk.


"Leon" jawab Leon. Singkat, padat dan jelas.


"Jadi, maksud kedatangan Om Leon kesini ada apa, ya? tanya Winda. Setelah mereka bertiga duduk diruang tamu.

__ADS_1


Leonpun tampa basa-basi langsung menceritakan maksud dari kedatangannya sore hari itu.


Winda dan Mamahnya tampak menyimak dengan baik apa yang dituturkan oleh pria tampan asisten Nico itu.


Sedikit banyaknya, Winda sudah mengetahui apa masalah yang sedang menimpa Rara sahabat baiknya itu.


Kini gadis itu tengah mencerna cerita versi dari pihak Nico.


"Jadi bagaimana nona Winda? Apakah anda bersedia bekerja sama dengan saya?" tanya Leon. Setelah panjang lebar menceritakan maksud kedatangannya.


"Tapi Om Leon. Apa ini tidak sama saja kita membohongi Rara?" tanya Winda. Menatap intens kearah Leon.


"Betul. Bohong itu dosa loh, nak Leon" timpal Mamah Winda. Menepuk paha anak gadisnya.


"Ibu dan nona Winda tenang saja. Dosa kalian biar saya yang menanggungnya" bujuk Leon. Menampakkan senyum tipis dibibirnya.


"Itu...dosa kita udah ditanggung Om Leon" kata Winda, lagi.


"Ini semua demi kebaikan nona Rara" kata Leon. Berusaha terus membujuk Ibu dan anak itu, demi memuluskan rencana yang telah ia buat.


Tampak Mamah Winda sedang berfikir.


"Gak papa deh...boong demi kebaikan" batin Mamah Winda.


Setelah mendapat kode dari sang Mamah, Windapun menyetujui rencana yang telah diatur oleh asisten Nico itu.

__ADS_1


"Kapan rencana ini bisa kita mulai?" tanya Winda. Menatap kearah Leon kembali.


"Secepatnya. Nanti nona Winda akan saya kabari kembali"


"Bisa saya minta nomer kontak nona?" tanya Leon.


Dan Windapun menyebutkan nomer kontaknya.


"Aduh...Mamah sampai lupa. Nak Leonnya gak disuguhi minum" kata Mamah Winda dengan senyum dibibirnya.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya rasa, saya sudah cukup menyampaikan maksud kedatangan saya sore hari ini. Dan sekarang saya pamit dulu" Leonpun bangkit dari sofa.


"Aduh...Mamah beneran gak enak hati jadinya. Bagaimana kalau nak Leon ikut kita, gabung makan malam dulu?" tawar Mamah Winda.


"Mamah..." Winda melotot kearah Mamahnya.


"Terima kasih banyak ibu untuk tawarannya. Tapi sekali lagi terima kasih" Leonpun melangkah keluar dari rumah Winda.


Menuju mobilnya, yang terparkir didepan halaman rumah yang terlihat asri itu.


"Ganteng banget ya, Win? Mirip aktor Turki. Mamah sih gak bakalan nolak kalau punya mantu kayak nak Leon" kata Mamah Winda. Setelah Leon berlalu dari rumah mereka.


"Idih...Mamah. Apaan sih" kata Winda. Memandang jengah kearah mamah tercintanya.


Wanita paruh baya itu hanya mengulum senyum dibibirnya, karena berhasil menggoda anak gadisnya.

__ADS_1


...✍️Bersambung ......


__ADS_2