My Love Supir

My Love Supir
Sc. 9


__ADS_3

Didalam perjalanan pulang, Rara memilih untuk diam. Fokus dikursi kemudi melaju dijalan raya Ibukota malam itu.


Ia tidak ingin menambah kemarahan Nico. Pria itu sempat mengancam akan meninggalkannya pulang sendiri dari Arena Dunia Fantasi.


"Jadi disini tempat tinggal mu?" Pertanyaan Nico, memulai percakapan diantara mereka.


"Iya, tuan. Rara kost disini. Tepatnya diujung sana" Rara menunjuk bagunanan bertingkat dengan cat yang mencolok, tidak jauh dari gang itu.


Perlahan Rara menghentikan mobil dilapangan kecil dimulut gang itu. Tampak beberapa kendaraan, warga penduduk setempat parkir disana.


"Rara pamit, tuan. Hati-hati menyetirnya" Oh__iya, terima kasih untuk bersenang-senangnya" Rara melanjutkan kalimatnya dan tersenyum.


Nico mengangguk pelan.


Pria itu mengawasi Raradari balik kursi kemudi. Kemudian ia melajukan mobilnya setelah bayangan tubuh Rara hilang berbelok digang sempit itu.


...☘️☘️...


Hari ini Rara sengaja berangkat agak pagi dari biasanya, karena motor butut miliknya masih berada diparkiran apartemen Nico. Jadi terpaksa gadis itu harus naik bis kota.


Sudah hampir sepuluh menit Rara berada didepan pintu apartemen Nico.


Ting...tong


"Apa tuan Nico ketiduran ya, karena lelah bermain semalam?" pikir Rara. Sekali lagi ia menekan bel, namun hasilnya tetap sia-sia.

__ADS_1


Ditempat lain...


Nico turun dari mobil mewahnya tepat didepan gedung Donz.Drc dan menyerahkan kunci mobil pada sicurity gedung itu untuk diparkirkan.


"Masuk" perintah Nico setelah mendengar suara asistennya itu.


"Selamat pagi tuan" sapa Leon.


Nico menganggukkan kepalanya.


"Tuan tidak bersama nona Rara?" tanya Leon menatap Nico yang duduk dikursi kebesarannya.


"Dia belum sampai" Nico malah bertanya balik pada asistennya itu.


"Kau ini tuan. Kalau aku sudah melihat nona Rara dikantor ini mana mungkin aku bertanya padamu" gerutu Leon didalam hati.


Leon menjawab dengan anggukan.


"Ya...ampun, tuan Nico tidur apa pingsan ya" gerutu Rara. Meraih ponsel dari tasnya. Tidak lama kemudian Rara menepuk jidatnya sendiri, karena ia baru sadar kalau selama ini tidak menyimpan nomer kontak tuan Nico.


"Pak Leon..." Rara mencari nomer kontak Leon diponselnya. Belum sempat ia menghubungi Leon, ada pesan masuk keponselnya. Yang mengabarkan kalau Nico sudah berada dikantor dan ia disuruh segera kekantor.


"Pasti dia sedang membalasku" gerutu Rara.


Rara mengendarai motornya menuju kantor didalam cuaca gerimis pagi itu. Tiba-tiba ada mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi menyerempet motornya. Rara kehilangan keseimbangan dan menabrak bahu jalan.

__ADS_1


Brakk...


"*****" umpat Bhumi dengan cepat menginjak pedal rem, melihat motor Rara yang tumbang dari kaca spion. Lalu pria itu segera turun dari mobilnya.


Sementara itu sudah ada kerumunan massa ditempat kejadian.


"Nah_itu... tu yang nabrak Mbk ini" tunjuk seseorang yang berada di kerumunan itu.


Bhumi mempercepat langkahnya.


"Sini, biar saya saja mas..." Bhumi mengambil tubuh Rara yang sedang pingsan dari tangan seorang pemuda.


"Bapak-kan yang nambrak cewek ini" berang pemuda itu.


"Iya...mas. Makanya saya mau tanggung jawab, membawa mbak ini kerumah sakit" aku Bhumi.


"Sudah...sudah. Masnya udah mau tanggung jawab. Mending sekarang buruan bawa mbknya ini kerumah sakit" imbuh massa yang lainnya menengahkan.


"Mas..ini tas mbknya sekalian dibawa"


Dengan hati-hati Bhumi meletakkan tubuh Rara dijok belakang mobilnya.


Nico memandang hujan dari balik jendela kaca ruangannya. Ada sedikit rasa cemas karena Rara belum juga muncul dikantor itu.


"Leon. Coba kau hubungi lagi Rara" perintah Nico.

__ADS_1


...✍️Bersambung ......


__ADS_2