
Saat memasuki ruang kerja Nico, Leon dikejutkan oleh kehadiran seorang wanita.
"Nona Anggie. Sejak kapan anda berada disini? Bukankah pertemuan hari ini sudah dibatalkan?" Leon mengerutkan keningnya.
"Baru beberapa menit yang lalu. Sejak Nico keluar dari kantor" balas Anggie santai, sambil tersenyum menatap asisten Nico tersebut.
"Aku sengaja mengantarkan langsung proposal kerjasama dengan perusahaan Donz" urai wanita itu lagi.
"Oh...iya, Leon. Aku sempat melihat Nico keluar bersama dengan gadis manis yang imut itu. Siapa dia?" tanya Anggie penasaran.
"Gadis yang waktu tempo hari ada didalam ruangan ini saat pertama kali aku datang" ucap Anggie lagi.
"Dia supir pribadinya Nico" jawab Leon. "Namanya Rara" terang Leon.
"Bila maksud kedatang Nona ingin bertanya tentang Rara, mungkin sebaiknya bisa ditanyakan langsung kepada Nico" ucap Leon dingin.
"Come on Leon...kau jangan terlalu formil begitu denganku" rajuk Anggie pura-pura.
"Aku datang kemari sengaja ingin berbicara denganmu. Kemaren itu aku belum puas berbincang denganmu" Anggie menatap intens Leon.
"Kau tau__A_aku masih menyukaimu" menatap wajah pria tampan yang kini berdiri dihadapannya.
"Nona. Saya masih banyak pekerjaan, jadi mohon maaf" balas Leon dengan wajah datarnya.
Anggie tersenyum sinis menatap pria itu "Sampai kapan kau mau menjadi orang suruhannya Nico?"
__ADS_1
Baik Anggie maupun Leon detik itu juga saling menancapkan tatapan tajam.
"Kau tidak perlu membuktikan kesetiamu pada keluarga Donzalles atas kesalahan yang telah Daddymu lakukan, Leon!"
"Kau tidak perlu ikut campur dalam urusan ini Anggie" Leon menatap tajam wanita dihadapannya.
"Aku berhak ikut campur. Karena alasan inilah kau menolak aku. Karena kau tau Nico mencintai aku. Begitukan?" jerit Anggie.
Lalu wanita itu berdiri dari sofa menuju pintu diruang kerja Nico. Namun langkahnya terhenti tepat didepan pintu...
"Anggie. Semoga cintamu berlabuh orang yang tepat" Leon menatap lurus punggung Anggie yang bergetar.
Leon tau wanita itu sedang menahan tangisnya.
Anggie tetap diam pada posisi membelakangi pria yang sangat ia cintai itu.
Kemudian keluar dari ruangan Nico tampa sepatah katapun.
Leon mengusap kasar wajahnya setelah kepergian Anggie.
...🍀🍀...
"Tuan kita sudah sampai" Rara melepaskan seatbelt lalu turun dari mobil, untuk membukakan pintu penumpang bagian belakang.
Nico merenggangkan otot-ototnya. Sesaat terdengar__
__ADS_1
"What?" pekik Nico, mengedarkan pandangan.
"Kenapa tuan" Rara tersentak kaget mendengar pekikan Nico.
"Apa tuan tidak tau tempat ini?" Rara mengerutkan keningnya.
"Tentu saja aku tau" Nico menatap tajam wajah Rara yang melongok sedikit dari jendela.
"Kalau begitu. Mari...tuan" Rara melebarkan membuka pintu mobil bagian belakang, mobil mewah itu.
"Tidak mau" sentak Nico.
"Ayolah...tuan" Rara terus membujuk tuannya.
" Oh...no...non voglio" (oh...tidak...saya tidak mau) tolak Nico sekali lagi. Memandang Rara dengan geram.
"Apa gue seret paksa aja ya...Ni orang " batin Rara.
"Ayolah...tuan. Kadung udah disini. Masa gak mau tuu_ruun" Rara menarik paksa Nico dari jok belakang sambil menahan senyum.
Rara terus menarik tangan Nico, sesekali ia mendorong tubuh Nico dari belakang. Karena pria itu menahan langkahnya.
"Oh my God...ternyata kau kuat juga " batin Nico. Tertawa geli dalam hati.
Namun pria itu terus mengumpat pelan dalam bahasa Italy. Sehingga sempat menarik perhatian beberapa pengunjung lainnya.
__ADS_1
Namun Rara tampak cuek. Sesekali gadis itu cemberut karena Nico terus saja menolak. Sesekali pula terlihat mengulum senyumnya.
...✍️Bersambung ......