My Love Supir

My Love Supir
Sc. 22


__ADS_3

Rara fokus menyetir dibalik jok kemudi. Nico sibuk dengan ponsel ditangannya, namun sesekali pria itu mencuri pandang kearah Rara yang sedang fokus melihat kedepan jalan raya, lewat perantara kaca spion yang berada diatas kepala gadis itu.


Drrtt


Rara memasang headset dikupingnya.


"Hallo...Ra" terdengar suara Bhumi dari seberang.


"Bhum. Rara lagi sama bos besar, lagi nyetir. Ada apa?" Bisik Rara.


"Aku tunggu ditempat biasa" kata Bhumi lagi. Menutup pembicaraan mereka melalui sambungan handphone.


Mobil Nico telah sampai didepan gedung Donz.Drc


"Setelah kau memakirkan mobil, langsung keruanganku" titah Nico kepada Rara sebelum pria itu turun dari mobil.


"Baik, tuan" angguk Rara.


Seletelah memakirkan mobil, Rara menuju lantai dimana ruangan Nico berada didalam gedung miliknya.


Tok...tok....


Pintu ruangan kantor Nico ditarik terbuka dari arah dalam oleh Leon.


Rara menghampiri meja kerja Nico.


"Berikan ponselmu!" pinta Nico.


"Ponsel Rara. Untuk apa tuan?" Rara mengerutkan kening.


"Aku bilang berikan ponselmu padaku!" Nico mengulangi ucapannya menatap intens kearah Rara.

__ADS_1


"Tapi untuk apa tuan?" Rara menyembunyikan ponsel dibalik punggungnya.


"Kalau aku bilang berikan. Ya, berikan..." Nico berbicara dengan penuh penekanan.


"Tidak mau!" Tolak Rara tegas.


Nico berdiri dari kursi kebesarannya. Berusaha mengambil paksa ponsel dari tangan Rara.


"Tidak mau" Rara tetap ngotot mempertahankan ponsel milkiknya.


Maka terjadilah kejar-mengejar, tarik-menarik, diantara Nico dan Rara pagi itu. Didalam ruangan kantor Nico.


Rara harus terpaksa mengalah. Saat tubuhnya telah berada dibawah tubuh Nico yang berbaring dilantai. Sejenak mereka saling berserobok pandang dengan jarak yang begitu dekat.


"Minggir" Rara mendorong kuat dada Nico yang berada diatas tubuhnya. Dengan gerakan cepat Nico turun dari tubuh Rara, merapikan letak kemejanya.


Leon yang berada didalam ruangan itu memperhatikan kelakuan Nico dan Rara dengan wajah datarnya.


"Nanti. Setelah aku selesai rapat" kata Nico dengan seringai licik dibibirnya.


"Dan kau, jangan kemana-mana. Tetap diruanganku sampai aku kembali" Nico menunjuk kearah Rara. Lalu pria itu keluar dari ruangan kantornya diikuti oleh Leon.


"Ish...dia itu sebenarnya kenapa? Tiba-tiba membajak ponselku" gerutu Rara. Mendaratkan bongkongnya disofa.


Rara menepuk pelan keningnya.


"Bhumi.." pekik Rara.


Rara baru ingat kalau dirinya janjian dengan Bhumi. Ditempat biasanya mereka bertemu.


Rara melangkah menuju arah pintu "syukurlah tidak dikunci"

__ADS_1


Menyembulkan kepalanya dari celah pintu. Melongok kekanan dan kekiri. "Aman" gumam Rara.


Berjalan dengan sikap biasa saja meninggalkan lantai ruangan kantor Nico.


Bhumi masih duduk dikursi taman disamping gedung itu. "Ternyata dia masih menungguku" Rara menatap haru punggung Bhumi dari kejauhan.


"Bhum..."


"Ra...aku pikir kau tidak jadi datang" Bhumi meraih tangan Rara, untuk duduk disampingnya.


"Berkali-kali aku mencoba menghubungimu, tapi ponselmu tidak menjawab" kata Bhumi lagi. Menoleh kesamping.


"Ponsel Rara dibajak sama tuan Nico" kata Rara lesu.


"Kenapa?" Bhumi. Mengerutkan keningnya.


"Entahlah..." Rara menaikan kedua pundaknya.


"Ada apa kau ketemu Rara pagi-pagi?" Rara menoleh kearah pria disampingnya.


Bhumi menghela nafasnya. "Aku mau minta maaf, atas sikap Mamah malam itu" kata Bhumi.


"Malam pesta Ulang Tahun Anggie" jelas Bhumi.


"Oh..." Jawab Rara, singkat.


"Kamu pasti tersinggung atas sikap Mamahku?" kata Bhumi. Menatap lurus kearah gadisnya.


"Gak. Santai aja kali Bhum" Rara tersenyum.


"Really?" tanya Bhumi.

__ADS_1


...✍️Bersambung ......


__ADS_2