My Love Supir

My Love Supir
Sc. 33


__ADS_3

Belum sempat Hawk bertanya dimana gadis itu mengenal kakaknya Anggie dan menanyakan namanya.


Rara telah berjalan dengan terburu-buru menjauh darinya.


"Hei. Cantik. Siapa namamu?" pekik Hawk.


"Rara" pekiknya juga. Tampa menoleh kearah pria itu.


"Beautiful name" gumam Hawk. mengawasi bayangan punggung Rara yang terus menghilang.


Di dalam ruangannya, Nico berdiri menghadap dinding yang terbuat dari kaca. Menerawang jauh melihat puncak-puncak bangunan disekitaran gedung.


Pria itu, tengah memikirkan wanita yang sempat mengisi ruang hatinya. Anggie yang tiba-tiba memutuskan kembali ke Australia. Dan menyerahkan projek kerjasama mereka kepada little brother, Hawk.


"Apakah ini semua ada kaitannya dengan apa yang telah terjadi..."


"Tuan mencariku?" tanya Rara. Yang telah berdiri dibelakang tubuh Nico.


"Sejak kapan kau berdiri disitu?" tanya Nico dengan ketus. Karena dia tidak mendengar gadis itu mengetuk pintu ruangannya.


"Baru saja. Dari tadi Rara mengetuk tapi tuan tidak menjawab. Makanya Rara langsung masuk. Maaf..." Rara menundukkan kepalanya setelah menjelaskan kepada Nico.


"Kau ini lama sekali. Aku pikir kau langsung dibawa pemuda itu ke KUA" kata Nico tersenyum sinis.


"Cih" batin Rara sebel mendengar ucapan Nico.


"Aku hanya ingin mengembalikan milikmu" Nico mengulurkan box kalung bulan sabit kearah Rara.


Rara terlihat ragu...

__ADS_1


"Kenapa kau diam saja. Ambil" perintah Nico.


"Apa maksud tuan memberi Rara kalung semahal itu?" Rara memberanikan diri menatap pria dihadapannya.


"Aku tidak butuh alasan bila ingin memberikan sesuatu" Nico menatap intens kearah Rara.


"Baiklah...kalau kau menolak. Akupun tidak butuh benda ini" Nico melangkah menuju tong sampah yang ada di ruangan kantornya.


"Stop! Jangan! " cengah Rara.


Nico tersenyum tipis dan meletakkan box kalung itu diatas meja kerjanya.


Rara mendekat ke-meja dan mengambilnya. "Dari pada dibuang" gumam Rara pelan.


Ehem


"Aku sudah melupakannya" sambar Rara cepat dan tegas menjawab ucapan Nico.


"Kalau tidak ada yang tuan butuhkan lagi, Rara permisi" ucap Rara melangkah dengan terburu-buru keluar dari ruangan pria itu.


Rara memegangi dadanya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, setelah ia berada didepan pintu luar ruangan kantor Nico.


Bila mengingat kembali ciuman pertama, kedua dan ketiganya yang diambil paksa oleh orang yang sama.


"Nona Rara. Sedang apa kau disini?" tanya Leon.


"Oh my God" Pak Leon. Ngagetin Rara aja. Rara mengusap dadanya dan buru-buru meninggalkan Leon.


"Ada apalagi dengan mereka"

__ADS_1


"Masuk" kata Nico. Setelah mendengar suara asistennya itu mengetuk pintu.


"Tuan muda Hawk sedang menuju kemari, tuan" kata Leon.


"Nico..." kata Hawk dengan suara lantangnya merentangkan kedua tangannya berjalan kearah Nico.


"Tidak berubah" batin Leon. Tetap dengan ekspresi datarnya.


Nico buru-buru menghindar. Melihat Hawk yang ingin memeluknya.


"No problem" kata Hawk tertawa karena Nico menghindarinya. Lalu memilih untuk duduk di sofa.


"Bagaimana dengan kuliahmu. Berandalan kecil, lancar?" tanya Nico.


Melangkah menuju arah sofa dan duduk disana.


"Lumayan. Sebentar lagi S-2 ku selesai" balas Hawk tersenyum.


"Setahuku kau tidak tertarik dengan dunia bisnis" kata Nico.


"Anggie memaksaku untuk kembali, menggantikan posisinya. Kebetulan sekali aku juga rindu sekali dengan Jakarta" kata Hawk, lagi.


Menghela nafasnya.


"Aku harap kau tidak mengecewakan Anggie dan betah disini" kata Nico.


"Hem. Sepertinya aku akan betah disini" Hawk tersenyum penuh arti.


...✍️Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2