My Love Supir

My Love Supir
Sc. 28


__ADS_3

Nico mengamati langkah Anggie yang kini tengah melangkah menuju keruang tengah, sambil berpikir ada apa gerangan wanita itu datang menemui dirinya diapartemen.


"Boleh aku duduk?" Anggie memperlihatkan senyum manjanya.


"Duduklah. Ada apa kau kemari mencariku?" Nico menyilangkan satu kakinya.


"Aku mau minta maaf karena telah membuat kekacauan diclub tempo hari" Anggie menatap lurus kearah Nico.


"Apa benar Leon, pria itu" Nico memalingkan wajahnya.


Anggie mengangguk.


Suasana diruang tengah apartemen itu diliputi aura canggung beberapa menit.


Baik Nico maupun Anggie tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


"Leon ingin membuktikan kalau ia bukan seperti Daddynya. Kepercayaan uncle Laiv yang hilang karena korupsi besar-besaran yang ia lakukan pada perusahaan Donz. Kau tahu, Leon sangat mengagumi Daddymu. Oleh karena itu Leon remaja memutuskan untuk mengabdi pada perusahaan dan keluargamu.


Dengan dia menerima cintaku, itu sama saja ia menyakiti hatimu" jelas Anggie panjang lebar, mengurai suasana canggung diantara mereka. Walau Nico tidak menanyakannya.


"Nico, apakah kau marah pada Leon? Apakah kau masih menyimpan rasa untukku?"


Pertanyaan Anggie yang beruntun membuat Nico hanya menarik sedikit sudut bibirnya. Hendak bangkit dari duduknya.


"Nico jawab aku" Anggie berkata dengan raut wajah serius.


"Aku hanya kecewa padamu yang tidak mau berkata jujur padaku. Dan kalau yang kau tanyakan apakah aku masih menyimpan rasa untukmu?" Nico diam sejenak.

__ADS_1


"Ya. Tapi itu bukan cinta"


"Terima kasih Nic" Anggie. Menatap punggung pria itu.


"Kau mau minum apa?" Nico bertanya tampa menoleh kearah Anggie.


"Tidak usah. Aku langsung pulang saja" tolak Anggie dengan tersenyum kecut, melangkah menuju pintu keluar apartemen.


...🍀🍀...


"Selamat Pagi, tuan" Rara membukakan pintu penumpang bagian belakang mobil.


"Pagi" sahut Nico. Masuk dan duduk dikursi depan.


"Eh.." Rara celingukan melihat Nico malah masuk dikursi depan. Dan ia langsung menutup pintu belakang.


"Eh...anu. Gak kenapa-napa kok, tuan" jawab Rara salah tingkah.


Rara malu menatap Niko karena setiap melihat pria itu, Rara teringat akan tubuh setengah telanjang pria itu.


"Dia itu kenapa?" Batin Nico.


Ehem


Rara mendehem memecah kebisuan mereka.


"Tuan. Nanti Rara mau minta ijin sebentar" kata Rara menoleh kearah Nico disamping. Kemudian fokus lagi melihat kedepan.

__ADS_1


"Jangan lama-lama" balas Nico.


Rara tersenyum dan meng-anggukan kepala. Menatap fokus kedepan mengemudikan mobil dijalan raya Jakara pagi itu.


Mobil itu berhenti tepat didepan gedung Donz. Drc.


Sebelum Nico turun dari mobil pria itu menawarkan pada Rara untuk membawa mobil miliknya. Tapi Rara menolak halus tawaran yang pria itu berikan.


Tampa Rara ketahui diam-diam Bhumi mengikuti kemana gadis itu pergi.


"Neng Rara...sudah lama tidak kemari. Sibuk kerja?" sapa Pak Asep, penjaga pintu sekaligus makam itu.


"Iya, pak" jawab Rara tersenyum.


"Rara ketempat Babe dulu" pamit Rara.


"Mangga atu..." balas Pak Aseppun tersenyum.


Rara menjongkok didepan pusara Babe Benny. Mencabut sedikit rumput liar yang tumbuh disana.


"Be...maapin Rara lama gak jenguk Babe" Rara membelai batu nisan berukiran nama Babenya disana.


Rara menoleh menengadahkan wajahnya. Saat terasa ada seseorang yang menghampirinya.


"Bhumi...kok tau Rara ada disini?" tanya Rara pada pria yang juga ikut berjongkok disampingnya.


"Aku sengaja mengikutimu sejak dari kantor. Aku khawatir terjadi apa-apa denganmu" Bhumi menatap intens kearah gadis manis yang telah mencuri hatinya.

__ADS_1


...✍️Bersambung ......


__ADS_2