
Sesampainya dirumah sakit Bhumi langsung menggendong Rara menuju ruang UGD dan langsung ditangani oleh dr. Vonny, yang tak lain adalah sepupunya sendiri.
"Bagaimana kondisinya Von?" Bhumi menatap Rara khawatir yang terbaring diatas ranjang.
"Sedikit luka dibagian tangan dan lutut. Kelihatannya tidak ada luka yang serius" jelas Vonny.
"Tapi kenapa dia masih pingsan?" tanya Bhumi lagi tampa memalingkan wajahnya dari Rara.
"Bisa jadi nona ini shock aja. Kita tunggu beberapa menit lagi, Bhum" Vonny coba menenangkan sepupunya itu.
"mmm..." perlahan Rara membuka matanya.
"Aku dimana?" Rara memijat pelan kepalanya yang terasa sedikit pusing.
"Kamu ada dirumah sakit" bisik Bhumi.
Pelan-pelan Rara mengingat kembali kejadian itu.
"Motorkuu.." jerit Rara pelan.
Hampir saja Bhumi melepaskan tawanya. Karena Rara sempat memikirkan motor bututnya. Untung pria itu cepat sadar kalau mereka sedang berada diruang UGD.
"Motor mbk baik-baik saja" bisik Bhumi pelan.
Setelah membaringkan Rara dimobilnya. Bhumi langsung menghubungi bengkel pribadinya.
"Kamu siapa?" Rara menatap pria yang berdiri disisi ranjang itu.
__ADS_1
"Perkenalkan namaku Bhumi Pratama. Saya yang menyebabkan mbknya berbaring disini sekarang" Bhumi tersenyum tipis. "dan kamu?" tanya balik Bhumi kepada Rara.
"Namaku Mutiara Puspita. Panggil aja Rara"
Seorang suster diruang UGD menghampiri mereka.
"Mas Bhumi dipanggil dr. Vonny diruangannya" imbuh suster itu tersenyum ramah.
Hari sudah semakin sore tapi Leon masih belum bisa menghubungi Rara. "Nona Rara tidak menjawab panggilan saya, tuan" lapor Leon.
"Damn" Nico menggebrak meja kerjanya.
Sore itu juga Rara sudah diperbolehkan pulang. Bhumi sendiri yang mengantar Rara.
Disepanjang perjalanan mereka saling bertukar cerita. Dari situlah Bhumi tau kalau Rara bekerja sebagai supir diperusahaan Donzalles.
"Jadi hanya kamu yang tidak mewarisi jiwa kedokteran dikeluargamu?" canda Rara.
"hmm. Begitulah" cibir Bhumi menoleh sekilas kearah Rara lalu fokus kembali kedepan.
Mereka berdua terlihat seperti dua orang yang sudah kenal lama. Tak terasa mobil Bhumi telah sampai diujung mulut gang tempat Rara tinggal.
"Jadi kamu tinggal disini" Bhumi memperhatikan sekitar kost-an Rara.
"hmm" jawab Rara singkat.
"Ra...Aku minta maaf sekali lagi atas kejadian ini. Jangan sungkan untuk menghubungi aku kalau kau ada apa-apa menyangkut kesehatanmu. Oh..ya, motormu sekarang ada dibengkel. Nanti akan aku kabari kalau sudah kelar diperbaiki" kata Bhumi sebelum mereka berpisah malam itu.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian...
Kabar Rara terserempet mobil dan sempat masuk rumah sakit, telah Nico ketahui.
Bhumi sendiri yang datang ke kantornya untuk memberi tahu perihal gadis itu. Diam-diam Nico juga telah menyuruh anak buahnya untuk mengawasi gadis itu.
Rara tengah menunggu Bhumi didepan pintu gerbang kosts-annya. Pria itu berjanji akan mengantarkan dirinya untuk mengambil motor dibengkel.
"Rara..." pekik Bhumi melambaikan tangannya dari balik jendela mobil.
Rara melangkah menghampiri Bhumi dengan kerucut dibibirnya.
"Sorry..." Bhumi menelungkupkan kedua telapak tangannya didada, setelah Rara masuk kedalam mobilnya.
"Ni...buat kamu" Bhumi menyodorkan sebuah kotak kepada Rara.
"Gak deh...Bhum. Rara gak bisa terima ini" Rara menyerahkan kembali Kotak Berisikan Ponsel itu kepada Bhumi.
"Berarti kamu gak tulus maapin aku" ucap Bhumi.
"Rara tulus udah maapin kamu Bhum" balas Rara.
"Kalau tulus maapin aku, kamu harus terima pemberianku. Sebagai ganti ponselmu yang rusak karena kecerobohanku. Yang paling penting, supaya aku bisa dengan mudah menghubungi kamu kapan saja" Bhumi mengerdipkan sebelah matanya.
Rara memutar malas bola matanya.
"Ya...sudah, Rara terima deh. Dipaksa sih" kelakar Rara. "Makasih, ya"
__ADS_1
...✍️Bersambung ......